The Perfect Match

The Perfect Match
Surat Cerai



Dua hari sudah berlalu, kemarin pagi Ken menyusul Valerie ke Kanada, namun yang ia temui hanya lah Justin, membujuk dan bersih keras meminta Valerie kembali. Wanita itu diam didalam kamar, mencoba menahan diri untuk tidak menemui Ken, menata kembali hatinya untuk percaya dengan Ken, meyakinkan dirinya bahwa Ken tidak sejahat itu, semua kebaikannya tulus. Namun lagi-lagi rasa ragu muncul, kabar pernikahan Carl ternyata sudah diterdengar hingga ke Kanada, bersifat tertutup dan hanya kerabat yang diundang. Jika dipikir dengan logika, Ken tiga tahun yang lalu pasti begitu dendam, dan saat ini, tanpa pernah memandangnya sejak kecil, Ken tiba-tiba menyatakan cinta, membuatnya bahagia dan menikahinya, apalagi jika bukan sandiwara untuk mematahkan hati Carl? Ia hanya sekedar alat balas dendam. Jika dipikirkan dengan hati yang buta akan cinta, semua ini mungkin saja kebetulan, Ken tidak sejahat itu, ia tidak memperdulikan masa lalu, dan benar-benar telah mencintainya. Namun apakah itu mungkin?.


“Dad, kau tidak bekerja?” Tanya Valerie, Justin membawa sebuah map ditangannya, berjalan santai dengan pakaian casualnya. Justin hanya menggelengkan kepala saat melihat Valerie yang baru keluar dari kamarnya disiang hari ini.


“Tidak, Dad menyiapkan hari ini special untuk suami mu, mengirimkan surat untuknya.”


Kening Valerie mengerut, menghampiri Justin, “Apa itu Dad?”tanyanya pelan.


“Ini surat perceraian kalian.” Jawab Justin tenang, namun ini semua bagai petir disiang hari baginya. Dengan cepat Valerie menggelengkan kepalanya.


“Tidak Dad, aku tidak ingin bercerai. Mom mengatakan jika Daddy ingin melihat perjuangan Ken. Mengapa harus ada perceraian?” tanpa sadar wajah Valerie mengeras, nadanya meninggi. Memang ia pun masih ragu, hanya saja ia tidak ingin bercerai begitu saja, Ken belum terbukti memiliki niat jahat padanya.


“Ya, Mommy mu benar. Tapi aku lebih senang jika kalian berpisan.”


“Dad!” Valerie tidak membentak, lebih tepatnya memelas. Membuat Justin tertawa kecil dan mengejek wajah memelas Valerie.


“Tenang sayang, jika Ken benar-benar mencintai ku dia pun tidak akan menandatanganinya, aku penasaran dengan perjuangan apa yang akan ia lakukan untuk mendapatkan putri ku kembali.”


“Jangan secepat itu menyimpulkan sayang, kita lihat untuk beberapa hari kedepan, apakah ada pemberitaan Ken dengan wanita lain atau tidak.” Senyum Valerie mulai sedikit mengembang, Justin ingin yang terbaik untuknya, dan ia pun tidak ingin meraskan sakit untuk kedepannya jika pada kenyataanya Ken tidak tulus mencintainya. “Tapi ingat satu hal, jika ada pemberitaan tentang Ken dekat wanita lain, aku tidak akan memberikan kesempatan lagi.”


“Media selalu melebihkan Dad, jangan terlalu mempercayainya.” Bela Valerie, rasa bercampur aduk langsung memenuhi hatinya, bagaimana jika Ken benar-benar didekati wanita canti diluaran sana? Bagaimana jika Ken tergoda pada mereka?”


“Itu benar. Tapi media tidak pernah berbohong dalam hal foto sayang.”


“Pernah, saat itu ada aku, Ken dan grandfa. Tapi media hanya memotret ku dan Ken, mereka berasumsi dan menulis berita yang memojokan ku dengan Ken bahwa kami memiliki hubungan lebih.”


Justin mengerutkan keningnya samar, sedikit berpikir dan berekspresi seakan sudah mengingat sesuatu. “Ah, berita yang beberpa minggu lalu?” Tanya Justin. “Bukankah kalian memang memiliki hubungan tersembunyi sudah lama? Itu artinya media tidak terbohong, mereka hanya pandai menebak.


Valerie seketika mengatup bibirnya, hampir saja ia mengatakan jika ia tidak pernah memiliki hubungan apa-apa. Semua murni kebohongan Ken saat mereka tertangkap basah dikamar Ken, membuat Ken berbohong dengan status mereka dan berujung dengan pernikahan ini.


 


-