The Little Devil'S

The Little Devil'S
Bab 242



...WELCOME BESTIEEE🖤...


...APA KABAR NICHHH? BTW UDAH JOIN GRUB SAMA FOLLOW INSTAGRAM KITA BELOM? BELOMMMM? WAHHHH JAHAD BINGIT WK YAUDAH YUKK YUKKKK...


...YUKKK FOLLOW YUKKK...


...@ARCELLAQUEENZIEG...


...@ARCELLAQUEENZIEG...


...@ARCELLAQUEENZIEG...


...@THEYCALLME.QUEEN...


...@THEYCALLME.QUEEN...


...@THEYCALLME.QUEEN...


...@THEYCALLME.QUEEN...


...@THEYCALLME.QUEEN...


...DI TUNGGU YAA!!!...


...BANYAK BACOT BANGET KAN AKU SENGAJA SI WKWK YAUDAH LANGSUNG AJA YUK YUK KE CERITANYA....


...KALIAN INGAT YA INGATTTT!!!...


...KALAU AKU TUH SELALU MANTAU KOMEN KALIAN WKWK, BTW BUKA IG KITA YA AKU KADANG BIKIN JEDAGJEDUG PARA ANAK-ANAK DAKJEL WKWK GAK DENG ANAK-ANAK AKUHH ANJASS...


...BESTIEEEEEEEEEEEEEEE........


...SPAMM KOMEN DONGGGGGG........


...KALIAN MAU PART APA GITU ATAU APA KEK BUAT KEDEPANNYA BIAR AKU DAPAT INSPIRASI GITU CERITANYA WKWKWK. LAGI BUTET BANGET NI OTAKKKK GAK BISA MIKIR JADI BANTU DONG HELP HELP HELPPPPPPP!!!!!!...


...🚫BACA NOTE JANGAN LUPA BIAR PAHAM DAN GAK DI KOMEN KARNA BAHASA ATAU LOKASI MEREKA!...


...BAKAL MAKIN BANYK BAHASA KASAR JADI DI MAKLUMI DAN JANGAN DI TIRU KARNA GAK BAIK BUAT DOSA KLEAN BAKAL NAMBAH BANYAK ☺️...



...PLAKKK...


...BRAKKK...


“Uhukk!!”


“Uhukk!!”


“Lep..uhukk..lepasi..sin!!” Muthia mencoba memberontak dari cengkraman Alana pada leher nya.


Saat wajah Muthia benar-benar merah berubah membiru Alana baru melepaskan cengkaraman itu, terhengal-hengal Muthia mencari nafas saat setelah tangan Alana menjauh dari lehernya.


“Oh ya, bonyok lo gak bakal nyariin lo lagi karna?” Alana menjeda ucapannya melihat reaksi marah dari wajah muthia,


“Karna lo udah di kira mati” Alana menepuk-nepuk pipi Muthia kasian.


“Bngst lo!! Psikopat!!!”


“Gue bakal bunuh lo!!!”


...PLAKKKKK...


“Sadar kondisi lo saat ini selain menderita ya pilihan lain nya mati, mau bunuh gue?” Alana mengambil salah satu cairan kimia di atas meja dan menumpahkan ke kaki Muthia yang tak berkuku,


“Arghhhhhhhhhhhhhh!! Sakit hikss sakit bngst arghh!!!”


“Gue benci sama lo!!!”


“Bngsy!!!” Alana mengcengkram pipi Muthia,


“Gigi lo?” Alana tersenyum senang,


“Cabut gigi nya!!” Perintah Alana.


Muthia gelapan namun tetap saja dia tak bisa kemana-mana selain duduk di kursi yang terikat dengan tubuhnya.


Jeritan-jeritan tak jelas keluar dari mulut Muthia yang merasakan sakit teramat sakit itu, Alana bertepuk tangan bahagia melihat Muthia menderita memohon pertolongan dan ampun.


“Cukup” perintah Alana lagi,


Sekitar enam gigi atas bawah sudah tercabut darah bercucuran dari mulut Muthia tangis yang tak bersuara akibat rasa sakit bukan membuat Alana kasihan malah membuat Alana ingin terus menerus menyiksa orang di depannya ini namun Alana harus menahan diri agar Muthia tak cepat mati.


“Aaakhh!!” Muthia mendongak ke langit ruangan karna Alana menjambak kencang rambutnya.


“Lo liat langit-langit ruangan ini sampe puas” Alana mengikat rambut Muthia ke kursi.


“Pliss!! Lepasin gue hikss gue gak kuat!!!”


“Gue salah gue minta maaf!!”


“Gue janji gak bakal ganggu lo sama Harsa!! Plis pulangin gue hiks!!”


“Lo mau pulang?” Tanya Alana,


“Gue mau pulang hikss gue mau pulang!!!”


“Oke!!!” Ujar Alana lalu meminta penjaga untuk mengasah kembali belati-belati yang ada di atas meja.


“Bawa salah satu sandera” perintah Alana.


Sandera di bawa dan di letakkan di depan Muthia persis depan Muthia sesuai perintah Alana, Alana bakal menguliti sebagian tubuh sandera ini memberikan contoh kalau ingin pulang ya harus begini.


“Lo!! Lo mau apain dia!!!”


“Lo mau pulang kan?”


“Mau!!” Alana tersenyum senang.


Sandera itu merintih kesakitan tapi dirinya tak bisa bersuara karna pita suaranya di potong oleh Galaxy kemarin karna seketika mood Galaxy ancur dan tak suka mendengar kebisingan.


“Gila!!”


“Lo beneran gila!!”


“Dia manusia!!! Lo psikopat!! Pembunuh!!”


Alana menatap sekilas Muthia tanp Muthia sadari Alana telah memotong daging bahu sandera itu kecil-kecil.


“Alana!! Jangan gila itu manusia!!!” Ucap Muthia namun sedetik kemudian,


“Hue...” Alana menutup mulut Muthia dengan tangan sandera yang sudah tak bernyawa karna menderita rasa sakit akibat hampir setengah badannya sudah tak memiliki kulit.


“Telen!!”


“Umm ummm”


“Telen!! Mau gue masukin lagi”


“Pinterr”


“Jaga jangan sampai Raka turun ke bawah!” Terdengar suara Varez yang tak jauh dari Alana,


“Ayo pulang! Nanti kecapean!!” Ajak Varez,


“Bersih-bersih dulu tapi” Varez mengangguk.


Varez berjalan ke arah meja mengambil katana dan meminta penjaga untuk mendirikan tubuh sandera yang sudah tak bernyawa itu lalu menebasnya seperti menebas daun potongan demi potongan berjatuhan setelah di tebas.


Muthia menjerit takut dan ngeri karna dia baru pertama kali melihat orang dj bunuh secara brutal di depan matanya. Dia menyesal benar-benar menyesal telah menganggu Alana.


Dalam benaknya berulang kali dia berpikir apakah bisa di ulang kembali waktu beberapa minggu ini agar dia tak slaah pilih lawan, dia menyesal sungguh kalau tau bakal seperti ini lebih baik dia mencari cowok lain dari pada memaksa bersama Harsa.


“Kenapa? Takut?” Muthia tak menjawab pertanyaan Varez.


“Makanya di kasih peringatan pertama jangan ngelunjak!!”


“Gue mau pulang hikss gue takut!! Gue nyesal tolong bantu gue hikss”


“Semangat” ucpa Varez lalu berjalan meninggalkan Muthia yang menjerit ketakutan apalagi mayat sandera itu masih tergeletak di depannya.


“Bang”


Panggil Raka saat naik ke atas, untung tadi Varez sempat cuci tangan karna terkena darah.


“Kenapa?”


“Kata ka Ala baliknya ke tempat bang Harsa dulu”


“Ka Ala dimana?”


“Di ruangannya tadi dia bilang tunggu bentar sekalian cek berkas” Varez mengangguk.


“Lusa singa yang di rumah pindahin ke hutan lindung” perintah Varez,


“Baik tuan muda”


Satu jam berlalu, Alana baru saja menyeelsaikan semua file yang di ceknya bahkan terdengar beberapa kali terdengar suara Alana yang marah akibat beberapa berkas itu salah dan meminta anak buahnya membenarkan.


“Galak banget kak” ujar Raka,


“Kalo gak kaya gitu!! Kebiasaan salah bikin rugi” kesal Alana,


“Jarang-jarang juga kan”


“Iya jarang karna gue jarang ngecek makanya gitu!!” Varez menggaruk tengkuknya karna memang benar yang di ucapkan Alana.


Alana jarang mengecek berkas-berkas seminggu sekali baru dia cek bahkan dua minggu sekali akan dia cek alhasil menumpuk.


...🖤JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN🖤...