
Valerie duduk disofa dengan sebuah cemilan ditangan, pandangannya terfokus pada layar ponsel yang menampilkan beberapa model terbaru yang sedang naik daun. Jarinya berhenti menggeser gambar, sebuah pria dengan pakaian berkoboi, fokus kamera yang begitu pas membuatnya lebih indah dipandang, kuda gagah dan pria itu seakan bersahabat.
“Selamat sore sayang ku,” suara Ken terdengar bersamaan dengan suara pintu yang terbuka, ia tampak tampan seperti biasa bahkan saat pulang kerja pun. Ken berjalan kearah Valerie, mencium bibirnya sekilas dan duduk disampingnya.
“Aku tidak mendengar suara mobil mu.” Ken menatap Valerie bingung.
“Mungkin kau sedang fokus dengan ponsel mu, apa yang kau lihat?” tanya Ken. Ia sudah mengganti pakaiannya dengan yang tadi pagi, karena jika tida mereka tidak akan dekat seperti ini. Valerie tersenyum lebar, Ken seolah mengetahuinya, lalu Valerie memberikan ponsel miliknya pada Ken. “A-apa maksud mu? Kau sedang melihat pria lain?” Ken menatap tajam istrinya yang tampak tidak berdosa, memberikan foto seorang pria kepadanya. Siapa ini? Teman Valerie?
Valerie mengerucutkan bibirnya, Ken salah menanggapi maksudnya. “Besok pagi. Aku ingin kau mengenakan pakaian koboi seperti ini,” ujar Valerie gemas. “Dan kita akan bertemu kuda-kuda.” Ken dengan cepat menggelengkan kepalanya.
“Tidak sayang, kau sedang hamil, jika kau menaiki kuda itu sangat beresiko. Aku takut ada apa-apa dengan bayi kita.” Cegah Ken dengan tegas. Ini bukan untuk diikuti, ini berbahaya.
“Bukan aku sayang, tapi kau saja. Suami ku kan tampan, aku ingin memotret mu dengan kuda itu. Aku ingin menjadi photographer mu.” Ken menatap ngeri pada Valerie, apalagi ini? Besok adalah hari libur, tidak bisa kah mereka hanya dirumah dan menghirup parfum wanita saja sudah menyiksanya seperti ini.
“Aku tidak bisa bergaya seperti itu, lebih baik aku menungganginya saja,” Ken mengembalikan ponsel Valerie, bagaimana bisa ia berpose seakan menikmati udara dengan wajah yang begitu dekat dengan kuda, bahkan nyaris menempel! Lebih baik itu berada diatas kuda dengan wajah datar yang memancarkan karismanya.
Valerie semakin cemberut, ia memeluk tangan Ken dengan manja. “Aku mohon, sekali ini saja. Demi anak kita,” bujuknya halus.
“Ayolah, kau hanya diam seperti ini dan aku akan mendapatkan foto mu yang bagus,” bujuk Valerie tidak menyerah.
“Sayang, kau bahkan memegang kamera saja tidak bisa, bagaimana bisa mendapatkan hasil yang bagus? Semua ini akan memakan waktu yang lama.” Ken berusaha membujuk Valerie untuk tidak memaksanya.
Valerie menjauhkan dirinya, menyimpan snack diatas meja dan menatap Ken dengan cemberut. “Ya sudah, aku akan meminta Carl untuk melakukannya, dia aktor professional yang akan sabar.”
Ken dengan cepat menatap Valerie, menahan tangan Valerie yang akan beranjak pergi. “Jangan membuat ku cemburu sayang, Carl sudah memiliki istri, kau tidak bisa seperti itu.”
“Memangnya kenapa? Carl adik ipar ku, Amber pun akan aku ajak kesana.” Tidak! Ken menggelengkan kepalanya cepat, tidak boleh ada waktu bersama antara Valerie dengan pria lain.
“Ya sudah aku mau menjadi model mu. Tapi, jangan sampai meminta ku melakukan pose seperti wanita.” Mendengar itu Valerie tersenyum lebar, kembali duduk disamping Ken dan bersandar pada bahu lebar suami nya.
“Kami mencintai mu, Daddy.”
Ken menghembuskan nafasnya dengan keras, dengan senyum terpaska ia menjawab. “Aku juga mencintai kalian.” Ken menundukan kepalanya pada perut Valerie, mencium anaknya dari luar beberapa. “Mengapa kau senang sekali menjahili Daddy.” Bisik Ken gemas.