The Perfect Match

The Perfect Match
Pesan Singkat



"Tapi Valerie sangat bagus Mr.Alvaron. kau ingin melihat hasil foto tadi?" Jack terlihat sedang meyakinkan Ken, ia sendiri menjadi tidak tega pada Valerie. Baru saja ia ingin menunjukkan, namun Ken mengangkat tangannya.


"Itu keputusan ku. Terserah pada kalian jika tidak mendengar ku." Ken menatap jam tangannya.


Terlihat CEO wanita itu berlari kecil kearah Ken. Ia tersenyum kaku.


"Mr. West sudah menitipkan agar semua keputusan ada ditangan anda Mr. Alvaron." Ken tersenyum menang.


"Kalau bergitu aku pergi. Ada rapat yang lebih penting."


"Baik Mr.Alvaron. Terimakasih sudah menyempatkan hadir ke pemotretan ini." Ken hanya mengangguk dan berjalan keluar. Membuat suasana mengcengkam itu menghilang.


"Oh Valerie. Ada apa dengan mu hari ini? Kau tidak enak badan?" Tanya Selly, sang CEO wanita tadi.


"Ya. Seperti." Kepalan tangan Valerie semakin mengeras, ingin rasanya ia memberikan pukulan pada wajah dingin itu. Ia ingin membalikan keadaan, ia ingin Valerie yang memegang kendali atas Ken, ingin membuat pria itu tersiksa dengan dirinya.


"Jika kakek ku ikut berinvestasi dalam perusahaan ini apa kah pria itu bisa aku tendang!" Selly menggelengkan kepalanya dengan alis yang bertaut.


"Maaf, tapi Ken sudah menjadi kerabat terdekat Mr.West, Mr.West terlalu menyukai apapun yang menjadi usul seorang Kenrich."


Valerie mendengus.


"Ini benar-benar mempermalukan ku!'


"Bagaimana jika kau mengajukan foto itu pada Mr. West, aku akan mencari model wanita pengganti. Setelah itu kita akan memilih yang mana yang paling cocok untuk iklan kita."


"Jangan!" Pekik Valerie kencang. Ia tidak ingin melihat wajahnya seperti itu dibawah seorang Kenrich. Itu memalukan! Apalagi ia akan melihat banyak fotonya dan Kenrich tersebar di sosial media!.


"Mengapa? Siapa tau kau bisa mendapatkan kesempatan perpanjang kontrak." Ujar Selly dan Jack yang mengangguk setuju.


"Aku sudah terlanjut sakit hati. Lagi pula banyak yang menawari ku kontrak. Dari pada menjadi model yang di batas hanya untuk dress lebih mau aku batalkan kontrak yang tersisa."


"Kontrak kita masih ada 2 bulan. Jika kau membatalkannya akan ada denda." Sahut Ella yang kini sibuk memasangkan jubahnya.


"Aku akan membayarnya. Harga diriku lebih mahal dari hanya sekedar membayar denda." Ucap Valerie sombong. Ia berjalan keluar ruangan, mengabaikan beberapa orang yang memanggilnya.


Valerie terus berjalan menuju ruang ganti, mengganti kembali baju tipis ini dengan pakaian awal yang ia gunakan. Keluar dari ruang ganti ia melihat Ella yang sudah membawa tas miliknya.


"Aku mengerti kau sangat kesal. Bagaimana jika kau pijat? Seperti akan membuat mu relax." Ella seakan membujuknya. Valerie menghembuskan nafas perlahan.


"Ya. Itu ide bagus." Valerie mengulurkan tangannya mengambil ponsel didalam tas. Ia ingin mengabari kakeknya, Alex. Dari kemarin ia sudah sampai LA, ia belum mengunjungi Alex.


Sebuah pesan masuk menghentikan Valerie mencari kontak Alex. Nomor tak dikenal.


'Hai Valerie, hubungi aku jika ingin melanjutkan yang tadi. Dan jangan coba-coba melakukan foto seperti tadi bersama pria lain jika kau masih ingin menjadi model.' Valerie terdiam. Ia menatap geram emoticon diakhir chat. Entah iblis mana yang merasuki pria itu.