
Ken murka, ia muak dan jijik pada dua makhluk dihadapannya. Ia menarik Amber yang tengah sibuk menutup dirinya dengan selimut. Menatap tajam Amber dan memaksa wanita itu agar berdiri disampingnya.
"Tatap aku Amber!" Untuk pertama kalinya ia membentak Amber. Tubuh wanita itu pun terkesiap dibalik selimut. Ken benar-benar murka. Ken melihat mata Amber yang berkaca-kaca menatap Ken.
"Pakai baju mu dan pulang. Renungkan apa yang sudah kau perbuat." Walau sesak. Ken mengeluarkan kotak cincin yang sudah ia siapkan tadi. Memberikannya dengan kasar pada Amber.
"Selamat hari jadi kita yang ke dua tahun, dan selamat tinggal!" Ucapan itu benar-benar dingin. Raut wajah Ken benar-benar mengeras dan menahan emosi.
"Sayang. Aku... Aku... Aku benar-benar menyesal." Amber tak bisa menahan tangisnya. Ia menangis dengan air mata yang mengalir deras dari mata indah itu.
"Kak. Aku akan menjelaskannya." Mendengar suara Carl, membuat Ken langsung berbalik dan memberikan pukulan keras diwajah Carl. Mengabaikan teriakan Amber dan Ken memberikan tambahan untuk Carl, sebuah tamparan yang begitu panas dipipinya. Ken masih waras, bagaimana pun Carl adalah adiknya, ia tak mungkin menghajar Carl secara membabi-buta dan membiarkan Carl mati ditangannya. Tidak, Ken tidak seperti itu.
"Pakai baju mu bodoh! Grandma Sophia meninggal! Kau benar-benar mengecewakan ku!" Ken merasa muak didalam kamar ini, ia berjalan terlebih dahulu keluar kamar. Mengabaikan wajah syok Carl dan pastinya Amber pun melakukan hal yang sama. Syok dengan ucapan Ken.
Semenjak itu, sosok Ken berubah, ia menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Ia tak tersentuh dan selalu meluapkan amarahnya pada apapun. Tangannya terbuka pada setiap wanita yang menghampirinya, melakukan One Night Stand dengan siapapun yang menarik bagi Ken. Namun diri Ken belum puas sepenuhnya, ia tertarik pada satu kejadian besar lainnya.
Amber dikabarkan hamil, namun Carl menolak untuk bertanggung jawab, ia menegaskan bahwa saat itu Carl mengenakan pengaman. Bukannya mencari jalan keluar, Carl memutuskan untuk pergi ke Kanada, menyusul cinta sejatinya. Valerie. Membuat Amber yang tengah hamil muda itu pergi kembali ke Brazil, tanah kelahirannya.
Ken cukup puas dengan karma yang mereka dapatkan. Namun ia butuh lebih.
"Bagaimana jika aku membuat wanita itu hamil dan meninggalkan saat itu juga." Gumam Ken sambil menyesap kembali wine.
"Kau mengatakan sesuatu?" Tanya Wild, seorang CEO diperusahaan Jilp Group.
"Aku hanya bergumam, wanita itu cantik." Ken dengan santainya menunjuk Valerie yang sedang berjalan diatas sana, melangkah dengan berani dan menggoda dihadapan semua orang, raut wajah sombong itu begitu terlihat saat ia menatap kamera yang membidiknya. Bergaya dengan cepat dan kembali berjalan memutar digantikan model lainnya.
"Valerie. Dia benar-benar cantik bukan? Wanita itu bagaikan malaikat yang nyata. Tapi aku sangat yakin, tidak ada wanita yang akan menolak sang Cassanova seperti mu. Ayo dekati wanita cantik itu. Aku dengar dia anak dari Justin Alfranz. Keluarga Franz sederajat dengan diri mu bukan?" Goda salah satu pria lain.
Ken tersenyum miring. Walaupun setelah 3 tahun ini kejadian itu sudah menjadi kenangan, dan Carl pun sudah berani menyapanya, Ken dengan senang hati menerima permintaan maaf Carl dan mereka hidup bagai adik kakak yang normal kembali. Namun, dibalik itu semua, Ken memiliki dendam yang besar. Ia ingin merasakan sehebat apa seorang Valerie diatas ranjang. Sedikit ingin tahu apa saja yang sudah diajarkan Carl pada Valerie. Pikiran kurang ajar itu menari indah dikepalanya.
"Welcome Valerie." Gumam Ken pelan.
Vote Like jangan lupa yaa
Thanks you
DHEA
Instagram : Dheanvta