The Perfect Match

The Perfect Match
Melepas Rindu



Ken melepaskan semua yang menjadi penghalang mereka, menjatuhi Valerie dengan beberapa k e c u p an ditubuh indah itu. Tubuh mereka seakan memanas, penyatuan mereka pun begitu terasa memabukan. Suara-suara yang menandakan kenikmatan begitu terdengar bagi mereka, rasanya tidak ada yang mereka pikirkan selain menyelesaikan semua ini. Ken menarik Valerie untuk berguling dan mengganti posisi mereka, mata sayu milik Valerie seakan membuatnya begitu sangat cantik dan tampak menggoda. “Bergeraklah sayang.” Bisik Ken parau, tangan kekar itu bermain pada dua buah yang menggantung indah dihadapannya, menggoda Valerie agar mendapatkan dorongan.


Gerakan Valerie seakan kaku, namun dengan perlahan tampak sudah dapat menguasi gerakannya. Ken memejamkan matanya, menikmati setiap rasa yang ia rasakan. “Ken, aku-“ Valerie seakan menengang dan meracau tidak jelas, Ken tahu apa yang dirasakan Valerie, wanita itu sudah hampir mencapai puncaknya. Dengan gerakan cepat pula Ken mengganti posisi mereka, membaringkan Valerie dan memeluknya dari belakang. “Kau akan mendapatkannya sayang.” Kata-kata itu membuat Valerie mengigit bibir bawahnya sendiri, Ken memasukkan nya dengan perlahan, bergerak cepat dan memeluk Valerie semakin erat. Rasanya seakan begitu diambang kenikmatan. Racauan mereka semakin terdengar, bahkan penghangat ruangan seakan tidak dibutuhkan karena dirasa semakin membuat mereka panas.


“Ken!” pekik Valerie saat dirinya mencapai puncaknya. Ken semakin mempercepat gerakannya, mencari titik yang ia harapkan dan disaat diri Ken menghujamnya dalam, saat itu pula Ken mengeluh panjang.


Ken menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka, menatap Valerie yang kini berbalik dengan deru nafas yang belum teratur. “Kau tahu?” ujar Ken dengan nafas nya masih memburu. “Sebenarnya aku akan menemui mu besok, tapi aku ingin malam ini tertidur nyenyak dengan melihat kau berada disisi ku. Tapi semuanya tampak lebih indah dari apa yang aku bayangkan.” Bisik Ken pelan, merapikan helaian rambut Valerie yang sedikit berantakan.


“Aku pun selalu mengharapkan kau menjemput ku. Hari-hari ku tampak membosankan seperti biasanya tanpa mu sayang.” Ken tersenyum mendengar itu, ia memberikan sedikit k e c u p an pada kening Valerie.


“Dimana kau belajar cara merayu seperti itu?” Tanya Ken dengan terkekeh.


“Dari mu.” Ujar Valerie malu. Namun itu tampak menggemaskan bagi Ken, membuatnya memeluk erat tubuh ramping Valerie.


“Sebenarnya aku membawakan hadiah lagi untuk mu.” Bisik Ken, namun matanya terpejam sambil masih memeluk erat tubuh yang sangat ia rindukan.


“Hadiah apa?” Tanya Valerie.


Ken melonggarkan sedikit pelukannya dan tersenyum tipis. “Sesuatu yang sangat indah, tapi rasanya besok pagi aku akan memberikannya. Sekarang kita harus beristirahat sebentar sebelum kita melakukan olahraga malam ini lagi.” Goda Valerie.


Dengan rasa malu yang langsung Valerie rasakan, ia memukul pelan dada Ken, menyembunyikan wajahnya. Ken hanya tertawa kecil melihat itu, memeluk Valerie kembali dan menaruh dagunya diatas kepala Valerie.


Lama mereka terdiam, “Aku yakin kau belum menunggangi kuda putih itu.” Ujar Ken dengan pandangan yang entah menatap arah mana.


“Ya, aku hanya berani memegang kepalanya. Kau tahu? Laire sangat penurut, tapi aku tetap tidak berani menungganginya sendiri.” Jawab Valerie. “Aku menunggu kau datang dan akan menaiki Laire bersama.” Lanjut Valerie.


“Baiklah, besok pagi aku akan membawa mu berkeliling bersama Laire, kau harus belajar mengendalikannya sendiri. Akan lebih menyenangkan jika kita bisa membawa masing-masing kuda dan melakukan balapan kuda didalam hutan.”


“Oh Ken, aku tidak akan pernah bisa, aku takut mengendalikan hewan.” Cicit Valerie pelan.