
Sedikit peringatan dulu ya buat part ini karena ada proses lahiran.
-
Hari Kelahiran yang mereka tunggu sudah tiba, Ken menemani Valerie yang tengah berada di ruangan operasi, posisi bayi yang tidak sesuai membuatnya harus melahirkan secara Caesar. Beberapa suntikan diberikan untuk Valerie, dari mulai punggung hingga paling banyak di tangan.
Pembiusan epidural membuat area perut hingga ke bawah seakan mati rasa. Tirai pembatas pun mulai terjatuh dibahu Valerie, sehingga membuat Valerie bisa merasa nyaman dan santai. Mata Ken tidak sengaja melihat perut Valerie yang mulai di operasi, sayatan tipis itu membuatnya tidak tenang, ia menatap Valerie yang tampak menahan dingin entah gugup. Ken dan seorang perawat membujuk Valerie agar tetap terjaga, Ken mulai menceritakan banyak hal dan Valerie meresponnya.
Sedangkan dibalik tirai, beberapa dokter sedang berusaha dengan kuat, hingga terlihat perut Valerie yang mulai terbuka. Seorang perawat memberikan alat untuk menghisap cairan ketuban yang keluar, lalu mencari posisi kepala sang bayi. Setelah menemukan, dokter pun mengangkat bagian kepala bayi terlebih dahulu, pada saat mengeluarkan bahu dokter bedah melakukan maneuver dengan cara membolak-balik bayi agar mudah dikeluarkan. Saat kepala dan bahu sudah selesai, semuanya menjadi lebih mudah, bagian badan bayi mulai diangkat, memotong tali pusarnya dan lalu dipindahkan pada tempat khusus bayi yang sudah disiapkan, memeriksa kesehatan bayi dan senyum Valerie pun mengembang saat bayi mungil itu tengah dibawa kearahnya, disimpan pada dada Valerie dan tidak memikirkan bagian perut yang tengah dijahit.
Rasa haru membuat Ken mencium kening Valerie langsung, sebuah pengorbanan yang begitu besar dan Ken tidak sanggup menahan air matanya. “Aku mencintai mu sayang. Sangat mencintai mu.” Bisik Ken sambil terisak.
-
Beberapa orang sudah berkumpul dengan wajah ceria mereka, ruangan seluas ini pun dipenuhi oleh orang-orang yang paling mereka sayang. Banyak pula bucket bunga dan buah yang Valerie terima.
“Gerald Franz Alvaron,” jawab Ken dengan senyum bangganya. Valerie tersenyum melihat Gerald yang tengah tertidur pulas digendongan Jessy.
Alicia mendekati dirinya pada Jessy, menatap wajah bayi yang begitu bersih dan tampan. “Lihat, kau memiliki teman sayang.” Ujar Alicia pada Earl yang sedang ia gendong. Sudah dari kemarin Earl keluar dari rumah sakit dan sudah bebas dari infus yang biasa menemani harinya. Namun beberapa pemeriksaan tetap harus ia lakukan untuk sehat dengan sempurna.
“Sepertinya aku baru bertemu kembali dengan mu Earl, kau bertambah tampan saja,” Jessy menyentuh ujung hidung Earl, membuat Earl tertawa dan langsung menyembunyikan wajahnya dibahu Alicia.
“Waktu cepat sekali berlalu, aku tidak menyangka ada dua cucu dihadapan ku,” komentar Alicia sambil tersenyum lembut. Richard dan Justin tampaknya sudah kembali dari ruangan rekan mereka yang sakit dirumah sakit ini pula.
“Hai kedua kakek menyebalkan, aku Gerald.” Jessy bersuara tampak seperti anak kecil memberikan Gerald dengan begitu hati-hati, sedangkan Richard langsung mengambil alih Earl.
“Astaga tampan sekali cucu ku ini, kau akan tumbuh tampan dan gagah seperti kakek Justin mu ini sayang,” ucapan Justin membuatnya seketika tertawa, hanya Richard yang tidak.
“Aku lebih tampan dari mu, lebih baik Gerald tumbuh seperti aku, lihat Earl, produk ku memang tidak pernah gagal, ia sangat mirip dengan Carl dan kini Gerald akan mirip dengan Ken.” Tolak Richard dengan tenang, mencium pipi Earl dan henda mencium Gerald namun Justin menjauhkannya dengan cepat.