The Perfect Match

The Perfect Match
Urusan Bisnis



“Astaga Justin! Ken tidak akan berani melakukan itu. Aku selalu mengintai tingkah lakunya disini, ia menjaga jarak dengan semua wanita!” Richard terdengar menarik nafasnya. “Sudahlah, lakukan saja apa mau mu, aku sedang sibuk dengan anak perusahaan ku, kau tidak sama sekali berniat membantu ku? Hah?!”


Justin berdecak dan menggelengkan kepalanya pelan. “Kalian adalah ayah dan anak yang pintar, aku yakin kalian tidak membutuhkan ku, aku tidak memiliki kemampuan apa-apa, lagi pula bukankan anak perusahaan kalian ada banyak? Satu yang bangkrut bukan masalah bukan?”


“Terserah! Hanya saja jika kau kembali menggulung tikar aku tidak akan membantu mu lagi.”


“Tidak masalah, aku memiliki menantu yang hebat bukan?” ejek Justin dengan sedikit tertawa.


“Dia anak ku! Itu sama saja kau meminta bantuan ku!” desis Richard.


--


Ken keluar dari mobil, berjalan dengan langkah yang santai, perawakan tegap dan raut wajah yang tegas, tempak seperti Ken pada biasanya. “Selamat malam Mr. Alvaron, Mr. Marton sudah ada didalam.” Ken mengangguk pelan dan berjalan dengan beberapa pengawalnya.


Seorang pelayan menunjukkan jalan untuk Ken pada sebuah ruangan VIP yang ada di Bar & Restoran ini. Semuanya tampak mewah, desain yang dibuat lebih kearah elegant, warna kayu meja dengan warna hitam yang lebih dominan disini, beberapa garis gold menambah kesan mewah itu terlihat, berwarna warm tampa coco dengan semuanya.


Ruangan VIP yang dimaksud begitu luas, wangi ruangannya yang menyerbak halus seakan menyambutnya. Penghangat ruangan begitu pas untuk bisa menyesuaikan suhu yang diinginkan. “Selamat malam Mr. Marton.”


Pria seumurannya itu mengalihkan perhatiannya dari sebuah buku tebal ditangannya. Raut wajah tersenyum dan gerakan tubuh spontan yang langsung berdiri menyambut Ken tampak begitu ramah. “Ken, akhirnya kita bertemu kembali. Ah, selamat untuk pernikahan mu, aku terjebak di Panama, maaf tidak bisa datang keacara pernikahan mu.” Ken tersenyum miring, ucapan selamat Noah sepertinya salah, Ken merasa tengah diejek dengan kata-kata itu. Istrinya saja sudah dibawa pergi, pernikahan yang memang diawali niat buruk memang tidak akan berjalan lancar, sepertinya. Mengingat sampai saat ini tidak ada kabar dari Valerie dan Justin pun tidak membalas pesannya.


“Terjebak oleh seorang wanita, Noah?” ejek Ken, ia menjabat tangan Noah cepat, mereka duduk kembali disebuah meja bundar.


“Tidak, astaga, itu hanyalah gosip. Aku terlalu sibuk disana, ternyata sangat menghabiskan waktu dalam sesi pemotretan dan acara peragaan busana. Ya, walau harus ku akui jika model-model disana sangat cantik.” Kekeh Noah pelan. Noah Marton, seorang pembisnis dibidang fashion, pakaian yang ia keluarkan selalu membludak dan menjadi tranding di Panama hingga California, layaknya Donna.Inc, hanya saja Noah tidak menyediakan pakaian dalam, mereka lebih kearah dress, sport, jaket, dan sweater. “Ah, aku sangat terkejut mendengar anak perusahaan mu disini akan melakukan kerja sama bersama ku.” Lanjut Noah antusias.


Garis bibir Ken membentuk senyum, ia tidak perlu berbasa-basi lagi dan akan memulai pembicaraan bisnis ini. “Ya, aku ingin membuat hal berbeda dengan perusahaan ku disini.” Noah tampak mengerutkan keningnya saat Ken mengeluarkan sebuah kertas lembar kontrak dari dalam tas nya.


“Aku baru sadar jika kau sendiri, apa kau tidak membawa sekertaris mu?”