The Perfect Match

The Perfect Match
Hari membosankan



Seharian ini Valerie seakan tak semangat. Ia terlalu memikirkan makan malam nanti, ia tak siap dan tak akan pernah siap mendengar perjodohan Ken dengan wanita lain. Beberapa hari ini mereka sudah dekat, namun atas sikap bodohnya yang seakan menolak ia merasa menyesal.


Valerie mencoba membuat dirinya nyaman diatas kursi santai, kaki dan tangannya ia buat serelax mungkin. Tatapannya tertuju pada ranjang berukuran kecil di tengah sana, ia sedikit bersyukur karena shooting iklannya tetap berjalan lancer tanpa kendala pikiran yang tengah membuncah hebat. “Minumlah vitamin ini.” Ella datang tanpa disadari Valerie sebelumnya, ia memberikan beberapa kapsul vitamin dengan segelas air.


“Terimakasih Ella.” Tanpa perdebatan apapun Valerie mengambilnya dan meminum vitamin tersebut, ingin rasanya ia bekerja dengan bebas tanpa perhatian berlebihan dari asistennya, namun Valerie masih sadar, ia bukan robot dan membutuhkan seseorang yang selalu memperingatinya. Kesehatan baginya adalah nomor satu, ia tidak ingin kejadian beberapa tahun lalu terulang. Ia terlalu bersemangat menerima segala job, membuatnya drop dan menginap beberapa hari di rumah sakit, membuat Justin semakin melarangnya dan Valerie harus membujuk agar Justin mengijinkannya kembali.


“Itu memang tugas ku Valerie, jadwal mu begitu padat, aku takut kau sakit. Apa kau sedang ada masalah?” Tanya Ella pelan.


“Apa begitu terlihat?” Tanya Valerie balik. Ella mengangguk. “Aku akan malam dengan keluarga ku dan keluarga sahabat orangtua ku. Mereka akan membahas masalah perjodohan untuk anak mereka, apa menurut mu perjodohan seperti ini masih berlaku?”


Ella tampak berpikir dan mengangguk pelan. “Untuk sebagian orang masih berlaku, karena banyak orangtua yang tidak ingin anaknya salah mendapatkan pasangan.”


“Jika kau dijodohkan apakah kau ingin?”


-


Tak terasa pukul lima sore sudah terlewat, perjalanan begitu padat dan bising dengan suara klakson yang tak sabaran. “Apakah ada jalan lain?” Tanya Ella pada supir disebelahnya, ia melihat raut wajah Valerie yang sudah tampak bosan dengan laju mobil yang benar-benar tersendat. Tampak supir itu mulai membelokan mobil pada jalan yang lebih lenggang, namun ia mengatakan jalur ini lebih jauh. Valerie tidak mempermasalahkan hal itu, baginya lebih lama mungkin lebih bagus, membuatnya tidak bisa datang keacara makan malam itu dan keluarganya akan percaya jika supir kakeknya ini yang mengatakan bahwa mereka terjebak dijalanan.


Harapan nya tidak berhasil, mereka sampai di rumah Alex pukul 6. Dengan malas ia berjalan masuk, bersiap dan berdandan seperti biasanya, sedikit berdebar dengan siapa ia akan bertemu saat ini. Suara ketukan pintu kamar menyadarkan Valerie yang tengah duduk didepan kursi rias. Membuatnya berdiri dan melihat kembali penampilannya.


--


guys jangan lupa hadiah buat author🥰


vote juga ya. udah mau masuk hari senin nih✌️