
“Aku kira kamar seorang model akan begitu feminim khas kamar seorang wanita dewasa, atau lebih monokrom dengan sentukan merah.” Ujar Ken.
Kamar ini begitu luas, lemari dengan pintu yang dihiasi cermin tinggi itu bagaikan dinding yang didesain khusus menggunakan cermin. Tembok putih itu memiliki serat berwarna abu yang hampir tidak terlihat, beberapa bagian dinding dihiasi berbagai plafon dekorasi yang cukup indah bagi para remaja. Pantas saja Valerie begitu polos saat itu.
Valerie berjalan kearah nakas yang berada disamping ranjang, ia mengambil sebuah bingkai foto putih yang berisikan sebuah benda kecil. “Kau ingat ini?” Tanya Valerie dengan menahan senyumnya. Ia tampak benar-benar seperti pengagum rahasia Ken.
Kening Ken tampak mengerut dan duduk disamping Valerie, mengambil bingkai itu dan menatap benda yang ada didalamnya. “Sebuah penghapus?” Tanya Ken bingung. Reaksi Valerie seketika cemberut, Ia memajang pemberiannya, namun pria itu tampak lupa dengan pemberiaannya sendiri.
“Kau melupakannya? Ini adalah penghapus yang kau berikan sepuluh tahun lalu. Kau ingat saat aku berpisah dan Carl mengambil kamera untuk pertemuan teakhir kita? Kau memberikan ini.” Ujar Valerie sedikit menggerutu, ia gemas.
Ken tampak tertawa kecil, ia mengingat kejadian itu, namun tidak terlalu mengingatnya dengan jelas. “Astaga, aku kira penghapus itu sudah habis kau gosok pada kertas-kertas pelajaran mu.” Kekeh Ken. “Kau benar-benar mencintai ku sepertinya.”
“YA! Dan kau sama sekali tidak melirik ku.” Sahut Valerie kesal.
Valerie mengambil kembali bingkai itu dan meletakkannya di atas nakas. “Sudahlah, ini tidak akan berharga bagi mu.”
“Siapa bilang? Aku akan membawanya ke Los Angeles dan menyimpannya di kamar kita, anggap saja ini adalah piala karena kau berhasil mendapatkan ku.” Bisik Ken, wajahnya begitu dekat dengan bahu, ia menghirup wangi tubuh Valerie.
Ken menyibakkan rambut Valerie dengan pelan, semakin menyusup kedalam leher jenjang dengan harus yang begitu tenang dan menyegarkan. “Aku menrindukan mu.” Bisiknya dengan bibir yang ia dekatkan pada telinga Valerie, membuat bulu-bulu ditangannya meremang dan dengan sulit menelan ludahnya sendiri.
Tangan Ken kini sudah menyapu halus punggung Valerie, menyusuri bagian kain yang menyembunyikan garis resleting dress itu. Ken menarik tubuh Valerie agar menghadap dirinya, tanpa memakan waktu lebih lama bibir mereka bertemu, berawal dengan pelan dan menghanyutkan yang semakin lama semakin panas dan mendorong mereka untuk melakukan lebih.
Tanpa Valerie sadari, dress itu sudah terasa longgar dan terjatur dari bahunya, tertahan oleh lengan atas dan langsung diturun kan oleh Ken. “Kenn.” Lirih Valerie pelan, kini Ken turun mengikuti garis bahunya, memberikan sedikit getaran yang membuat Valerie memejamkan matanya, merasakan betapa lembut dan rasa yang selalu ia rindukan dari Ken.
Perlahan Ken mendorong halus tubuh Valerie, memberikan sentuhan yang begitu memabukan bagi Valerie. Nafas Ken terasa menderu, ia berdiri dan melepaskan jas yang langsung di lempar kesembarang tempat. “Uhh.” Valerie menggenggam rambut Ken saat pria itu bermain dibagian atas Valerie, membuat Valerie mencondongkan tubuhnya semakin tinggi dan meminta Ken untuk lebih lama lagi bermain disana.