The Perfect Match

The Perfect Match
Sesak



“Dengar Ken, jika seorang wanita sudah menaruh hati, sebanyak apapun pria yang mendekati mereka tidak akan terpengaruh, semuanya… terasa hambar bagiku, hanya bersama Ethan aku merasakan cinta. Sudahlah bantu saja aku, aku frustasi karena Ethan selalu meminta mengakhiri hubungan ini, ia tidak percaya pada dirinya sendiri.”


Ken terdiam, ia menggerakkan rahangnya keras. Jika seorang wanita sampai mengkhianatinya itu berarti sang wanita tidak pernah benar-benar menaruh hati untuknya. Lalu, apakah ada wanita yang benar-benar jatuh hati kepada Ken layaknya Siena kepada Ethan?.


“Baiklah, mana pria tidak berguna itu, aku akan melihat dulu kemampuannya.” Ujar Ken pada akhirnya. Siena memperlihatkan gigi nya karena tersenyum lebar.


“Terimakasih Ken! Ethan ada dimobil, aku akan menyuruhnya kemari.” Siena tampak memainkan ponselnya dengan ceria.


“Kau diijinkan bersama karyawan mu kemari oleh papa mu?” Tanya Ken bingung.


“Ethan sudah bukan karyawan ku, aku memecatnya kemarin karena ia akan mendapatkan pekerjaan baru yang bagus.”


Ken berdecak. “Kau begitu percaya diri aku akan memberikannya posisi itu.” Ejek Ken.


-


Valerie meraih bantal sofa kecil untuk menutupi atas paha nya. Sorot lampu dan kamera mulai menyala. Kini ia berada disebuah acara talk show, seorang Host mulai penyambutan dengan begitu semangat kepada para penonton. Beberapa percakapan ringan mulai mereka lontarkan dan ada pula dua bintang tamu yang menemani Valerie. “Apakah benar jika antara mu dan Carl hanya sekedar sahabat?” Tanya Host itu seakan mulai pada puncak acara yang memanas. Suara candaan yang begitu antusian membuat Valerie tertawa kecil.


“Benar. Aku tidak begitu tertarik dengan sebuah status.” Valerie tertawa saat mendengar beberapa orang yang mengejeknya dengan nada bercanda jika semua yang dikatakan Valerie adalah bohong, ia hanya menutup saja agar memberikan kejutan pada semua orang jika suatu saat nanti mereka menikah. “Tidak! aku benar-benar hanya berteman. Aku sendiri hanya bisa menunggu dengan siapa aku menikah nanti.” Ujar Valerie dengan sedikit tawa.


Acar berjalan dengan begitu ramai, beberapa Tanya jawab dan tingkah jahil dari beberapa bintang tamu membuat tawa seakan tak berhenti.


Valerie menghela nafasnya saat memasuki mobil, lagi-lagi Ella memberikan minum agar Valerie tidak kekurangan cairan tubuhnya. Langit mulai tampak menggelap, ia begitu lelah dengan kagiatan yang padat. “Kau sudah memilih warna pakian sport untuk ku?” Ella menganggukkan kepalanya, besok Valerie akan mengiklankan sebuah pakaian sport dengan seorang instruktur workout yang akan ditayangkan pada YouTube, dengan judul yang sudah disepakati ’25 minute full body workout- fitness series with Valerie Franz’


“Kau ingin langsung pulang atau mencari makan malam?” Tanya Ella membuat Valerei tersadar dan menjauhkan ponselnya.


“Aku ingin pulang, keluarga ku pasti sedang menyiapkan makan malam.” Ella mengangguk dan mobil pun mulai berjalan, meninggalkan area parkiran yang luas.


Sesampainya dirumah, Valerie langsung turun dari mobil, Ella tampak melambaikan tangannya. “Beristirahatlah yang cukup. Besok aku akan menjemput mu.” Pekik Ella dengan semangat. Valerie mengangguk pelan dan mengagkat tangannya.


“Hati-hati dijalan.” Ujar Valerie pada Ella sebelum ia masuk kedalam rumah Alex.


Didalam ternyata semuanya sudah mengumpul, menyiapkan makan malam yang sudah mereka rencanakan saat pulang Valerie nanti. “Jadi apa saja kegiatan kalian hari ini?” Tanya Valerie sambil duduk di sebelah Jessy.


“Kita baru berbelanja dan menunjungi beberapa kerabat lama sayang.” Jawab Justin.


“Sayang jika besok kau pulang lebih awal apakah bisa? Sekitar jam 7 kita harus sudah bersiap.”


Valerie mengerutkan keningnya, “Memangnya kita akan kemana?”


“Besok Ken akan pulang. Aunty dan Uncle Richard akan memberitahu rencana perjodohannya dengan seorang anak pembisnis dari Inggris.” Hampir saja buah yang ia masukkan kedalam mulut membuatnya tersedak, ia syok dan tak percaya.


“Apa?! Tapi… untuk apa kita berkumpul jika Ken yang dijodohkan?” Tanya Valerie, rasa sesak tak dapat ia tahan.


“Besok ada sesuatu juga yang ingin ditanyakan uncle Richard pada mu sayang.” Jawab Justin terdengar ragu. Perasaan Valerie semakin tak menentu. “Sudah tidak perlu dipikirkan sekarang sayang. Besok kau akan mengetahui semuanya.” Justin tersenyum lembut, Valerie menatap Alex seakan meminta penjelasan, namun Alex hanya tersenyum kecil dan menganggukan kepalanya.