The Perfect Match

The Perfect Match
Hanya Rekayasa



Valerie menggeliatkan tubuhnya perlahan, cahaya matahari sudah mulai masuk melalui celah jendela. Senyum itu mengembang saat menatap Ken yang masih tertidur nyenyak, alis dan rahang yang menandakan ketegasan tidak berkurang bahkan saat ia sedang tidur. Tangan Valerie terulur pada dada bidang Ken yang terbuka, bermain diatas kulit yang terasa begitu liat dan keras.


Tubuh Valerie sedikit menegang saat tangan Ken menangkap tangan Valerie. “Jangan menggoda ku sayang.” Gumamnya, namun mata pria itu masih terpejam.


“Aku tidak menggoda mu. Ayo bangun sayang, kita akan melihat Laire.” Ujar Valerie semangat. Ia mendudukan tubuhnya dan mengikat secara asal rambut panjangnya. Ken membuka matanya dan langsung menatap Valerie.


“Ah, aku lupa. Baiklah kita lihat kuda itu sebelum aku membawa mu pergi.”


“Kalau begitu kau mandi dulu.” Mendengar itu Ken yang baru duduk bersandar pada kepala ranjang langsung melirik Valerie dengan wajah yang berkerut samar didahinya.


“Kau tidak akan mandi?” tanyanya polos. Valerie memajukan bibirnya cemberut, tangannya dengan usil memukul pelan lengan Ken.


“Aku akan menyiapkan pakaian untuk kita, setelah kau selesai mandi baru aku.” Jelas Valerie gemas. Namun Valerie mengernyit saat Ken menatapnya dengan raut wajah yang aneh, seakan menggoda dan memiliki maksud tertentu. “Apa?” pekik Valerie tiba-tiba.


Ken tertawa kecil namun dengan gerakan cepat ia membuka selimut mereka, mengambil tubuh Valerie yang seakan begitu ramping baginya. “Kita bisa menyiapkan pakaian bersama. Aku lebih tertarik untuk mandi bersama mu pagi ini.”


Carl menatap Earl yang begitu terlelap tidur, tangan Earl seakan tidak pernah lepas dari Amber, wanita itu selalu menggenggamnya dan mencium punggung tangan mungil itu. Wajah Amber tak lepas dari rasa bahagia dan haru. “Earl selalu rewel dipagi hari, dan sekarang melihatnya tidiur seperti ini membuat ku senang.” Ujar Amber.


Carl tersenyum dan mengelus tangan satu Amber yang terbebas di atas ranjang Earl. “Aku pastikan Earl akan sembuh kurang dari satu tahun. Dia anak yang kuat seperti dirimu.” Ucap Carl tulus.


Amber tersenyum menatap Carl, “Terimakasih.” Ujarnya pelan, lalu menatap Earl kembali. Dirinya begitu risih dengan tangan Carl yang menyentuhnya. Tidak bisakah pria ini tidak terlalu dekat dan banyak bicara?. Batin Amber. Namun senyum harus tetap ia tampilkan, bagaimana pun biaya Earl akan ia tanggung dan keuangan Amber akan membaik.


“Siang ini kita harus mencoba kembali baju pengantin yang kita pilih. Kau butuh istirahat juga sebelum hari pernikahn kita. Beberapa hari ini kau selalu tidur dan mengawasi Earl, aku tidak ingin kau sakit menjelang hari pernikahan kita.” Ucapannya, perlakuannya begitu sangat tulus dan lembut. Carl sudah belajar mencintai Amber, menerima wanita itu kedalam hatinya. Earl, anak kecil itu mampu membuat Carl berubah, bahkan membuat Carl berangan jika mereka akan menjadi keluarga kecil yang menyenangkan, penuh cinta dan kehangatan.


Amber menutup matanya pelan, ia tidak ingin meninggalkan Earl, yang ia inginkan hanyalah mengurus Earl dengan baik disini. “A-apa kah ukuran tubuh ku kemarin tidak bisa dijadikan patokan?” Tanya Amber pelan.


“Ya, tapi kita harus mencoba hasilnya agar hari minggu ini kau begitu cantik dengan balutan gaun yang pas.” Jelas Carl. Dengan berat hati ia menganggukan kepalanya, mencoba pakaian tidak memakan waktu yang lama.