The Perfect Match

The Perfect Match
Bimbang



Valerie menunjuk sebuah pemandangan baru, untuk pertama kalinya mereka melihat secara langsung sepasang pria dan wanita tengah melakukan prewedding dikaki gunung. Keduanya tampak bahagia dan ceria. “Aku sepertinya iri dengan mereka.” Ujar Valerie sambil berbalik menatap Ken.


“Kau menginginkan foto seperti itu?” Tanya Ken, Valerie mengangguk dengan semangat. “Tapi itu sudah terlewat, kita sudah menikah.” Lanjut Ken.


“Kau bertanya seperti sedang menawari ku.” Gerutu Valerie. Ia kembali menghadap kedepan, mengayuh santai kumpulan air bening itu. Udara terasa semakin dingin saat ditengah danau, sepertinya musim dingin akan segera tiba dan membekukan danau ini. Yang Valerie tahu, disaat musim salju pun danau ini akan tetap indah, para pohon dilapisi salju halus, didalam kamar mereka mungkin akan mulai dipasang penghangat ruangan mengingat siang hari pun sudah sedingin ini.


-


Carl mengurut keningnya pelan, malam ini ia sudah bergegas kembali ke Los Angeles. Chris mengatakan ada sebuah meeting untuk film yang tidak bisa ia lewatkan. Perasaan Carl tak menentu, di satu sisi Amber belum menerimanya dan selalu mengusirnya, sedangkan disisi lain ia tidak bisa selamanya disana, ia memiliki kehidupan lain, karir yang tak bisa ia tinggalkan begitu saja. Valerie? Walaupun ada rasa sesak yang masih mengganjal, namun Carl sudah merasa biasa, seakan sudah menerima, namun rasa mengganjal yang teringat akan niat Ken.


Carl merutuki semua sikap egoisnya yang bodoh. Ia terlalu terobsesi pada Valerie dan membuat wanita itu menjadi target balas dendam Ken. Beberapa perkataannya yang mencoba menggagalkan pernikahan mereka membuat Carl bersalah, mengatakan seolah-olah Valerie wanitanya dan membuat Ken berfikir yang tidak-tidak tentu saja akan membuat kebahagian Valerie sedikit terancam. Ia hanya bisa berharap perkataan nya tempo lalu tidak berdampak apa-apa bagi Valerie.


“Menurut mu bagaimana jika aku mengatakan pada kaeluarga ku jika aku sudah memiliki anak berusia dua tahun?” Tanya Carl pelan.


Chris menggelengkan kepalanya pelan, karir yang sudah mencapai kesuksesan seakan tidak berarti bagi Carl. “Lalu kau akan membiarkan keluarga mu tahu jika tiga tahun yang lalu kau dan Amber mengkhianati Ken?” Tanya Chris pelan. Mungkin ia sedikit terkejut awalnya dengan semua kenyataan ini, namun inilah dunia yang sesungguhnya. Semua yang tidak pernah terlintas dipikiran mu akan mungkin saja terjadi.


“Aku merasakan ikatan kuat dengan Earl, kau percaya, dia menatap ku dengan segala harapannya. Aku tidak pernah seperti ini dan aku merasa jatuh cinta dengan anak ku sendiri.”


“Carl, berpikirlah dengan jernih. Aku tahu kau dan Earl memiliki ikatan batin antara seorang anak dan ayah, namun apa kau pernah memikirkan semua dampak dari rencana mu barusan?” Carl terdiam, ini yang membuatnya pening, semuanya terlambat dan terasa membebani, pilihan yang ia harus pilih begitu sulit. “Keluarga mu akan kecewa dengan mu, lalu media akan menyorot anak itu. Semua pemberitaan yang tengah beredar akan menjadi boomerang untuk mu. Para netizen akan melemparkan cacian mereka untuk mu saat mengetahui kau memiliki anak dari mantan pacar kakak mu sendiri.”


“Chris, kau membuat ku semakin sulit.” Gumam Carl, ingin rasanya ia acuh dan kembali fokus pada karir nya, namun kondisi Earl menghantuinya. Ia ingin memeluk tubuh mungil itu sekali saja, membisikan beberapa kata maaf yang tidak ada gunanya bagi siapapun. Namun hanya itu yang ingin Carl lakukan sekarang.