The Perfect Match

The Perfect Match
Tak sadarkan diri



Ken menjatuhkan kepalanya diatas meja bar, membuat Wild dengan paniknya langsung menyadarkan Ken. “Ken sudah mabuk berat, bagaimana ini?” Tanya nya panik. Kedua orang lainnya melihat dengan bersamaan, sudah terdengar suara racauan dari mulut Ken.


“Kita antarkan saja pulang kerumahnya, daripada didiamkan disini dan membuat keributan.” Setelah perdebatan panjang antara ketiga orang itu, akhirnya mereka setuju pada usul yang pertama, walaupun tidak enak hati harus mengantarkan Ken yang mabuk ke istrinya yang berada dimension.


-


Valerie menatap jam dinding beberapa menit sekali, rasanya begitu khawatir mengingat ponsel Ken yang tidak bisa dihubungi sama sekali, jarum jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, sudah tiga jam Ken pergi, hanya menitip pesan pada pelayan membuatkannya sup.


“Ken.” Valerie terperanjat saat telinganya menangkap suara mobil masuk kedalam halaman, ia membuka jendela kamar dan nafas legapun mulai terasa, itu benar-benar mobil Ken dan satu mobil lagi mengekori, membuat Valerie sedikit bingung dan memilih untuk memakai jubah tidurnya berlari kebawah. Dengan sangat tergesa ia menuruni setiap anak tangga dengan begitu cepat, hingga diruang tamu, pintu terbuka dan menampilkan security yang sama panik nya tengah memberikan jalan masuk.


“Ada apa ini?” Tanya Valerie, ketiga pria yang tidak ia kenal itu terlihat kebingungan saat akan menjelaskan.


“Dimana kamar kalian?” jawab pria yang sedang merangkul Ken. Valerie dengan cepat mengarahkan nya pada kamar mereka, dan dengan susah payah dua orang membantu Ken untuk menaiki anak tangga. Tubuh besar itu dihempaskan begitu saja diatas ranjang.


“Ken- Mabuk?” Tanya Valerie bingung.


“Aku sangat menyesal telah mengajak Ken bergabung, aku tidak mengira Ken akan mabuk seperti ini.” Ujar salah satunya dengan wajah menyesal, dengan raut wajah yang sedikit kecewa Valerie memaksakan senyum tipis dan mengangguk lemah.


Wild menatap Evan dengan wajah yang sulit diartikan sebelum mereka masuk kedalam mobil. “Kenapa kau berbohong? Bukan kah Ken datang sendiri dan mabuk?”


“Aku tidak tega melihat wanita secantik itu harus ditinggal dimalam pertama mereka, apalagi suaminya yang bodoh itu memilih mabuk dan menonton hiburan yang tidak sebanding.” Evan terdiam sesaat dan melanjutkan ucapannya. “Oh, astaga, aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikir Ken, istrinya sangat cantik dan jika aku menjadi Ken tidak akan pernah aku tinggalkan sedetik pun.”


“Sudah lah, kau tidak akan pernah menjadi Ken, lebih baik kita pulang sekarang.”


-


Valerie menghembuskan nafasnya kasar, dengan perasaan yang sesak, kecewa, sedih dan tidak tega bercampur jadi satu. Valerie membantu Ken melepaskan jas, dasi dan sepatunya. “Astaga sulit sekali.” Pekik Valerie, semua kancing kemeja sudah ia lepas, namun saat ingin melepaskannya dari tubuh Ken, Valerie menjadi tidak kuat dan memilih menyerah sambil memberikan selimut tebal untuk Ken.


Dengan cemberut, Valerie mengelilingi ranjang dan ikut masuk kedalam selimut, memeluk Ken tanpa memperdulikan bau alkohol yang sedikit tercium oleh Valerie, berkumpul bersama teman memang selalu berakhir begini, bukankah minuman sudah menjadi hal yang wajar jika sedang berkumpul? Kata-kata itu menjadi obat penenang Valerie, ia meyakinkan diri jika ini masih wajar, Ken terlalu banyak minum hingga lupa waktu.


---