The Perfect Match

The Perfect Match
Jujur



“Ya, aku mengingatnya. Sangat disayangkan hubungannya dengan Ken harus berakhir saat itu.” Carl menggigit bibir bawahnya, rasa serba salah mulai membuatnya gugup. Ia tidak bisa menyimpan ini sendirian, keluarganya harus mengetahui, minimal Agatha akan membantunya agar mendapatkan restu dari kedua orangtuanya, lambat laun.


“Aku benar-benar menyesal.” Gumam Carl. “Saat itu aku patah hati mendapatkan penolakan dari Valerie, dan melihat Amber yang sedang menangis sambil berusaha menghentikan taxi… malam itu, aku membawanya ke dalam Apartemen, kami melakukan suatu kesalahan dengan sadar.”


Agatha menutup mulutnya sendiri, raut wajahnya begitu terkejut, “Astaga! Oh, Carl.” Lirih Agatha. Kini ia mengerti perasaan Ken, kan perkataan Carl selanjutnya membuatnya menutup mata, tidak siap memikirkan hal yang lebih parah dari itu.


“Bahkan kakak saat itu memergoki kami.” Jantung Carl semakin berdebar saat melihat Agatha memijat keningnya sendiri. Namun, semuanya harus terselesaikan secepatnya, ia ingin betanggung jawab dan membawa Earl untuk berobat dengan terjamin.


“Kau sudah meminta maaf pada kakak mu?” Tanya Agatha tiba-tiba. Carl terdiam, kata-kata yang sudah ia susun mendadak menghilang, menjadi tak terkontrol dan membingungkan. Lagi-lagi Carl meremas tangannya sendiri. “Grandma akan mencoba untuk berbicara dengan kakak mu-“


“Kakak sudah memaafkan ku, hanya saja… ini masalahnya grandma.” Carl mengangkat wajahnya, mengumpulkan keberanian untuk membuka rahasia ini. “Karena kejadian itu Amber sudah melahirkan seorang anak laki-laki yang kini sudah berumur dua tahun.” Ujar Carl cepat dalam satu tarikan nafas.


Agatha syok, lidahnya keluh untuk menanggapi ini semua, kepercayaannya seakan hancur dan otak nya tak mampu berfikir. “Dua tahun? Kau baru jujur sekarang, Carl!”


“A-aku saat itu hanya memikirkan Valerie, tapi saat melihat anak itu, aku merasa bersalah.” Agatha dengan cepat mengangguk, itu pilihan yang paling tepat. “Tapi aku takut mom dan Dad akan marah dan-“


“Bertanggung jawablah Carl, jangan memikirkan hal lain, bertanggung jawab dengan apa yang sudah kau perbuat. Jika kau memang mencintai Valerie, kau tidak akan berbuat hal itu dengan Amber, kau hanya terobsesi pada Valerie.”


-


“Aku tertidur cukup lama.” Gumam Valerie sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan, mengumpulkan kesadarannya lalu merapikan sedikit rambutnya.


Setelah dirasa cukup pulih, mereka keluar dari dalam mobil, berjalan cepat menuju anak tangga kecil itu dan masuk kedalam badan pesawat. “Kau mau melanjutkan tidur?” Tanya Ken. Suhu udara lebih terasa hangat dibandingkan didalam mobil. Ken menyimpan mantelnya dikursi dengan sembarang.


“Sepertinya aku sudah tidak mengantuk.” Jawab Valerie sambil tersenyum malu, perjalanan mereka tadi hampir dua jam lebih, dan Valerie habiskan untuk tertidur pulas.


“Kalau begitu kita akan menonton sambil menunggu makan malam tiba.” Ken mengulurkan tangannya, membantu Valerie melepaskan syal, sarung tangan dan mantel tebal yang terlihat menyesakkan.


“Kita akan menonton apa?”


“Kau suka action?” Tanya Ken saat mereka duduk pada sofa putih yang menghadap televise lebar.


“Aku lebih menyukai Romantis.” Jawab Valerie, film para pria terlalu menyeramkan dan membuat tegang, dan bagi Ken, film para wanita terlalu dramatis dan membuat wanita menangis seakan ikut merasakan kesakitan.


---