The Perfect Match

The Perfect Match
Beautiful



Makan siangpun selesai, Valerie menghembuskan nafasnya lega, menatap danau terindah didunia yang ada dihadapannya. Mereka berdua hanya dua hari lagi berada disini. Segala kegiatan sudah mereka lakukan, namun rasa bosan tak kunjung hadir, ia merasa damai dan tentram tanpa memikirkan masalah diluaran sana.


Danau Moraine bagi Valerie tidak hanya menyajikan pemandangan yang memuaskan dimata, tetapi fenomena alam yang terjadi didanau ini terbilang cukup unik, air danau bisa berubah warna.


“Kau sedang memikirkan apa?” Tanya Ken, pandangannya tertuju pada apa yang tengah Valerie lihat.


Valerie mengangkat bahunya pelan sambil tersenyum manis. “Aku hanya senang melihat pemandangan ini, dua hari lagi kita akan pulang, kau kembali bekerja sedangkan aku hanya duduk dan berjalan-jalan kecil ditaman rumah.”


“Sayang, kau sudah berjanji untuk tidak kembali menjadi model. Lagi pula jika kau bosan dirumah kau bisa bermain ke kantor ku.” Sahut Ken, ia mengerti dengan rasa jenuh yang akan dialami Valerie nantinya, namun untuk kembali menjadi model adalah hal yang paling ditolak Ken. Jadwalnya akan padat, kedekatan dengan seorang pria pun tak bisa ia cegah, belum lagi jika berfoto dengan pakaian terbuka seperti waktu itu.


“Benarkah? Apa aku tidak mengganggu pekerjaan mu?” Tanya Valerie antusias.


Garis senyum Ken sedikit terlihat, matanya menyipit sesaat. “Mungkin sedikit mengganggu konsentrasi ku.”nada godaan itu membuat Valerie tertawa renyah, kabar tentang media seakan sudah menghilang dipikiran mereka.


“Kau ini.” Kata Valerie pelan disela tawanya.


“Apa kau sudah bosan beberapa hari disini?” Valerie menggelengkan kepalanya, melipat kedua tangannya diatas meja.


Ken terbatuk kecil, matanya bergerak pelan dan berdecak, diamnya seakan sedang merangkai kata. “Aku… sedikit bosan. Namun saat malam hari begitu menyenangkan.” Jawabnya dengan santai. Wajah Valerie seketika memerah dan menatap Ken tajam seakan memberikan peringatan, membuat Ken seketika menahan tawanya, reaksi Valerie begitu cepat dan langsung mengerti dengan apa yang ia maksud.


“Ah, sepertinya aku ingin menaiki perahu lagi.” Valerie bangkit dari duduknya, Ken yang masih duduk sambil menggulum senyum mulai ikut bangkit dari duduknya.


“Kalau begitu kita memesan perahu sekarang, sebelum kita kehabisan.” Ken merangkul bahu Valerie pelan, berjalan kecil sambil melontarkan godaan-godaan yang tak ada habisnya untuk Valerie. “Udara sepertinya mulai dingin, kau ingin mengganti pakaian mu?” Tanya Ken saat mereka baru menuruni anak tangga paling bawah. Valerie sedikit berfikir dan pada akhirnya mengangguk. Berjalan menuju kamar dan mulai memilih pakaian hangat yang cocok. Sebuah sweater tebal berwarna putih.


“Sudah.” Pekik Valerie. Ken terlihat memasukan ponselnya kedalam saku dan berdiri menghampiri Valerie, saling bertukar senyum dan kembali pada rencana awal, berjalan ketempat penyewaan perahu.


Sesampainya ditepi danau, mereka memilih perahu berwarna putih, memakai perlengkapan untuk mendayung dan Valerie terlebih dahulu duduk diujung bagian perahu. Wajah ceria itu membuat Ken ikut tersenyum, Valerie ternyata bukan wanita yang menyulitkan, ia ceria dan tak memperpanjang segala masalah yang tengah mereka hadapi. Ken mengeluarkan ponselnya ditengah danau, mengarahkan kamera ponselnya dan memotret keindangan alam yang disertai wanita yang beberapa hari ini berhasil mendapatkan hatinya.


“Beautiful.” Gumam Ken pelan, menyimpan kembali ponselnya dan mengayuh perahu dengan tenang.