The Perfect Match

The Perfect Match
Mencari



"Mengapa Amber? apa ada sesuatu dengan keluarga mu?"


Amber berbalik, ia menatap Carl dengan kesal. "Bisa kah kau berhenti berbicara dan membiarkan aku membersihkan tubuh ku agar aku bisa cepat pulang?" Bukannya menyadarkan Carl, pria itu malah menghampirinya, menahan bahu Amber agar tidak meneruskan jalannya.


"Aku bisa membantu mu Amber. Apa keluarga mu mengalami sesuatu? kau bisa bercerita pada ku, kita ini teman."


"Tidak, usaha keluarga ku masih berjalan baik. Sudahlah Carl, jangan menghalangi aku." Amber menepis tangan Carl yang ada di bahunya.


"Lalu mengapa kau melakukan ini? Kau sangat menjaga jarak dan jika tidak putus asa kau tidak mungkin melakukan ini Amber!"


"Ya! aku sedang putus asa. Perjanjian kita sudah selesai dan jangan mempersulit ku, Carl!" teriak Amber. Carl yang menatap Amber merasakan jika wanita itu tengah rapuh, amarah yang seakan tengah menutupi kelemahannya. Seketika rasa bersalah Carl muncul, ia yang sudah menodai wanita itu untuk pertama kalinya, saat mereka merasa kecewa pada keadaan, namun Carl dengan egoisnya menyebarkan jika Amber yang menggodanya. Seketika Carl tersadar, kali ini ia memeluk Amber agar wanita itu terdiam.


"Carl." lirih Amber pelan, ia sudah lelah dan ingin segera pulang.


"Bagaimana dengan kabar anak yang dulu-" seketika amarah Amber kembali meluap, ia berbalik dan tidak menunggu ucapan Carl selesai.


"Aku sudah menggugurkannya. Lagi pula kau juga tidak ingin mengakuinya bukan?" teriak Amber marah.


"Bukan begitu Amber." Amber mengibaskan tangannya.


"Bahkan kau mengatakan pada orang-orang jika kau mengenakan pengaman saat itu! Pada kenyataannya tidak, Carl! kita berdua sadar dengan resiko itu dan kau sendiri yang menenangkan ku." Amber berontak saat Carl lagi-lagi hendak menahannya.


"Jika kau tidak membiarkan aku pergi, aku akan membongkar semua kelakuan busuk mu pada Ken."


"Amber, jangan seperti itu. Aku hanya ingin meminta maaf."


"Aku sudah tidak membutuhkan maaf Carl! hidup ku sudah berbeda." Carl menarik nafasnya dan membiarkan Amber masuk kedalam kamar mandi.


Dengan perasaan yang kacau, Carl berjalan menuju lemarinya, mencari pakaian santainya dan duduk ditepi ranjang. Suara getaran didalam tas Amber membuatnya sedikit mencuri pandang pada arah kamar mandi. Perlah Carl membuka tas wanita itu, menemukan ponsel yang sudah hening tanpa getaran. Walaupun terkunci, namun Carl dapat melihat panggilan masuk itu. Amanda, 11 kali panggilan tak terjawab.


"Hallo Amber?" suara wanita itu seakan tak sabar. "Amber, bagaimana? apa kau sudah mendapatkan uang itu? bisakah kau transfer pada rekening ku sekarang juga? aku takut Earl semakin parah jika kita belum membayar diawal." Carl mengerutkan keningnya.


"Siapa Earl?" tanya Carl yang tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"Kau siapa?"


____


"Hallo sayang. Kau tidak menemukan hal mengejutkan di pagi hari bukan?" jawab Ken. Ia masih duduk santai.


"Hallo, s-sayang. Pagi ku indah, tidak ada yang mengejutkan. Ada apa?" panggilan sayang masih begitu kaku bagi Valerie, namun mendengar Ken yang selalu memanggilnya seperti itu membuat Valerie membiasakan dirinya.


"Oh tidak, aku hanya bermimpi buruk sedikit. Kau sudah bersiap?"


"Hampir selesai, aku mengabari mu hanya untuk mengingat kan agar kau tidak lupa." Suara itu benar-benar terdengar lembut dan tampak malu.


"Aku tidak akan pernah lupa sayang. Sebentar lagi aku akan kesana."


Hari ini adalah hari mereka prewedding dengan tema pakaian yang sudah ditentukan. Membuat beberapa orang sedikit bingung dengan acara yang diadakan begitu dadakan, persiapan yang mendekati hari pernikahan dan undangan yang dilengkapi barcode baru tercetak hari ini.


 ____


Guys sebenernya cerita Carl sama Amber tuh seru tau. Sesuai yang aku bilang dari awal, mereka (Ken, Carl, Amber) tuh cuma salah paham awalnya, dan sifat Carl yang agak egois ngebuat semua nya jadi berantakan. Btw Amber tuh kayak Alicia, dia buntu.


Besok kita lanjut diacara pernikahan. Jangan lupa hadiah🥰