The Perfect Match

The Perfect Match
Kebingungan



Ken menggeram kesal, saat ia ingin cepat-cepat pulang menemani Valerie yang sedang sakit, pekerjaan lagi-lagi datang menghampirynya. Richard, tiba-tiba melemparkan pekerjaannya pada Ken, ia mengatakan akan menemui teman lama yang baru ke Los Angeles.


Ken mengambil ponselnya, mulai menghubungi Valerie. “Hallo sayang, aku sepertinya akan pulang terlambat. Bagaimana keadaan mu? Apakah sudah membaik?”


‘Aku sudah membaik sayang, Mama ada disini menemani ku.’ Suara Valerie yang terdengar lembut membuat rasa kesal Ken sedikit berkurang, wanita itu sudah benar-benar sehat.


“Baiklah, setelah ini selesai aku akan langsung pulang. Jaga diri mu baik-baik sayang, aku mencintai mu.”


‘Ya, semangat untuk pekerjaan mu.’


Ken mengerutkan keningnya, tidak biasanya Valerie mengabaikan ucapan cinta darinya. “Terimakasih sayang, Aku mencintai mu.”


‘Aku tahu itu.’


“Sayang, aku mengatakan aku mencintai mu. Kau tidak membalasnya?” Tanya Ken tidak suka. “Ah aku tahu. Kau marah karena aku pulang terlambat hari ini?”


‘Tidak, sudahlah sayang, bereskan pekerjaan mu dan pulang. Bye.’ Telepon itu berakhir begitu saja, membuat Ken semakin kebingungan dan merasa ada yang tidak beres.


Namun, alih-alih menelepon Valerie kembali, ia dengan cepat mengambil beberapa berkas diatas mejanya, mencoba fokus dan menyelesaikan pekerjaannya.


-


Pukul lima sore, Valerie dan yang lainnya sudah berkumpul diruangan luas ini, beberapa tawa dan angan-angan terdengar dari kedua orangtua yang tengah berbahagia. Agatha, Alex, Jeremy, dan Anna akan mendapat generasi penerus mereka yang baru. Getaran diponsel Valerie membuatnya dengan cepat memeriksa pesan masuk yang tampil. “Ken sudah selesai! Dia sedang dalam perjalanan pulang.” Pekik Valerie membuat semuanya panik dan kebingungan. Pasalnya kue dan beberapa perlengkapan supprise ‘Hallo Daddy’ belum selesai dibuat dan baru akan dikirim setengah jam lagi.


“Sayang, Ken memang selalu cepat mengerjakan sesuatu. Jika dia sudah mengerti, pasti tidak membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya.” Alicia mengingat betul Ken sedari ia sekolah, otaknya benar-benar mampu berpikir cepat dengan tenang.


“Dasar, apakah anak mu tidak ingin diberi kejutan? Tidak bisakah dia mengikuti rencana kita?” gerutu Justin.


“Sudah, lebih baik kita ganti rencana saja. Sambil mengunggu kue itu datang, kita ulur waktu saja.” Ide Jessy diangguki oleh semuanya. Anak pertama memang selalu ditunggu, dan ini harus berlangsung menyenangkan, karena akan diingat sampai kapan pun.


--


Ken mengerutkan keningnya saat beberapa mobil memenuhi halaman rumahnya, ia tidak mengundang siapa pun, dan mobil Daddynya pun ada disini. Apakah ia membawa teman lamanya kerumah Ken? Untuk apa?.


Ken keluar dari mobil, dengan langkah yang tegas ia berjalan menuju pintu besar yang terbuka. Langkah Ken sedikit memelan saat melihat keluarganya berkumpul. Tampak semuanya sedang berkumpul ramai dan belum melihat kehadiaran Ken.


“Ekhem.” Ken terbatuk kecil dan berjalan tenang kearah keluarganya, sedikit melonggarkan dasi yang seakan mencekiknya.


“Hai sayang.” Valerie berdiri dan menghampiri Ken, memeluknya dan mengiring Ken untuk ikut duduk ditengah mereka.


Beberapa percakapan pun membuat Ken itu bergabung, namun rasa penasarannya menjadi semakin tinggi. “Um, sebentar. Apakah hari ini ada sesuatu?” pertanyaan itu sontak membuat semuanya terdiam. Rencana untuk mengulur waktu tampaknya tidak berhasil, Ken tetap kebingungan dan tidak mudah dialihkan pada topik lain.


“Apa terasa aneh jika keluarga mengunjungi kalian?” Tanya Justin dengan raut wajah yang ketus.