The Perfect Match

The Perfect Match
Berbincang



"Terimakasih atas kunjungan mu. Lain kali kabari aku jika kau kemari lagi." Mereka kembali berpelukan atas kepulangan yang akan memisahkan mereka lagi.


Ken dan Valerie ikut menjabat tangan pria itu dan mengucapkan terima kasih. Hingga Peter terlebih dahulu pergi meninggalkan mereka, Valerie langsung berbalik melihat Alex.


"Aku ingin satu mobil bersama mu Grandfa." Ujar Valerie. Ia takut Ken kembali berulah dan memojokkan dirinya kembali didalam mobilnya.


"Kenapa sayang ku? Kau dan Ken akan kembali sibuk, lebih baik kalian banyak mengobrol diwaktu yang sempat ini." Jawab Alex yang bingung.


Valerie menggelengkan kepalanya, "Aku hanya ingin bersama mu."


"Apa kau menakut-nakuti cucu ku Ken?" Tanya Alex dengan nada bercanda. Ken tertawa kecil dan mengangguk samar.


"Mungkin Valerie ingin mencoba mobil yang ia inginkan di acara lelang kemarin." Ken berkata dengan jujur. Dengan senyuman ramah yang seakan mengejek Valerie.


Raut wajah Alex tampak terkejut mendengar itu, ia melirik Ken dan Valerie bergantian. "Apa kalian sudah bertemu selain hari ini?"


"Sudah Grandfa. Hanya saja saat itu Ken sibuk dan langsung pergi, kita tidak sempat mengobrol terlebih dahulu." Jawab Valerie langsung, ia takut Ken menjawab yang terlalu berlebihan dan menyebabkan kegaduhan.


Wajah Alex tampak senang mendengarnya. "Ya sudah kalau begitu. Kalian saja yang memakai mobilnya. Aku juga lelah dan akan beristirahat saja didalam mobil Ken."


"Tidak Grandfa. Maksud ku tidak begini..." Pekik Valerie saat Alex berjalan masuk kedalam mobil Ken.


Pria jangkung itu hanya menggulum senyum dan tertawa dengan kebodohan Valerie. Niatnya yang akan menjauh malah harus bersama Ken kembali. "Sudahlah, kau memang seharusnya bersama ku." Bisik Ken seraya beranjak berjalan menuju mobil tua itu.


"Hai lagi, Valerie." Sapaan itu benar-benar membuat Valerie kesal. Ia harus kuat bagaimana pun.


Ken mulai menyalakan mesin mobil. Menjalankannya dengan begitu santai. "Ah aku belum mengatakan selama atas karir mu yang bagus itu." Jalan berdesaan yang tak mulus membuat mereka sedikit tak nyaman.


"Terimakasih. Selamat juga untuk mu, Ken. Aku dengar kau menjadi pemimpin yang begitu tegas dan disegani." Ken menaikan alisnya. Ia sedikit melirik kearah Valerie lalu fokus kembali pada kemudi.


"Apa itu pujian? Aku bekerja keras untuk ini semua. Jadi suatu kebanggaan diberikan selamat oleh super model seperti mu." Valerie terdiam. Ia menjadi penasaran dengan berita yang tersebar mengenai Ken.


"Apa bekerja keras mu termasuk dengan memecat setiap karyawan yang melakukan kesalahan kecil?"


Ken tertawa renyah mendengar itu, "Apa yang dimaksud kesalahan kecil adalah seorang penghianat?"


"Maksud mu?" Tanya Valerie bingung.


"Aku tidak suka pengkhianatan. Jadi saat orang itu mengkhianati ku, aku tak akan segan-segan memecatnya. Mereka semua menyebarkan hasil rapat dan rancangan yang sudah aku pikirkan pada pesaing."


"Jadi kau tidak memecat kesalahan yang sepele?"


"Sepele seperti apa? Saat karyawan ku telat dan tidur dimeja kerja langsung aku pecat? Apa yang ada diotak mu seperti itu?" Tanya Ken terdengar mulai sinis.


Valerie mendengus, lagi-lagi ia salah dengan pemikirannya sendiri. "Jangan mudah percaya pada setiap berita miring. Mereka hanya membesar-besarkan dan memanaskan keadaan. Seperti itulah media."