
Ken dan Valerie sudah berada disebuah perkebunan luas, berbagai sayuran dan pohon buah begitu indah dipandang, tampak segar dan sehat. Valerie mengarahkan lensa kamera pada pemandangan yang ada disana, lalu mengarahkannya pada Ken sambil mereka berjalan. “Sayang, perjalan menuju kandang masih jauh, hemat energy kita.” Ken sudah pasrah dengan hari ini, ia memakai baju koboi lelaki namun parfum lagi-lagi Valerie semprotkan dengan aroma Violet.
Valerie tersenyum memamerkan giginya, kembali menggandeng tangan Ken dan menikmati sejuknya udara disini, kamera yang menggantung dilehernya seakan tidak terasa menjadi beban, ia bahagia dan Ken pun memberikannya kamera yang terbaru.
Saat melewati kandang sapi, Valerie menatap beberapa pekerja yang sedang mengumpulkan susu sapi pada sebuah wajah stainless, mereka nampak menikmati pekerjaan mereka, raut wajah bahagia dan obrolan antar pekerja itu begitu menyejukan untuk dilihat. Valerie mengarahkan kameranya dan kembali memotret beberapa pekerja yang tampak asik.
Tanpa terasa, mereka sudah sampai disebuah kandang kuda, seseorang yang ada disana tersenyum menyambut mereka. “Selamat pagi, kami sudah menyiapkan beberapa kuda terbaik yang kami punya.” Mereka masuk dengan langkah pelan, melewati setiap pagar kuda yang begitu gagah.
“Kuda yang mana?” tanya Ken pada Valerie. Namun wanita itu terus berjalan terlebih dahulu, memilih kuda yang pas utuk Ken.
“Yang ini.” Valerie menunjuk kuda berwarna coklat tua yang begitu tinggi dan besar, ia begitu gagah dengan kulit yang begitu menghilap bersip. Kuda yang benar-benar sempurna untuk pria setampan Ken.
Orang itu membawa kudanya keluar dari kandang, menuju ketempat yang sesuai bagi Valerie. Pilihannya adalah sebuah lapang yang begitu luas. Menyajikan beberapa pohon hijau yang besar. “Ayo sayang dekati kuda itu.” Valerie terteriak sambil menjauh, ia muali memposisikan dirinya untuk menangkap detail sempurna dari Ken. Ken menarik nafasnya sebelum ia berjalan mendekati kuda yang besar itu, wajahnya mungkin hanya berjarak lima belas senti dengan wajah kuda itu. Ia menatap kamera yang sedang Valerie pegang. “Kurang dekan sayang.”
“Ini sudah sangat dekat sayang!”
“Tidak. Kau terlalu menjaga jarak dengannya. Ayo semakin dekat.” Dengan terpaksa Ken mendekati wajah kuda itu. Oh, yang benar saja, ia bahkan bisa mendengar kuda itu bernafas.
“Ayo cepat foto aku sayang.” Ken tersenyum dengan kaku, ia tidak nyaman, wajah nya tidak bisa berdekatan dengan hewan.
Ken menatap Valerie dengan tajam, ia menggelengkan kepalanya. “Aku tiidak bisa memandang siapapun dengan cinta selain diri mu.”
Ucapan itu membuat Valerie kesal dan bahagia bersamaan, ia tidak bisa menahan tawanya. “Jaga menggombal! Sudah tatap saja kuda itu, dan aku akan memotretnya dengan cepat,” ujar Valerie masih dengan sedikit tertawa.
“Difoto yang kamerin kau tunjukan dia tidak menatap kudanya, dia menatap kearah lain dan menemukan angle yang pas saat kuda itu melirik ku.” Valerie berdecak, ia akui Ken memang benar, namun ia tidak professional seperti photographer lainnya.
“Jangan berdebat, terserah kau akan bergaya apa, aku akan menunjukan hasil potret ku.” Tantang Valerie, Ken tersenyum miring dan mulai menatap tajam kearah pohon disebelah mereka, menanti Valerie memotret dan menunjukan hasilnya.
Valerie pun berjalan menghampiri Ken, menunjukan hasil potretan Valerie yang begitu indah karena terbantu kamera yang sudah diset dengan professional. Lalu Valerie kembali ketempatnya semula, kini ia meminta Ken untuk berpose atas kemauan Ken. Dan mau tak mau Ken harus menurut saat Valerie menyinggung semua ini keinginan anak mereka.
___
Hai semuanya,
Innalilahi wa innailaihi rojiun. Kabar duka dari Author hebat kita La_Sha. Mohon doa yang terbaik untuknya disana🥺 Dia orang yang sangat baik, selalu berbagi ilmu dan banyak membantu penulis baru untuk cepat maju. Semoga amal ibadah dan kebaikannya diterima oleh Allah SWT. 🖤