
Senja mulai terlihat saat mereka sampai dikota. Kedua mobil itu berhenti disebuah restoran mewah. Valerie terlebih dahulu keluar dari mobil lalu disusul oleh Ken. “Apakah kau memang selalu membawa kacamata itu kemana pun?” Tanya Ken saat melihat Valerie mengeluarkan kacamata hitam dari tas tangan itu.
“Kamera ada dimana-mana, aku takut mereka semua mengenali ku. Aku tidak ingin merihat nama ku diberita.” Ken tertawa pelan seakan mengejek. Itu terlalu berlebihan dan lagi pula restoran yang mereka kunjungi adalah restoran paling terkenal dengan harga fastastis. Itu jelas-jelas bukan sesuatu yang buruk.
Alex berjalan pelan menghampiri keduanya dan mereka mulai masuk kedalam restoran. Pelayanan disini begitu patut di acungi jempol. Dari mulai penyambutan hingga makanan dipesan pun mereka begitu ramah dengan privasi yang bisa dipercaya. Mereka memilih tempat dilantai tiga. Dilantai ini menyajikan pemandangan yang begitu indah, kendaraan yang tidak terlalu padat mengingat ini adalah hari minggu. Gedung-gedung pencakar langit begitu terasa indah dan tersusun rapi berjajar ditempat yang memang seharusnya. “Bagaimana dengan kisah cinta mu Ken? Apakah sudah ada rencana menikah?” Tanya Alex tiba-tiba saat hidangan mereka mulai disajikan diatas meja.
Ken tampak sedikit tak siap dengan pertanyaan itu, sedangkan Valerie melirik sedikit demi sedikit menanti jawaban yang akan Ken keluarkan. “Untuk menikah, aku belum terlalu memikirkannya kakek. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.”
Alex mengangguk pelan tanpa dapat mengerti ekspresi yang sedang ditampilkan. “Inilah salahnya seorang pembisnis. Mereka terlalu menyepelekan hal penting itu. Aku jelaskan sedikit kepada kalian cucu ku, jika kau terlalu tua saat menikah, kau tidak akan melihat cucu kalian. Lihat aku, sebelum 25 tahun aku sudah memiliki Justin, dan apa yang ada dihadapan ku sekarang? Cucu ku sudah besar dan sebentar lagi akan menikah.”
“Aku masih muda Grandfa! Tidak perlu menikah cepat-cepat seperti ini.” Sahut Valerie sambil melepas kacamatanya, ia tak menerima ucapan Alex yang mengatakan bahwa ia akan menikah, bahkan dengan siapanya pun ia tidak tahu.
“Astaga kalian sepertinya terlalu cinta pada pekerjaan kalian.”
“Terimakasih atas sarannya kakek. Aku akan memikirkan ucapan mu sebagai bahan pertimbangan.” Kini Ken yang menjawab, nadanya begitu ramah dan akrab. Namun wajah yang sudah terpahan dingin itu seakan kurang tulus saat tersenyum. Lebih tepatnya malah terlihat hanya sekedar senyum basa basi.
“Itu jawaban yang ingin aku dengar. Ayo, sebaiknya kita mulai makan sebelum hari semakin gelap.”
Ketiga orang itu makan dengan rapi dan hening. Yang terdengar hanya suara sentuhan sendok dan piring, itupun hanya samar. Tablemaner yang mereka pelajari benar-benar diterapkan.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah selesai dengan makanan mereka masing-masing. Hanya diisi beberapa percakapan ringan yang lebih banyak diucapkan oleh Alex. Lalu setelah itu merekapun memutuskan untuk pulang.
Sesampainya kembali dirumah Alex, mereka berkumpul sebentar dihalaman rumah. Keduanya pamit akan berpulang mengingat hari yang sudah gelap. “Selamat malam Grandfa. Kado dari ku akan aku bawa besok.” Ujar Valerie disela pelukan mereka.
“Astaga aku tak menginginkan kado apapun. Masih bisa melihat anak cucu ku saja adalah kado yang begitu indah.” Pekik Alex.
“Kakek, aku pulang, selamat malam, semoga besok dan seterusnya kau semakin berbahagia dan jangan lupa untuk istirahat yang cukup malam ini.” Kali ini Ken yang memeluk Alex.
“Aku sekali lagi berterima kasih pada mu Ken.” Ujarnya sungguh-sungguh.
“Hati-hati kalian dijalan. Apakah kalian akan satu mobil lagi?” Valerie langsung menggelengkan kepalanya sedangkan Ken menganggukan kepalanya.
“Apa maksud mu?” Tanya Valerie menatap Ken bingung.
“Aku akan mengantarkan mu, jadi tidak usah menolak. Lagi pula kita satu arah.”
Valerie mengerutkan keningnya. “Memangnya kau tahu dimana aku tinggal? Tidak usah repot-repot Ken, aku akan diantar supir Grandfa.” Tolak Valerie.
“Sudahlah Valerie, tidak baik menolak bantuan oranglain.”