
Mobil berhenti disebuah rumah besar berwarna putih. Ini adalah kediaman Alex, kakeknya yang masih segar di usia yang sudah memasuki 60 tahun lebih.
"Kau langsung pulang saja Ella. Aku akan membujuk kakek ku dulu."
"Tapi sore nanti kau ada pemotretan tas dan malamnya kau harus datang ke acara lelang amal." Valerie memejamkan matanya sesaat. Tidak bisa kah ia bersama sang kakek untuk waktu yang lama?.
"Ya sudah, kau jemput aku dan bawa kan aku baju terbaik didalam apartemen ku malam nanti. Untuk pemotretan tas, kau tidak perlu pusing memikirkan itu, kakek ku yang akan mengurusnya." Valerie membuka pintu mobil. Berjalan dengan perasaan yang sudah sedikit relax berkat pijatan tadi.
Beberapa pelayan menyambut Valerie dengan wajah yang ramah, rasa rindu seakan menyusup kedalam hati. Dulu, Valerie selalu mengajak mereka bermain, berlagak menjadi seorang ratu yang dermawan. Semua itu terasa menyenangkan, mencari kebahagiaan semasa kecil begitu mudah.
"Selamat datang sayang. Cucuku satu-satunya ini memang sangat cantik." Dengan semangat dan hati yang menggebu Valerie berlari kecil, menyambut tangan Alex yang terbuka lebar. Mereka saling berpelukan hangat.
"Aku merindukan mu Grandfa." Alex terkekeh dan mengelus rambut Valerie dengan lembut.
"Kapan kalian akan pindah lagi ke LA?"
"Grandfa Jeremy masih sakit, kami tidak tega meninggalkan nya." Jawab Valerie dengan raut wajah yang cemberut.
"Aku juga sudah tua, membutuhkan kalian." Ujar Alex dengan nada yang bercanda. Namun dihari kecilnya ia benar-benar berharap seperti itu.
"Selama tiga bulan ini aku akan menemani mu, jika jadwal ku kosong. Setelah Grandfa Jemery sembuh, aku akan membujuk Daddy untuk kembali kesini."
"Terimakasih sayang. Ayo duduk, aku sudah meminta mereka semua menyiapkan makanan kesukaan mu." Valerie mengangguk senang dan mereka berjalan kemeja makan, diatas sana terdapat sebuah buket bunga yang indah dan sekeranjang buah.
"Mereka juga menyiapkan bunga untuk ku?" Kekeh Valerie geli.
"Tidak. Buket bunga dan buah ini dari Kenrich. Kau sudah bertemu dengannya? Anak itu sekarang sudah sukses dan semakin tampan saja." Seketika Valerie mematung. Bukankah Kenrich mengatakan ada rapat penting saat meninggalkan lokasi pemotretan.
Valerie menatap Alex dengan ragu. "Apa kalian rapat?" Tanyanya tak yakin.
"Ya. Padahal aku sudah mengatakan jika aku percaya pada keputusannya, tapi Ken tetap kukuh menjelaskan strategi marketing nya pada ku dan akan mengadakan rapat lanjutan jika aku sudah setuju. Dia benar-benar anak yang sopan." Valerie meneguk air liurnya. Untuk apa ini semua. Mengapa ia mendekati kakek nya juga? Sebenarnya apa yang Ken inginkan!.
"Dia sering kemari?" Tanya Valerie, berusaha meyakinkan pemikirannya.
"Bukan hanya Ken. Tapi kedua orangtuanya pun selalu mengunjungi ku. Sepertinya mereka iba melihat pria tua yang tinggal sendirian. Ah ya Valerie, kau harus selalu baik pada Carl, keluarganya sudah sangat membantu kita." Jawaban itu melegakan Valerie, setidaknya Ken datang bukan untuk menggertaknya. Namun diakhiri kalimat itu, Valerie sedikit sedih. Semenjak Franz Group ditipu oleh orang kepercayaan Alex dan meninggalkan banyak kerugian dan hutang dimana-mana, beberapa investor menarik dana mereka bersamaan membuat saham perusahaan merosot jauh. Mereka semua pindah ke Kanada atas saran Alex karena ditakutkan rumah yang mereka tempati akan diambil pihak bank seperti rumah lainnya, di Kanada Alex mengintruksikan Justin agar mendirikan pusat perusahaan baru dengan nama yang hampir sama, mereka berusaha mencari banyak investor, atas bantuan koneksi kedua orangtua Jessy yang saat itu menjadi pengacara kondang yang sudah terkenal, banyak yang membantu mereka. Saat itu Alex tak tinggal diam, ia mencari cara agar bisa mempertahankan bisnis yang sudah ia besarkan di LA, mempertahankan setiap cabang yang saat itu harus menggulung tikar.