The Perfect Match

The Perfect Match
Pembicaraan Santai



Makan malam berjalan dengan baik, banyak percakapan yang memojokan Justin tetang tampak keterlaluan memisahkan pasangan suami istri ini, namun bukan Justin jika ia mudah tersinggung dan menjadi bersalah, ia hanya menjawab dengan begitu santai. “Aku hanya menguji cinta mereka.” Jawabnya acuh.


Dan kini, Ken bersama Valerie berada dilantai atas, menatap halaman luas dari balik jendela rumah. “Mengapa kau memberi ku kuda putih?” Tanya Valerie sambil tersenyum pelan, senyum yang sangat ia rindukan.


“Karena aku menginginkan mu selalu mengingat masa bulan madu kita,” sahut Ken, menyentuh pelan ujung hidung Valerie dengan lembut. “Ah, aku sangat kesal saat kau percaya dan meragukan cinta ku.” Ejek Ken, wajahnya begitu tampan, mata tajamnya kini tidak melihat Valerie melainkan kandang kuda yang memang baru saja dibuat, terlihat bagaimana kandang itu masih sangat baru dan bersih.


“itu- karena aku selalu memperhatikan sikap mu dan Siena, kalian tampak bermain dibelakang ku, dan saat mendengar kau hanya menjadikan ku alat balas dendam semuanya terasa masuk akal dan hati ku sakit.” Ken mengalihkan pandangannya, menatap Valerie dengan bingung.


“Tidak ada hubungan apapun antara aku dan Siena.”


“Benarkan? Bahkan saat aku tidak ada disamping mu kau dan Siena sering bertemu, wanita itu menghampiri mu setiap hari ke kantor.” Ujar Valerie sambil memajukan bibirnya cemberut. Ia tidak menatap Ken, mengalihkan tatapannya pada balkon yang tampak menggoda jika saja udara tidak sedingin itu.


Valerie merasakan Ken semakin mendekat, ia bisa merasakan jelas nafas pria itu diatas kepalanya.


“Kau cemburu?” Tanya Ken pelan, Valerie mengangkat kepalanya tinggi, menatap Ken yang tampak tersenyum.


“Aku serius, Ken. Bahkan aku selalu bertanya sedang apa kau bersamanya.” Cicit Valerie pelan. Terdengar tawa halus dari Ken, namun pria itu semakin menunduk, mendekatkan wajah mereka dengan bibir yang hampir bersentuhan.


“Aku dan Siena tidak memiliki hubungan apapun. Aku beberapa hari ini di New York, Siena sepertinya ke kantor ku untuk menemui Ethan.”


“Pria yang aku bawa saat makan malam waktu itu.”


Valerie terdiam, ia ingat Ethan yang dimaksud, hatinya semakin lega mendengarnya. “Lalu-“ ucapan Valerie terhenti karena Ken terlebih dulu menciumnya, melesak dengan mudahnya dan membawa Valerie dalam kehangatan dan mampu menghilangkan rasa dingin jika mereka ada diluar. Setelah dirasa cukup, Ken melepaskan, menatap wajah cantik itu dengan sangat tenang.


“AKu merindukan mu, aku mencintai mu dan aku membutuhkan mu.” Kata-kata itu begitu indah bagi Valerie, Ken tampak mengedarkan pandangannya pada semua tempat yang ada dilantai dua. “Dimana kamar mu?” Tanya Ken.


Valerie menunjuk sebuah kamar yang memiliki gantungan nama didepan pintu, kamar yang dapat disimpulkan milik seorang anak-anak. “Disana.”


“Jika kita meninggalkan mereka dibawah terlebih dahulu apakah tidak apa-apa?” Wajah Valerie tampak memerah, Ken berbisik dengan suara yang begitu berat. Namun Valerie dengan cepat menganggukan kepalanya.


“Mereka akan mengerti.” Jawab Valerie dengan senyum yang penuh arti, dibalas dengan senyuman persetujuan oleh Ken. Tangan pria itu melingkar dipinggang ramping Valerie, mengiring mereka pada sebuah kamar yang belum pernah Ken masukin.


Valerie membuka pintu kamarnya. Sebuah pemandangan khas anak remaja menyambut Ken, kamar nya memiliki warna serba putih dan begitu cantik, bahkan terdapat boneka besar disudut kamar.


---


oke siap-siap 2 part ini bocil dilarang baca ya😆