The Perfect Match

The Perfect Match
Kalung Indah



Malam telah tiba, Valerie menuruni anak tangga dengan begitu pelan. Dress yang dipenuhi manik melekat ditubuhnya, dress malam yang dirancang khusus untuknya benar-benar pas dan sempurna, menambah kesan glamor.


Ponselnya berdering, nama Carl tertera dilayar ponselnya.


"Hallo, Carl."


Terdengar suara yang cukup berisik disebrang sana, suara orang berbincang dan beberapa teriakan orang yang tengah mempersiapkan semuanya dibalik panggung.


"Valerie, kau dimana? Kau akan melihat penampilan ku bukan?"


Valerie tersenyum lembut melambaikan tangannya pada Alex yang sedang duduk disofa ruang tengah.


"Aku sudah berjanji akan kesana Carl, tidak perlu khawatir, aku akan berangkat sekarang." Jawab Valerie lembut.


"Terimakasih Valerie, aku tunggu kedatangan mu."


"Ya Carl. Semangat." Ujar Valerie begitu antusias, memberikan dorongan semangat untuk Carl. Pria itu memang berhati malaikat, membantu setiap acara amal tanpa imbalan apapun. Kadang Valerie bingung, mengapa sifat adik kakak itu terlihat berbeda jauh. Pernah sekali Valerie mendengar gosip miring tentang Kenrich, bukan hanya masalah wanita, pria itu sedikit kejam karena jika karyawan nya melakukan kesalahan ia tak akan segan-segan melemparkan pesangon dan mendepaknya hari itu juga. Mungkin bagi Ken setiap manusia tidak memiliki kesempatan kedua, itu benar-benar egois dan tidak manusiawi, tidak memikirkan bagaimana cara orang yang ia pecat memberi makan untuk keluarga kecil mereka!.


"Terimakasih Valerie, kalau begitu aku harus bersiap dulu, aku tunggu kehadiran mu. Bye, Angel." Ucapan Carl menghentikan semua pikiran Valerie tentang Kenrich. Ia kembali pada dunia nyata.


Sedikit tawa Valerie berikan atas ucapan yang menghibur itu. "Bye, Carl."


Valerie memasukkan kembali ponselnya pada tas kecil yang ia bawa ditangannya.


"Valerie, kau benar-benar cantik seperti ibu mu. Kemarilah, ada yang ingin Grandfa berikan." Dengan semangat Valerie menuruni anak tangga yang tersisa dua itu, berjalan cepat menuju Alex yang tengah mengambil sebuah kotak kayu berukuran sedang diatas meja.


Alex tersenyum lembut dan membuka kotak kayu itu dengan perlahan. Valerie hampir menutup mulutnya tak percaya, didalamnya ada sebuah kalung dengan bandol yang begitu indah.


"Milik siapa ini Grandfa?" Tanya Valerie. Kotak perhiasan itu tampak tua namun tetap kokoh.


Senyum Alex sepertinya tak pernah luntur. "Ini perhiasan keluarga kita. Dulu, ibu ku memberikannya untuk istriku saat pernikahan di kastil, namun untungnya saat ia pergi, ia meninggalkan perhiasan ini. Seharusnya, Mommy-mu terlebih dahulu yang menerima ini, tapi waktu itu aku merasa tidak perlu, kalung ini selalu mengingatkan aku tentang kesalahan ku dulu serta keegoisan istri ku, membuat aku ingin sekali membuang dan melenyapkan kalung ini. Tapi bagaimana pun ini adalah warisan keluarga, aku akan memberikannya pada mu. Terima lah."


Tangan Valerie terulur dan menolak halus. "Tidak Grandfa, jika ini sangat berharga simpan saja, aku takut mengenakan barang seberharga ini."


Alex menggelengkan kepalanya. "Kau lebih berharganya untuk aku cucu ku, terimalah dan simpan baik-baik. Ah, kau balikkan tubuh mu, biar aku akan memasangkannya." Valerie tau penolakannya hanya akan sia-sia.


Valerie memunggungi Alex, pria itu mulai mesangkan dan mengaitkan bagian ujung keduanya. Valerie menyentuh liontin kecil dengan desain indah itu. Ia tersenyum dan berbalik.


"Oh Grandfa, terimakasih, ini sangat indah."


---