
Alex masuk kedalam rumah, ia tertawa kecil melihat ruangan yang minim cahaya ini, ada beberapa orang yang berdiri. “Ayolah, tidak usah memberiku kejutan seperti ini, aku sudah tua.” Tawanya begitu renyah dan bayangan beberapa orang terlihat jelas, hanya saja wajah mereka tidak begitu jelas dipandangan Alex.
Seketika lampu ruangan menyala, wajah Alex yang tadinya biasa karena sudah bisa menebak, kini membolakan matanya, tirai gorden pun terbuka menambah keterangan yang ada didalam, ditambah suara kerompet kecil itu. Seketika itu pula Alex menutup mulutnya, ia kini menahan air matanya.
“Happy Birthday!”teriak semuanya. Alex tak menyangka akan menemukan wajah dua orang yang sudah ia rindukan. Jessy dan Justin beranjak memeluk Alex, mencium pipi anak dan menantunya.
-
Sementara dilokasi shooting, Carl menatap berita itu dengan hati yang panas. Ternyata suara pria ditelepon adalah suara Ken, mereka berdua kemarin bertemu. Untuk apa?. Hingga siang ini pun Valerie belum memberikan komentar apapun mengenai berita itu.
“Sial!” Gumam Carl. Jika ia sedang berada didalam kamar mungkin ia sudah memecahkan gelas yang ada ditangannya.
Kini waktu sudah menunjukan pukul 2 siang, ia memberikan pesan singkat pada Valerie, namun hanya centang satu yang ditampilkan, Valerie mematikan ponselnya. Hingga hampir setengah jam berlalu, centang itu berubah menjadi dua. Tanpa pikir panjang, ia langsung menelfon Valerie, hatinya tak tenang dan beberapa pikiran buruk menghantuinya. Bayangan murka Kenrich yang begitu marah saat memergokinya masih terekam jelas, ia takut dan tak ingin Ken melakukan sesuatu pada Valerie. Carl sudah mengorbankan semuanya untuk mendapatkan Valerie, ia tidak ingin Ken yang sampai mendapatkan Valerie! Tidak sampai kapan pun!
“Hallo Carl.” Suara Valerie terdengar santai, terdengar pula beberapa orang berbincang disana.
“Kau sudah membaca berita? Foto mu dan kakak ku keluar dari mobil lelang itu tengah menjadi perbincangan hangat.”
“Apa?! Astaga, sebentar aku lihat dulu.” Tak sampai beberapa menit Carl mendengar suara geraman dari Valerie. “Ini foto saat aku makan di restoran, ada Grandfa juga sana, kita berbeda mobil.”
“Lalu kalian satu mobil?” Tanya Carl pelan dan hati-hati.
“Ya sudah kau tenang saja. Aku akan membantu mu menenggelam kan berita ini.” Ujar Carl menengkan.
Panggilan pun terputus, Carl dengan cepat membuat live di sosial medianya. Ia bertekad bagaimana pun tidak boleh ada berita mengenai Valerie bersama pria lain.
-
Valerie mengerutkan keningnnya. Membaca setiap komentar pendukung dan beberapa kata pedas dari fans Carl. ‘Wah, disaat Carl tidak ada di LA, Valerie malah berkencan dengan laki-laki lain.’ Ada pula yang seperti ini, ‘Bukannya Kenrich sudah berkencan dengan Siena? Apa mereka saling berselingkuh dibelakang pasangan mereka? Astaga.’ CUKUP! Valerie kesal dengan komenan semua yang memojoki dirinya.
“Ada apa sayang?” Tanya Jessy saat melihat Valerie yang sudah terlihat tidak mood dengan ponselnya. Valerie menggelengkan kepalanya dengan malas.
“Tidak ada apa-apa mom. Aku hanya sedang membaca hasil tulisan para haters ku.” Jawab Valerie lesu.
“Itu sudah menjadi resiko untuk mu sayang. Jangan terlalu diambil pusing. Lebih baik kita makan dan bergabung disana.” Valerie akhirnya mengangguk pelan dan bergabung dengan keluarga besar yang mampu membuatnya tersenyum dibandingkan harus memusingkan berita tentangnya diluaran sana.
Yang membuatnya kesal adalah karena beberapa orang memojokannya. Mengatakan dengan terang-terangan seakan ini adalah salahnya Valerie, banyak yang menudingnya berselingkuh bahkan dirinya saja tidak memiliki kekasih! Bagaimana jika nantinya ia akan menemukan pria yang tepat dan memutuskan untuk menikah, apakah bukan kata selamat yang ia dapatkan? Melainkan kata cacian yang mengatakan jika ia meninggalkan Carl dan dengan teganya menikah dengan pria lain? Sungguh ironis.
---