
Carl mengerutkan keningnya, ini sudah ketiga kalinya ia melihat dokter masuk kedalam gang itu. Bahka Carl sudah dapat menebak saat dokter itu pulang Amber selalu menemaninya sampai ujung gang.
Pikiran Carl berkecamuk, ada dua hal yang ia curigai. Ada orang sakit didalam sana, atau Amber menjadi simpanan dokter itu. Earl, nama itu melintas seketika, apa pria itu yang dimaksud?.
"Carl, jika kau memang menginginkan informasi lebih, temui saja dokter itu dan berikan uang yang cukup untuk menutup mulutnya." ujar Chris, teman yang merangkap menjadi asisten nya. Sudah beberapa hari ini mereka seakan menjadi detektif, hanya mengawasi dan menerima informasi dari luar.
"Wanita itu adalah mantan dari kakak mu, sedangkan kakak mu sudah menikah. Untuk apa lagi kita menggali informasi tentangnya?"
Carl berdecak dan menatap Chris dengan wajah tidak suka, mood nya tidak stabil. "Bisa kah kau tutup saja mulut mu itu? aku membayar mu hanya untuk menemani ku, jangan banyak bicara."
"Aku hanya memberi mu saran. Turunkan sedikit ego mu dan bertanyalah. Beberapa hari lagi kau akan memulai peran film adaptasi novel, persiapkan diri mu, bukan menjadi detektif seperti ini." gerutu Chris.
Tak sampai satu jam, dokter itu mulai keluar dari gang, Amber tersenyum sampai di ujung gang kecil, wanita itu tengah mengenakan pakaian kerjanya yang formal, rambut panjangnya di ikat kuda. Bahkan penampilan Amber begitu berbeda dengan tiga tahun lalu yang begitu update dengan fashion terbaru.
Setelah dirasa aman dan Amber sudah kembali masuk kedalam rumah yang tak jauh dari gang, Carl bersiap, memakai masker dan kacamata lengkap dengan topinya. Ia keluar dari dalam mobil, berlari kecil untuk menyebrang dan memanggil dokter itu untuk tidak masuk kedalam mobilnya. "Permisi, boleh aku bertanya sesuatu pada mu?" tanya Carl langsung pada intinya. Dokter itu tersenyum lembut walau terlihat raut wajah kebingungan yang begitu ketara.
"Ya? apa kau mengenal ku?" Carl menggeleng kepalanya, pandangan yang selalu tak tenang jika diluaran, ia takut ada yang mengenali dirinya.
"Wanita yang bersama mu tadi, apakah dia sakit?" kini raut wajah dokter itu tampak menilai Carl, dengan ragu ia menatap Carl fokus.
"Maaf, aku menjaga setiap informasi pasien ku." Carl berdecak, ia benci orang seperti ini. Mempersulit semua yang ia inginkan.
"Kau meninggalkan paper bag ini."
"Tidak, Amber. Aku sengaja membelikan mainan untuk Earl, dia pasti menyukainya." jawab dokter itu dengan lembut. Carl membuang wajahnya, mencoba agar Amber tak mengenalinya.
"Oh, tidak perlu Dr.Sean. Kau sudah banyak membantu ku."
"Aku menyayangi Earl, dia anak yang kuat. Jangan menolak pemberian ku, Amber." pria itu benar-benar lembut dan mampu mengambil hati para wanita, dan itu membuat Carl muak, ia berbalik dan hendak menyebrang, namun perkataan dokter menyebalkan itu membuat Carl geram. "Amber, apakah dia teman mu? dia menanyakan dirimu tadi."
'Sial' gerutu Carl, semuanya kacau, Amber mengenalinya. "Carl?!" panggil Amber yakin. "Dia teman ku."
"Kalau begitu aku harus kembali kerumah sakit, jaga diri mu baik-baik."
"Ya, Dr.Sean. Terimakasih sekali lagi." Setelah mendengar suara mobil yang melaju, Carl ingin rasanya menggeram, Amber menghampiri nya. "Apa yang kau lakukan disini?! Ba-bagaimana bisa kau menemukan ku?" Carl bergerak ragu, jalanan yang mulai ramai membuatnya panik dan takut, ia tidak bisa memastikan kamera dan orang-orang yang mengenalinya.
Seakan mengetahui, Amber menarik Carl kedalam gang, melepaskan kacamata Carl dengan sedikit kasar. "Kembali lah ke Los Angeles."
____