The Perfect Match

The Perfect Match
Amarah



“Mom.” Wajah Valerie benar-benar memelas, mereka memasuki mobil dengan cepat karena langkah Jessy yang terkesan buru-buru dan tak sabaran.


“Kau memalukan ku Val! Bagaimana bisa kau melakukan itu dengan Ken? Kau dekat dari kecil bahkan sudah menerima perjodohan dengan Carl!” Mobil mulai berjalan saat Jessy menyebutkan tujuan mereka, menuju perusahaan Franz group terbesar yang ada di LA.


“Tapi aku mencintai Ken, Mom.” Lirih Valerie.


Jessy menenangkan dirinya, ia menatap Valerie tanpa ekspresi. “Bujuk saja Daddy mu agar ia merestukan pernikahan mu dengan Ken.” Ini yang Valerie takutkan, ia sudah tidak ingin lagi membantah Justin.


“Tapi mom, Daddy pasti akan…”


“Valerie dengar, aku sudah pernah mengatakan kepada mu agar menjaga diri mu baik-baik, jangan sembarangan melakukan itu dengan pria lain.”


“Tidak mom, aku belum pernah melakukan nya. Ini… ini baru awal.” Suara Valerie mengecil pada kalimat akhir.


Jessy memejamkan matanya, ia seperti dengan mengurusi seorang anak kecil yang masih ingusan. Apa yang dipikirkan Valerie? “Hentikan omong kosong ini Val, simpan suara mu untuk berbicara pada Daddy.”


-


Alicia mengatur nafasnya dengan begitu tenang, suasana begitu asing, Ken duduk dipinggir Alicia dengan tatapan tajam pada sudut kamar, giginya seakan ia tekan pada gigi lainnya. “Apa tamparan mom terlalu keras?” Ken yang tak menyangka langsung menoleh pada Alicia, ia tau sebesar apa rasa kecewa Alicia. Tangannya terulur pada pipi Ken, mengelusnya pelan dan helaan nafas yang masih terasa kecewa membuat Ken meringis. “Tidak seharusnya aku menampar mu. Maafkan mom sayang, mom hanya ingin kau menjadi pria yang bertanggung jawab. Jangan mempermainkan wanita lagi Ken.”.


Tangannya menyentuh tangan halus Alicia yang ada dipipinya, sorot mata yang menatap Alicia dengan penuh rasa berharap. “Mom maaf aku mengecewakan mu, tapi yang aku pernah rasa kan lebih sakit dari ini.” Alicia mengerutkan keningnya, raut wajah anaknya kini seakan putus asa.


Ken berdiri mensejajarkan kakinya dengan Alicia, memegang bahu wanita yang ia sayang itu sambil menarik nafas. “Aku akan membicarakan ini dengan Daddy.”


“Ken, dengarkan Mom. Apa ada sesuatu dibalik ini semua?” Ken hanya tersenyum getir.


“Tidak mom, hanya saja aku pernah dipermainkan oleh wanita, dan itu membuat ku seperti ini.”


-


Valerie meremas tangannya sendiri, Jessy sudah menjelaskan kronologi kejadian tadi. Awalnya Valerie mengatakan bahwa ia mencintai Ken, bukan Carl. Namun Justin malah meminta Valerie mengakhiri hubungan nya dengan Ken. Keluarganya terlalu malu jika harus membatalkan perjodohannya dengan Carl, hingga akhirnya Jessy mengatakan jika Alicia pun tahu masalah ini dan mulai menceritakan kejadia siang tadi.


Dan kini, ledakan amarah Justin meledak, gebrakan meja membuat para wanita itu seketika takut. “Itulah sebabnya aku tidak pernah mengijinkan mu menjadi seorang model! Kau anak ku satu-satunya tapi tidak pernah membuat ku bangga sama sekali Val!”


“Sayang, aku hanya ingin malam nanti kau setuju dengan pernikahan mereka, bukannya membentak Valerie seperti ini!” jawab Jessy sama kencangnya, ia terkejut dan tak menyangka ada bereaksi seperti ini.


“Apa hubungannya dengan pekerjaan ku Dad? Semua yang aku lakukan selalu kau kaitkan dengan pekerjaan ku.”


Terdengar helaan nafas kesal dari mulut Justin. “Aku memang tidak pernah menyukai pekerjaan mu!” entahlah, Justin masih teringat dengan sang ibu yang dahulunya seorang model, tak memperdulikan nya karena terlalu sibuk. Menurut Justin pekerjaan itu membuat mereka tidak memperdulikan keluarga!.