
Siang ini Ken sudah bersiap dengan jas yang berbalut ditubuhnya. Ia duduk bersandar didalam helicopter privatenya yang berwarna putih, kini ia masih berada bagian paling atas gedung pencakar langit di New York, sebelum keberangkatannya, ia membuka kotak cincin yang sudah ia pesan pada Marco. Cincin yang benar-benar cantik dan cocok untuk Valerie. Ken sangat yakin Valerie akan menyukainya.
“Tuan, kita akan berangkat sekarang.” Ken mengangguk pelan dan mengantongi lagi kotak cincin itu, sebentar lagi ia akan melihat Valerie, wanita yang selalu mengusik malamnya karena rindu yang teramat menyiksa baginya. Ia tidak bisa tertidur tenang, rasa takut karena tidak ada satupun komunikasi antara dirinya dan Valerie membuat pikiran buruk menghantuinya.
Ken tersenyum kecil, ia akan memberikan sedikit pelajaran bagi Valerie, meragukan cintanya cukup melukai harga diri Ken sebagai pria, bahkan Valerie sampai memblock semua akses untuk menghubunginya.
-
Valerie tertawa bersama Jessy, kuda putih itu tampak dengan senang ditunggangi oleh saudara mereka, Shawn, kalian ingat? Saudara yang menjemput Jessy saat ia membawa Justin untuk pertama kalinya ke Kanada, jika kalian lupa bisa membawa ulang novel SHOW ME. Shawn tampak sudah terbiasa dengan kuda, mengatur kecepatan dan membuat kuda berjalan santai dapat ia lakukan. “Aku baru tahu paman Shawn bisa berkuda.” Ujar Valerie diselaan tawa mereka.
“Dia memang banyak keahlian sayang, lihat saja anak-anaknya, sangat menuruni paman mu.” Komentar Jessy. Beberapa menit berlalu, udara dingin membuat mereka tidak sanggup berlama-lama menikmati sore yang indah. Ini baru awal musim dingin, dimana hanya udara yang mereka rasakan, bisa dibayangkan bagaimana cuaca dingin saat salju turun nanti?.
“Shawn!, kau masukan Laire kembali ke kandangnya jika sudah selesai, aku dan Valerie akan kembali kedalam.” Teriak Jessy pada Shawn yang lumayan jauh. Tampaknya Shawn mengerti dan melambaikan tangannya.
-
Ken sampai di Kanada pada sore hari, ia masuk kedalam mobil yang sudah menunggunya. Sebelum ketempat tujuan, ia berhenti sebuah toko pakaian yang menjual sederetan jas dan kemeja keluaran terbaru. Pilihannya tertuju pada jas hitam yang memiliki warna lebih doff di sisi kerah. Lalu kemeja putih dengan garis hitam yang menjadi tambahan sempurna yang cocok bagi Ken.
“Aku ingin menemui Mr.Franz.” ujar Ken pada seorang repsesionis, dengan cepat wanita itu mengangguk dan mengijinkan Ken untuk lansung melanjutkan perjalanannya. Siapa pun sudah tahu Ken adalah menantu Justin, tidak perlu ada janji khusus antara seorang menantu dan mertua bukan?.
Sesampainya dilantai CEO, Ken melangkah dengan penuh percaya diri dan karisma yang ia tunjukan. Sekertaris yang berada didepan ruangan Justin pun langsung berdiri dan tersenyum ramah, ia berjalan dan mengetuk pintu Jutsin. “Sir, Mr.Alvaron sudah datang.”
“Ya, suruh dia masuk.” Sahut Justin dari dalam.
“Mr.Alvaron, silahkan masuk, Mr.Franz sudah menunggu anda.”
Tanpa diucapkan ulang oleh sekertaris itu pun Ken dapat mendengarnya, namun ia tetap membalas senyum ramah itu dan masuk kedalam ruangan, disana, Justin terduduk santai dengan kedua tangan menopang dibagian tangan kursi.
“Selamat datang Ken. Apa yang membuat mu datang jauh-jauh kemari?”