The Perfect Match

The Perfect Match
Malam yang panjang



Ken mendorong lembut Valerie masuk kedalam kamar mereka, mengurung Valerie dengan kedua tangan disisi bahu Valerie ke dinding. "Aku tidak sabar ingin mencicipi mu." bisik Ken dengan begitu parau.


Valerie tersenyum saat dengan tak sabaran Ken mendarat kan bibir nya diatas wajah Valerie. "Ya, aku juga." jawab Valerie. Ken sedikit menjauhkan wajahnya, tersenyum miring kearah Valerie, senyuman yang dulu mampu membuat Valerie berdigik ngeri, kini mampu ia lawan dan membalasnya.


"Hati-hati dengan ucapan mu sayang, aku tidak bisa bersikap lembut jika kau terus menggoda ku." Ken langsung membungkam mulut Valerie, mengecapnya lembut dengan perlahan, merasakan manis yang tercipta oleh bibir itu.


Valerie membalasnya dengan begitu suka hati, menunjukan seberapa besar cinta yang ia berikan pada Ken. Namun Ken, dengan hasrat yang semakin menggebu menarik Valerie keatas ranjang mereka.


Suara deru nafas yang tak beraturan menjadi bukti kegiatan menjadi begitu panas. Ia merasa resleting dibelakang punggung mulai turun, jemari kokoh Ken menyapu kulitnya punggung yang mulai terbebas. Rasa sesak sedikit berkurang saat pakaian atasnya sudah melorot, rasa udara segar kini tubuh menyelimutinya. Ken semakin mendekat, menggodanya dengan nafas yang ia buang keras melalui hidung. "Ken." lirih Valerie pelan, tubuhnya menggeliat dibawah Ken.


Ken tiba-tiba bangun dari tempat tidur, menatap Valerie yang sudah berantakan, rambut panjang itu sudah tak menentu, tubuh yang terkapar indah seakan sudah pasrah ia sentuh. Ken melepaskan kemejanya dengan cepat, begitu pula dengan sabuk dan celana panjangnya. Dengan hanya tersisa celana pendek, Ken kembali menghimpit tubuh Valerie, bergulat kasar dengan mulut yang dahulu tajam itu.


Valerie bergerak gelisah saat jemari Ken menelurusi garis kain di pinggangnya, satu-satunya kain yang menjadi pemisah mereka. Dengan perlahan ia membebaskan kain itu, membuat Valerie benar-benar polos tanpa sehelai benang pun.


Ken terduduk dan melepaskan pakaian dalam terakhirnya, suara racauan Valerie semakin membuat Ken tak menentu. Mata Ken terbuka, kerutan harus terlihat di keningnya, ia kembali mencoba masuk dengan keras, menembus penghalang yang digantikan rasa hangat.


"Ba- Bagaimanapun bisa? kau belum melakukannya?" tanya Ken kencang, rasanya begitu dipermainkan, ditipu dan terbodohi dengan pikirannya sendiri, ucapan Carl benar-benar menipunya. "Ini tidak masuk akal." gumam Ken kesal, ia hendak melepaskan penyatuan mereka, rasa sempit Valerie membuatnya tersiksa, namun kaki Valerie melingkar dipinggangnya.


"Aku mohon." pinta Valerie, rasanya begitu diambang kesakitan namun ia menanti suatu kenikmatan yang akan ia dapatkan.


"Tapi aku akan menyakiti mu jika kita melanjutkan nya." Valerie menggelengkan kepalanya. Menyakinkan Ken bahwa ini memang kemauannya.


Kali ini genggaman Ken dipinggang Valerie begitu lembut, mencoba menggerakan tubuhnya dengan lembut dan berusaha tidak menyakiti Valerie. "Aku akan melakukannya dengan lembut, pejamkan mata mu dan rasakan lah." bisik Ken. Ini adalah pengalaman pertama nya dengan seorang wanita yang belum berpengalaman, wanita yang pada saat remaja dulu berani menggodanya. Rasa haru dan tak percaya bergemuruh dalam dada Ken.


Ini adalah percintaan paling menakjubkan bagi Ken, rasa Valerie yang luar biasa membuatnya tersiksa oleh berbagai kenikmatan yang diberikan.


____


like, komen.