
Makan siang itu berjalan dengan suasana yang malah terkesan mencengkam, saat makanan mereka sudah bertata dimeja, aura yang dipancarkan Ken benar-benar memberi efek besar, bahkan terasa melebihi dingin dari kutub utara. Ella dan Bas merasa ragu untuk memegang peralatan makan mereka, perasaan tak enak dan segan membuat keduanya ingin kabur dari kursi mereka. Dan yang menghantui pikiran Ella saat ini adalah ‘Apakah semua sindiran Ken untuk dirinya? Apa karena dirinya suasana ini terjadi?’
Ken mendehem dan meraih peralatan makannya terlebih dahulu, sedangkan Valerie meraih air putih yang ada digelasnya, mencoba mempertahankan egonya dan tidak terlihat seperti orang kelaparan, yang dimana perutnya begitu meronta saat wangi makanan sudah tercium. “Makanlah, Bas. Anggap ini bonus untuk mu.”
“Te-terimakasih tuan.” Gugup Bas, ia dengan cepat mengambil peralatan makannya, ia tahu Ken tidak suka dengan segala yang lambat.
“Ella, makan.” Ujar Valerie memperingati. Mereka makan dalam diam, hampir setengah jam mereka semua selesai menghabiskan makanan yang ada dipiring.
Ken memainkan ponselnya sesaat lalu menyimpannya kembali, tak lama, Bas melihat kondisi keadaan dimana Valerie dan Ella tengah sibuk berbincang. Bas menatap Ken dan mengangguk sekali dengan patuh.
Setelah dirasa cukup untuk mencerna makanan mereka, Ken terlebih dahulu berdiri. “Sepertinya kau masih ada kesibukan lain?” Tanya Ken. Mata tajam Valerie berdelik indah bagi Ken, wanita itu ikut berdiri dan meninggikan wajahnya.
“Ya, aku masih sibuk dan beberapa pekerjaan ku sudah menunggu, terimakasih untuk makan siang ini.” Ken tersenyum miring mendengar ucapan yang begitu berani.
Dengan santai mereka kembali kedalam mobil, Ken dengan rasa sabar yang masih tersisa duduk kembali dikursi bagian depan bersama Bas. Ia tak sabar memberikan pembalasan yang tepat untuk wanita sesulit Valerie.
Saat mobil sudah melaju terlalu lama, Valerie mengerutkan keningnya, ia merasa jalan ini bukan yang mereka lewati tadi. Jarak lokasi pemotretan dengan restoran tidak sejauh itu. Seketika Valerie panik dan menatap kearah Ken. “Ini bukan jalan kelokasi pemotretan!” pekik Valerie.
“Aku tidak mengatakan jika kita kan kembali ke lokasi pemotretan bukan?”
“Tuan, supir dan mobil kami ada disana.” Ella ikut membantu Valerie agar mereka dikembalikan pada tempat semula mereka. Namun, mobil itu malah memasuki kawasan elite dan menuju sebuah rumah besar, ini lebih dari sekedar rumah, ini lebih tepatnya sebuah mansion.
“Dimana ini?!” Tanya Valerie. Ken benar-benar sudah keterlaluan dan jika ini hanya lelucon sungguh tidak lucu.
“Ah, Bas. Sepertinya aku melupakan dokumen ku.” Ken terlebih dahulu membuka pintu mobil dan keluar, membuat Valerie yang geram ikut keluar dari mobil.
“Dimana ini Ken?!” Tanya Valerie kencang. Ella yang hendak mengikuti Valerie lebih dibuat bingung, ia berusaha membuka pintu namun terkunci, ia mencoba kembali namun tetap saja nihil.
“Maaf, aku ingin keluar dari sini.” Ujar Ella yang sudah sama paniknya dengan Valerie diluar sana. Bas tersenyum ramah dan mengucapkan kata yang begitu sopan pada Ella.
“Maaf nona, aku harus membawa mu jalan-jalan sebentar. Berikan mereka kebebasan untuk berbincang.”
“Memang mereka ada hubungan apa?” Tanya Ella.
Bas ragu untuk menjawab, namun ia harus tetap menjelaskan agar Ella mengerti dan membantunya. “Mereka sepertinya memiliki hubungan special. Aku sudah beberapa kali mengantarkan tuan ku untuk menemui nona Valerie."