
Jessy dan Alicia sudah duduk diruang tamu, memberikan sekotak kecil hadiah pernikahan untuk Valerie dan Ken. Kotak berwarna hitam dengan hiasan pita kecil berwarna gold.
"Tebak apa yang kami berikan?" tanya Jessy ceria dan tersenyum berasamaan dengan Alicia.
"Jam tangan?" tebak Ken, kado pernikahan pun masih menumpuk dikamar tamu, satupun belum mereka buka dan hari ini bertambah satu bahkan harus menebaknya.
"Kunci mobil?" tebak Valerie. Keduanya menggelengkan kepala, lalu Alicia mengambil kotak itu kembali dan membukanya perlahan. "Taraa. Tiket bulan madu."
"Kami memesan paket paling mewah untuk kalian, selamat berlibur selama satu minggu." pekik Jessy. "Besok pagi kalian mulai pergi." lanjut Jessy.
Ken mengerjapkan matanya beberapa kali, rasa terkejut tampak diraut wajahnya. "Mom, tapi aku hanya ambil cuti tiga hari, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."
"Sayang, daddy mu sudah mengatasi itu semua. Kalian terlalu sibuk dengan pekerjaan kalian, bersenang-senang lah berdua untuk seminggu ini." jawab Alicia.
"Mom." lihir Ken. Valerie mengelus telapak tangan Ken dengan lembut, menampilkan senyum yang begitu menenangkan.
"Terimakasih para mom ku, kami akan langsung bersiap malam ini." jawab Valerie senang.
___
Perlahan kaki Valerie melangkah menuju keluar kamar, menuruni setiap anak tangga dan berhenti didepan ruang kerja Ken. Terdengar suara jari yang tengah sibuk mengetik.
"Ken, kau bekerja?" tanya Valerie pelan saat tangannya sudah membuka lembut pintu ruangan. Ken yang tengah fokus tampak terkejut dan menatap Valerie dengan tajam, namun melembut kembali.
"Kau belum tidur, sayang?" tanya Ken, sedikit menjauhkan jarinya dari laptop dan memandang Valerie yang tengah berjalan kearahnya.
"Aku menunggu mu." Valerie berhenti dibelakang tubuh Ken, jemarinya hinggap di bahu lebar pria itu, memberikan sedikit pijatan yang mungkin saja membuat relax tubuh Ken. Namun, bagi Ken Valerie tengah menggodanya, memberikan sentuhan lembut di tubuh dan menciptakan suasana panas.
Dengan begitu pelan Ken menahan tangan Valerie, tersenyum kecil. "Aku harus menyelesaikan ini, kau tidur lah sekarang, aku akan menyusul."
"Bukan kah ada sekertaris dan beberapa karyawan yang bisa menggantikan mu? ini hari cuti dan-"
"Aku tidak bisa mempercayai semua nya pada mereka sayang, bagaimana pun aku harus tahu perkembangan perusahaan selama aku cuti, tidak boleh ada yang berani mengambil keputusan selain aku." Valerie menghembuskan nafasnya pelan, kecewa dengan sikap sekaligus penolakan yang Ken berikan. "Sekarang, kau tidur saja. Mulai besok waktu ku selama seminggu penuh hanya untuk mu."
Bibir Valerie sedikit cemberut, namun kepalanya mengangguk pelan dan lagi-lagi mencoba untuk mengerti, rasa kesal karena penolakan Ken membuat hatinya sedikit nyeri dan terpukul. Pasalnya, setelah menikah Ken tidak pernah mendekati nya, hanya percakapan ringan dan dipenuhi dengan kesibukan Ken yang selalu menyendiri diruang kerjanya. Begitu berbeda dengan setiap pertemuan mereka sebelum menikah, terkesan intens dan mendebarkan. "Baiklah, jangan terlalu larut, tidak baik untuk kesehatan mu." ujar Valerie yang langsung bersiap pergi dengan nada lesu.
Ken yang menyadari raut Valerie, menarik tangan itu untuk segera berbalik, menahannya pergi dan berdiri seketika, memberikan ciuman lembut di bibir Valerie. "Jangan marah, ini terakhir aku bekerja malam." bisik Ken.