
Setelah acara lelang selesai, Carl menunggu wanita itu dibelakang gedung klub. Setelah mentransfer Carl diarahnya menjemput dibelakang gedung ini, membuat Carl mau tak mau mengikuti arahan tersebut.
Tak menunggu lama, wanita itu masuk kedalam mobil Carl dengan ragu. Rasa pening seketika membuat Carl menundukkan wajahnya, memijat pangkal hidungnya, ia terlalu banyak minum dan kini efeknya terasa.
"Apa kau tidak apa-apa?" suaranya begitu lembut, membuat Carl mengangkat wajahnya dan tampak wanita itu terkesiap.
Carl terbatuk dan meminum air mineral. "Maaf, aku terlalu banyak minum. Seperti aku mulai mabuk." gumam Carl, tampak wanita itu sedikit menghembuskan nafasnya lega. "Kau ingin kita melakukan nya dimana?" tanya Carl sambil menyalakan mesin mobil.
"Dimana pun, aku akan mengikuti segala kemauan mu malam ini." ucapan itu tampak bergetar, namun berusaha dibuat setenang mungkin.
"Baiklah, Amanda." jawab Carl. "Boleh aku tahu nama kepanjangan mu?" wanita itu menggelengkan kepalanya.
"Nama ku hanya Amanda." Carl menganguk pelan, hingga sebuah perempatan lampu berwarna merah, Carl kembali memperhatikan wajah Amanda, ia benar-benar mirip dengan Amber, apakah halusinasi nya begitu dalam?.
"Kau begitu mirip dengan teman ku." tampak raut wajah wanita itu mengeras, mencoba tersenyum kecil dan hanya menatap Carl sekilas. "Ah, tapi jangan dipikirkan, mungkin aku hanya terbawa pengaruh minuman." sahut Carl.
*Flashback Off
Carl mengambil ponsel didalam celananya yang sudah bergeletak dilantai. Beberapa pesan dan panggilan dari keluarga nya kecuali Ken tertara disana. Namun kali ini, semua itu tak berpengaruh bagi Carl, ia merasa biasa, tidak ada rasa berharap jika akan ada berita batalnya pernikahan Valerie dan Ken.
Gerakan tubuh Amber membuat Carl langsung mengalihkan pandangannya pada Amber, wanita itu tengah menggeliat dan membuka matanya, tampak sedang menyesuaikan cahaya matahari yang mulai masuk melalui celah gorden. Carl dengan cepat berdiri dan berjalan menghampiri Amber, membuat wanita itu seketika beringsut dan memeluk selimut untuk membalut tubuhnya.
Melihat Amber yang sudah terduduk dan menjaga jarak, Carl dengan perlahan duduk ditepian ranjang dengan raut wajah bingung dan tak menyangka. "Amber?" tanya Carl pelan. Namun Amber tampak menundukan wajahnya.
"Amber ada apa dengan mu? kau benar-benar menjual diri mu?"
Amber tampak menatap Carl dengan ragu namun terselip rasa benci yang begitu dalam. "Ya, aku wanita seperti itu sekarang." pekik Amber keras, namun mencoba tegar. Carl menggelengkan kepalanya keras.
"Tidak, kau bahkan tidak pernah tidur bersama pria lain bukan sebelumnya?" Carl tau, rasa Amber masih seperti dulu, begitu sempit dan tidak terlihat berpengalaman, gerakannya ragu seperti mereka awal melakukan nya. Bahkan raut wajah menahan sakit Amber malam itu masih terekam, seakan wanita itu tidak pernah melakukan dengan siapa pun dalam waktu yang lama.
"Sudahlah Carl, anggap saja kau tidak mengenal ku. Kontrak kita hanya satu malam. Aku benar-benar berterima kasih kau membeli ku dengan harga yang mahal." Amber turun dari ranjang dengan selimut lebar yang masih ia genggam, mencoba berjalan kearah kamar mandi sambil memunguti kembali pakaiannya.
"Mengapa Amber? apa ada sesuatu dengan keluarga mu?"