The Perfect Match

The Perfect Match
Tidak Sesuai



Carl tiba disebuah halaman rumah yang begitu ia rindukan, dengan langkah yang girang karena diberitahu akan mendapatkan kabar bahagia membuat Carl begitu antusias menemui keluarga nya terlebih dahulu saat tiba di Los Angeles. “Hai sayang, apa kabar mu?” Sambut Alicia sambil memeluk tubuh Carl yang baru saja masuk kedalam rumah.


“Mom, aku merindukan mu. Aunty Jessy? Aku baru tahu kau ke Los Angeles.” Sapa Carl melihat Jessy yang baru keluar dari ruangan belakang.


“Apa Valerie tidak memberitahu mu Carl?” Tanya Jessy ramah sambil membawa gelas berisi jus di tangannya. Percakapan mereka pun berlansung ringan, hanya menanyakan kabar dan beberapa kesibukan Carl selama di New York.


“Kau sudah makan siang sayang?” Tanya Alicia. Carl pun mengangguk dan tersenyum manis layaknya anak laki-laki yang baik.


“Sudah Mom, aku makan siang didalam pesawat. Ah ya, sejak kapan kakak sakit?” Tanya Carl tiba-tiba. Alicia mengerutkan keningnya.


“Siapa yang mengatakan kakak mu sakit?” Tanya Alicia bingung.


Carl menatap ragu kedua wanita yang tengah memandangnya bingung. “Kakak yang mengatakannya, bahkan kakak tidak bekerja hari ini. Sekarang aku akan kesana melihat kondisinya dan memberikan barang titipan dari temannya di New York.”


Raut wajah Alicia seketika panik, “Astaga, Ken selalu menyembunyikan kesehannya.” Pekik Alicia, Jessy menenangkannya dan mengelus pelan bahu Alicia. “Ini yang aku tidak suka jika anak-anak ku memiliki rumah sebelum mereka menikah. Aku tidak mengetahui kondisi mereka.”


“Tenanglah mom, kakak sepertinya hanya kelelahan saja.”


“Mom tidak bisa tenang, Ken selalu bekerja tanpa mengenal waktu!” Jessy mengerti perasaan Alicia, ia semakin menambah tenaganya saat menepuk bahu Alicia.


Alicia menganggukkan kepalanya dan menatap Carl. “Sayang, sebaiknya kau istirahat, kau pasti lelah. Biar mom yang mengantarkan barang titipan untuk kakak mu.”


-


Ken mengulurkan tangannya, dengan raut wajah yang ragu Valerie menerima uluran tangan Ken. Ini adalah kesempatan terakhir untuknya dalam memperlihatkan perjuangannya selama ini, hatinya masih sama, ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Ken sudah mengeluarkan semua perasaannya, dan moment ini yang selalu ia tunggu.


Valerie berjalan mengikuti Ken, masuk menuju kamar pria itu. ‘Kau pasti bisa Valerie, hanya melakukannya sekali dan kau akan mendapatkan pria ini.’ Kata itu berulang dalam batin Valerie, perasaan yang teramat senang namun terselip rasa ragu didalamnya. Ken mencintainya, bahkan berjanji akan membatalkan perjodohan itu. Mereka akan bersama dan seharus ini yang Valerie tunggu, namun dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia menolak, rasa yang teralu seperti mimpi dan tidak pas. Seperti hanya sandiwara namun ia menikmati.


“Ken.” Cicit Valerie saat Ken menarik tangannya dan menaruh Valerie ditepi ranjang. “Aku…” Belum sempat Valerie berbicara, Ken menutup mulutnya dengan satu jari. Pria itu menggelengkan kepalanya.


“Tenanglah, kita sama-sama mencintai bukan?” Valerie terdiam, ia meneguk air liurnya, jantungnya berdebar tak karuan, ini adalah pertama kali untuknya. Ken terlihat tersenyum tipis, tangannya terulur mengelus rambut Valerie yang lembut. “Aku mencintai mu, aku sudah membuang ego ku untuk mengatakan perasaan ku, Valerie.”


Ucapan Ken terasa lembut, wajah mereka berdekatan, entah siapa yang memulai kini keduanya larut dalam buaian, sentuhan pria itu membuatnya kehilangan akal, saling memperdalam ciuman dan mencari titik yang mereka cari.


---


Waduh jadinya gimana nih? rencana Ken bakalan gagal🤧