The Perfect Match

The Perfect Match
Menghargai yang menyakitkan



"Dari awal kau selalu mencari perhatian pada ku. Saat acara run away, pemotretan dan sekarang. Kau mengikuti ku ke acara amal, menyaingi ku dengan cara membeli mobil yang aku inginkan. Dan sekarang, kau mempermainkan Grandfa ku dengan cara memberikannya mobil?"


Terlihat Ken membasahi bibirnya dengan lidah, seakan menggoda Valerie dengan gerakan kecil itu. "Ah, aku tidak bermaksud. Semuanya hanya kebetulan."


"Aku tidak percaya."


"Lalu apa yang kau percaya? Bahwa aku tertarik pada mu dan berusaha mendekati mu?" Valerie meneguk air liurnya. Apa ia terlalu percaya diri?. Lalu Ken semakin mendekatkan wajahnya, membuat Valerie memundurkan wajahnya.


"Apa kau pernah melihat aku memiliki kakek? Sayang nya, Aku menyayangi Grandfa mu dengan tulus, bukan mempermainkan Grandfa mu untuk mendekati mu, sayang."


Valerie berusaha tidak terpengaruh, ia menarik nafasnya dalam. "Aku hanya mengungkapkan apa yang aku rasakan. Aku merasa terganggu."


"Aku ingin tahu apakah benar jika kau tidak nyaman didekat ku? Bas, berikan aku sedikit privasi."


"Baik tuan." Perlahan pembatas itu turun, bahkan jendela pintu pun tertutup dengan benda berwarna hitam, Valerie panik, ia menggerakkan kepalanya tak menentu. Gedung-gedung yang ia lewati mulai tak tampak dipenglihatan Valerie.


"Apa ini? Jangan kurang aja pada ku Ken! Aku akan beritahu ini pada Grandfa!" Ancam Valerie.


"Dan kita akan dijodohkan jika kau memberitahu itu." jawab Ken. Ia menangkap wajah Valerie yang panik, mengusap lembut pipi Valerie, mencoba menenangkan Valerie agar tidak berulah.


"Apa sebenarnya yang kau inginkan?! Apa aku memiliki salah?" Tanya Valerie membuat keduanya sedikit terkejut. Ken terkejut dengan perkataan Valerie yang tepat sasaran, wanita itu seakan mengetahui niat Ken. Sedangkan Valerie, ia terkejut dengan ucapannya sendiri, namun ia merasa Ken bukan tertarik, pria itu lebih kearah mempermainkan perasaannya. Ia takut, sangat takut dindin pertahanannya roboh, bagaimana ia sudah payah melupakan pria dihadapannya ini.


Wajah Kenrich tampak mengeras, mereka terdiam dengan pikiran masing-masing. Mata Valerie terpejam erat saat wajah Ken mendekat, ia tahu apa yang akan pria itu lakukan.


"Tidak bisakah kau sedikit bermain dengan ku dibelakang Carl?! Mereka pun menikmati semua ini!" Ken ingin marah. Ia kesal dengan dirinya. Mengapa Carl dan Amber bisa melakukannya dengan tenang, mengkhianati Ken tanpa rasa bersalah!. Sedangkan Ken, ia luluh menatap manik mata indah Valerie dibawah lampu mobil, sorot mata itu begitu dalam, mampu menghipnotis Ken dalam sekejap. Hatinya mendadak menolak keras melecehkan wanita ini, ia menghargai Carl, menghargai keluarga nya dan menghargai keluarga Franz. Mengapa ia bisa memikirkan semua ini?! Sedangkan kedua pengkhianatan itu bergerak bebas tanpa berbagai macam rasa menghargai yang menghantui! Ia seakan menjadi Ken yang dulu, Ken yang lemah dan bodoh!


"Bas, sudah." Hanya itu yang Ken ucapkan. Ia menarik tubuhnya sendiri menjauh, membenarkan posisi duduknya dan merongoh ponsel disaku dalam jas.


Pembatas sudah terangkat, cahaya dari luar mulai masuk membuat lampu mobil otomatis mati. Ken menyodorkan ponselnya.


"Aku tidak akan pernah memaksa mu, kecuali jika kau menginginkannya juga."


Tanpa pikir panjang Valerie mengambil kembali ponselnya. Menariknya dengan kencang dan membuang pandangannya pada luar jendela. Keduanya terdiam. Valerie mencoba menenangkan jantungnya. Apa maksud perkataan Ken? Siapa 'mereka' yang dimaksud?.


Sedangkan Ken, ia sudah memasang kembali wajah berkuasanya, duduk bersandar dengan tenang dan mengambil majalah bisnis yang ada di belakang jok mobil depan.


Mobil Alex didepan sana melaju dengan kecepatan sedang, tanpa kendala apapun. Hingga hampir satu jam, mereka sudah melewati batas kota, kedua mobil itu berjalan memasuki permukiman desa, beberapa perkebunan yang tampak hampir panen, dan peternakan yang memiliki jalan yang masih tanah.


---



Lanjut ga nih? jangan lupa hadiah ya🙌