
Selama diperjalanan Valerie terdiam, hingga sampai didalam rumahpun ia langsung masuk kedalam kamarnya. Perkataan Carl seakan mempengaruhinya, sepanjang makan malam Valerie memperhatikan Ken yang tak pernah tersenyum pada dirinya, bahkan satu pesan pun tidak ia terima selama perjalanan tadi.
Tanggal pernikahan mereka benar-benar dipercepat, hanya dihitung hari dan persiapan yang sudah mulai diperbincangkan.
Ken melangkah masuk kedalam mansionnya, hanya helaan nafas yang ia keluarkan. Sekarang apa yang harus ia lakukan? Setelah rencananya gagal ia malah terperangkap pada masalah rumit. Ia akan segera menikah dan hidup berdua dengan Valerie. “Tidak masalah Ken, anggap saja kau mendapatkan seseorang untuk penghangat ranjang mu.” Gumam Ken, tidak ingin menambah beban pikirannya, ia hanya mencoba menerima, lagi pula Valerie wanita yang cantik dan tidak membosankan.
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, Ken berjalan menuju sebuah mini bar yang ia punya, menenangkan pikirannya dengan beberapa gelas wine mungkin akan melegakan. Baru saja ia menuangkan wine kedalam gelas, ponselnya berbunyi.
-Kak, apa besok aku kita bisa bertemu? Ada yang ingin aku bahas.-
Ken berdecak pelan, tersenyum miring lalu menyesap wine yang ada digelas genggamannya. Dalam hati Ken ia benar-benar kagum dengan Carl, ia ternyata masih memanggilnya dengan sebukan ‘kak’. Bukan kah sangat baik hati?.
-Aku akan menunggu mu di kantor.-
Ken mengirim pesan dengan cepat, menyimpan ponselnya di samping botol wine dan kembali menyesap nya dengan perlahan. Pikirannya melayang dan membayangkan apa yang akan Carl bicarakan, memohon? Membual? Atau memakinya?. Yang jelas Ken sudah tidak sabar menanti hal itu.
-
Valerie menampilkan wajah cemberut, seorang wanita turun dari mobil dan sudah bisa ditebak sebuah koper besar ada dibelakang bagasi. Wajah wanita itu sama cemberutnya dengan Valerie, tangan Valerie terbentang tidak terlalu lebar saat wanita itu berlari kearahnya.
“Ella, sampai bertemu dilain waktu.” Ujar Valerie, mengusap punggung Ella dengan begitu pelan. Kini ia hanya bisa mengenang semua cerewet Ella. Tampak mata itu mulai berkaca.
“Aku pasti sangat merindukan mu.” Ella tampak sudah terisak, “Jangan lupa untuk selalu minum air putih dan vitamin mu, jaga kesehatan mu.” Valerie mengangguk pelan dan melapaskan pelukannya.
Ini semua adalah kesepakatan yang sudah ia setujui bersama Justin, ia meninggalkan profesinya sebagai model, sudah hilang semua apa yang sudah ia capai. Apalagi membayar denda kontrak yang begitu besar membuatnya sedikit pening, dan mau tak mau ia memberhentikan Ella, memulangkannya kembali ke Kanada. Lalu apa kesibukannya sekarang? Valerie akan belajar menjadi seorang manajer, saat ia sudah menikah nanti Ken sendiri yang akan mengajarinya. Ia hanya bisa berharap jika Ken akan kelelahan dalam mengajari Valerie dan membiarkan dirinya untuk menjadi istri yang baik dirumah. “Aku sudah tidak membutuhkan itu lagi Ella, terima kasih untuk pekerjan mu yang begitu baik, gaji dan bonus untuk mu sudah aku transfer. Jaga dirimu juga baik-baik.”
“Kau juga harus tetap menjaga kesehatan mu Valerie. Senin depan aku mulai kembali bekerja membantu make up artist, jika kau berkunjung ke Kanada jangan lupa untuk menyapa ku.” Ella benar-benar menangis, ia tak bisa menahan air matanya. Dalam sekejam setelah ia dilanda kebingungan kerena tidak bertemu Valerie saat sore kemarin, malam hari nya ia menerima kabar Valerie mengunduran diri menjadi model dikarenakan suatu hal.
---