The Perfect Match

The Perfect Match
Memainkan piano



Mereka memasuki ruangan yang lumayan besar, dipikiran Ken ruangan musik ini memiliki beberapa alat musik yang lengkap. Namun, ekspetasinya tak sesuai realita. Di ruangan yang tampak luas ini, terdapat karpet merah berbentuk bulat yang digelar ditengah ruangan itu.


Sebuah piano tua berwarna hitam masih begitu mulus dan mengkilat, membuat Kenrich tanpa sadar menggerakan jarinya pelan, sudah lama ia tak bermain alat musik itu, atau lebih tepatnya saat ia masih duduk dibangku kuliah. Piano tersebut terletak di ujung karpet merat bulat itu, dengan sebuah vas kecil diatasnya.


Mata Ken pun beranjak menatap sebuah Gramofon indah. Mungkin untuk jaman milenial sudah tidak banyak orang yang memiliki perangkat musik tua ini, mengingat sudah berkembangnya digital di dunia ini, membuat siapa pun dapat mendengar musik dengan lebih mudah bahkan kapan dimanapun musik sudah menjadi alunan yang terdengar menari ditelinga. Beberapa piringan hitam tersusun rapi disebuah box khusus, “Kau bisa bermain piano, Ken?” Tanya Alex, menyadarkan Ken yang tengah mengamati keindangan benda-benda berumur tua ini.


“Apa aku boleh menyentuhnya?” Tanya Ken. Terlihat Alex menganggukkan kepalanya dan tertawa renyah.


“Cobalah. Ini memang dibuat untuk digunakan.”


Ken dengan perlahan berjalan mendekati piano tersebut, menarik kursi kecil dan duduk dengan tegap disana. “Jika aku masih mengingatnya.” Ujar Ken dengan nada sedikit tertawa. Sudah beberapa tahun yang lalu dan Ken ragu dengan keahlian jari nya yang dulu begitu mudah menghafal setiap not.


Jari besar itu mulai menekan beberapa not dengan ringan, lebih tepatnya untuk pemanasan. Setelah dirasa cukup, Ken mulai menekan dan mengingat-ingat, namun bagaikan sudah menghafalnya begitu dalam, jemari Ken begitu lancar.


“Aku tahu lagu apa ini.” Pekik Alex riang. Walau tanpa orang yang menyanyikan, nada yang dikeluarkan sudah terasa cukup mewakilkan.


Valerie melipat kedua tangannya didada. Mulai terbawa suasana alunan nada dari lagu When A Man Loves A Women. Lagu ini begitu cocok untuk untuk seorang pria yang sedang mencintai seorang wanita idamannya. Jika tidak salah, lagu klasik ini dibawakan pertama kalinya oleh Percy Sledge pada tahun 1966. Lagu ini juga sudah diremake berkali-kali oleh beberapa musisi terkenal yang salah satunya Micheal Bolton pada tahun 1991.


Wanita itu tak dapat melepas pandangannya dari sosok Ken yang sempurna. Jika saja pria itu tak sebrengsek sekarang, mungkin Valerie akan bertambah cinta. Tanpa disadar, suara dari piano itu sudah selesai, namun mata Valerie masih saja terfokus pada sosok Kenrich.


Seakan tatapan Valerie menepuk bahunya halus, Ken langsung menoleh, membuat mata mereka bertemu dan kilatan menggoda itu lagi-lagi ditampilkan Ken.


“Ini hanya sebuah alat musik kakek.” Jawab Ken lebih lembut, jika yang berbicara adalah seorang wanita mungkin lebih tepatnya ucapan yang malu-malu.


“Tapi kau selalu menakjubkan disegala hal Ken.” Dengan tawa kecil diakhir kalimat, Alex menepuk pelan bahu Ken. Lalu seseorang datang masuk kedalam ruangan. Umur mereka tampak hampir sama. Terlihat dari keriput yang sudah tampak diwajah dan tangan mereka. Tubuh kedua nya masih terlihat sehat tanpa bungkuk yang terlihat.


Keduanya berpeluk erat dan memulai pembicaraan nostalgia. Memperkenalkan Valerie dan Kenrich. Seakan tak menyadari sosok lain, mereka berdua dengan begitu asik mengobrol di sebuah kursi sambil memasang salah satu piringan hitam tersebut. Seorang pelayan masuk dan menaruh minuman ditengah meja kaca. Membuat ruangan ini terasa sebuah café yang bertema klasik.


Ken minum terlebih dahulu minuman yang disajikan, lalu Valerie mengikutinya. Kedua orang yang sedang reuni itu benar-benar tak bisa diganggu, stock obrolan mereka tampaknya begitu panjang dan seru. Membuat kedua generasi muda itu tampak bosan ditempat mereka, “Apa kau baru mengetahui bahwa aku bisa memainkan piano?” Tanya Ken yang terlebih dahulu membuka suara.


“Tidak. Mengingat kekasih mu yang banyak itu, mungkin kau belajar untuk menarik mereka menggunakan alat musik semenjak remaja.” Ken tak tahan untuk tidak tersenyum.


“Bukan untuk kekasih. Lebih tepatnya untuk Mom-ku, yang saat itu ulangtahun dan lagu itu menjadi lagu paling ia sukai pada saat ia remaja.” Ken berkata tanpa melihat wajah Valerie, pria itu fokus pada kedua kakek tua yang sedang asik bercengkrama. Baiklah, mungkin dibalik sikap brengsek Ken ia masih memiliki hati untuk kedua orangtuanya.


___