
"kalian ini kenapa?" tanya Alex dan Ravka kompak.
Mendengar kekompakan dua kakak beradik itu membuat Nadira serta Alea semakin terbahak-bahak.
"Seharusnya pertanyaan itu di tujukan untuk kalian berdua," celetuk Alea setelah ia berhasil meredakan tawa.
Alea mengelap sudut matanya yang berair. Ia meletakkan piring dan sendok ke hadapan Ravka, memberi kode lewat tatapannya pada sang suami untuk menghabiskan makannya sendiri. Pun dengan Nadira yang sudah merebut sendok dari tangan Alex dan meneruskan makannya sendiri.
"Besok jangan lupa, pagi-pagi ada meeting dengan jajaran dewan direksi. Aku tidak mau lagi meng-handle pekerjaan mu," cicit Ravka seraya melemparkan tatapan jengkel pada Alex.
"Payah, dasar gila kerja. Ini di meja makan. Bisa gak kalau gak bahas pekerjaan di sini," decak Alex tak kalah jengkel.
"Aku hanya mengingatkan. Aku tidak mau selalu dijadikan bantalan mu."
"Aku rasa sudah saat nya kamu mengambil alih perusahaan. Kamu memang lebih kompeten dari segala sisi untuk memegang posisi sebagai CEO Dinata Group," celetuk Alex membuat kedua Alis Ravka menukik.
"Enggak ... enggak ... Enak aja. Sebagai cucu tertua itu sudah jadi tanggung jawab kamu," bantah Ravka cepat.
"Dari dulu sampai sekarang, kamu yang lebih banyak berjasa untuk perusahaan. Bahkan sejak awal kamu memang sudah dipersiapkan oleh Kakek untuk mengambil alih perusahaan. Jadi aku akan mengembalikan apa yang memang sudah menjadi hak kamu."
"Tapi kenyataannya sekarang kamu yang memegang posisi CEO. Dan tidak ada yang mempermasalahkan hal itu. Lagipula selama kamu menjadi CEO, nilai saham perusahaan meningkat signifikan. Jadi kamu memang sudah pas berada di posisi itu."
"Dari awal saya sudah bilang kalau saya akan mengembalikan posisi itu kepada kamu," ucap Alex mulai tidak sabar dengan perdebatan panjang mereka yang tak pernah berujung setiap kali ia mengungkit hal ini.
"Saya heran sama kamu, di luar sana banyak orang yang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan posisi sebagai CEO. Bahkan terkadang mereka rela berbuat licik untuk mendapatkannya. Aku memberi kehormatan itu kepada untuk mendapatkannya dengan cara yang baik."
"Saya juga heran sama kamu, Mas. Di luar sana orang rela melakukan apa saja agar bisa mempertahankan posisi penting itu. Kamu justru mau melepaskannya begitu saja."
Alea dan Nadira kembali menggelengkan kepala mereka melihat tingkah konyol suami mereka. Keduanya kompak bangun dari tempat duduknya dan bersiap untuk beranjak pergi dari dapur meninggalkan kedua kakak beradik itu yang asik berdebat.
"Hey, kamu mau kemana?" tanya Alex seraya menarik tangan Nadira.
Begitu juga dengan Ravka yang turut menarik tangan Alea menghentikan langkahnya.
"Kalian selesaikan saja perdebatan kalian. Kami mau nonton dulu," celetuk Alea santai.
"Yuk Nad, Tiara sama Sandra pasti udah nungguin kita dari tadi," ajak Alea seraya berlalu begitu saja dari dapur.
"Oh iya, aku hampir lupa kalau malam ini kita ada janji nonton bareng di kamar Tiara," timpal Nadira yang melepaskan genggaman tangan Alex di lengannya.
Wanita itu melenggang santai menyusul Alea yang sudah terlebih dahulu meninggalkan para suami mereka yang terperangah.
"Nadira tunggu," ucap Alex meninggalkan Ravka begitu saja demi menyusul istrinya.
Sementara Ravka mengedikkan bahu dan melanjutkan makannya. ia sudah tau kalau para wanita itu sudah berkumpul dia hanya bisa gigit jari dan akan diabaikan hingga tengah malam.