PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 47# Pedih



"Akhir-akhir ini kesehatan Kakek semakin menurun." Suara Alex terdengar berat saat menceritakan kondisi Kakek Bayu.


Nadira menatap Alex lekat saat laki-laki itu menjeda bicaranya. Alex seolah ragu dengan apa yang akan ia sampaikan. Membuat Nadira semakin ketar ketir dengan permintaan lelaki itu.


"Aku mau kita temui Kakek dan mengatakan kepada Beliau, kalau kita bersedia memenuhi permintaan terakhirnya."


Nadira tampak mengerutkan dahi saat ia tak dapat mencerna kemana arah pembicaraan Alex. Nadira masih mengingat jelas permintaan Kakek Bayu saat ia mengunjungi laki-laki berusia senja itu. Namun, ia tidak yakin bahwa Alex bersedia memberikan kesempatan kedua untuk pernikahan mereka.


"Aku ingin kamu meyakinkan Kakek, kalau saat ini kita sedang mencoba untuk memulai kembali dari awal. Mencoba untuk saling mengenal satu sama lain sebelum memutuskan kemana arah pernikahan kita ini," ucap Alex dengan pasti.


Hati Nadira berdesir manakala mendengar penuturan Alex. Angannya seakan dilambungkan ke awan saat menyadari bahwa sang suami bersedia memberinya kesempatan kedua.


"Setidaknya, sampai aku mengetahui ... apa yang kamu serta keluargamu rencanakan sekarang?!" Alex menambahkan dengan sinis.


Seketika Nadira serasa dihempaskan dari ketinggian yang melambungkannya. Ia tak menyangka bahwa Alex masih berpikiran buruk tentangnya. Perempuan itu sempat mengira bahwa sang suami menolong ia dan ibu nya karena iba pada kondisi mereka, tapi ternyata Alex masih belum bisa mempercayai dirinya.


Tentu saja Nadira dapat memaklumi hal itu. Hanya saja rasa pedih tetap menyapa hati hingga membuat sudut matanya berkabut.


"Bukannya kamu lihat sendiri, Mas, kalau tadi aku sama Genta bertengkar. Aku tidak lagi mau terlibat persoalan Papa dan Genta," ucap Nadira dengan suara bergetar.


"Siapa yang bisa menjamin kalau pertengkaran kalian tadi itu sungguhan? Bisa saja itu bagian dari drama yang sudah kalian rancang," jawab Alex ketus seraya menyesap sisa teh di cangkirnya.


Sekuat tenaga ia tahan bulir bening yang siap berhamburan dari kedua bola mata. Ia tak boleh menujukkan kelemahannya. Alex berhak berkata apapun mengenai dirinya. Bagaimanapun, kesalahannya cukup besar untuk bisa dimaafkan dengan mudah.


Namun, Nadira bertekad akan menunjukkan pada Alex bahwa ia sungguh-sungguh menyesali perbuatannya terdahulu. Meski, perempuan berkulit putih bersih itu menyadari, bahwa hal itu bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan, tapi setidaknya ia patut mencoba.


"Aku tahu tak mudah bagi Mas Alex untuk mempercayaiku setelah semua yang sudah aku lakukan. Tapi pertengkaranku dengan Genta tadi itu sungguhan," lirih Nadira.


"Jangan berharap aku bisa mempercayaimu begitu saja. Aku sempat terenyuh dengan apa yanh terjadi padamu dan Mama. Tapi aku juga tidak sebodoh itu untuk percaya begitu saja," ujar Alex sambil lalu.


"Aku mengerti dan bisa memakluminya, Mas. Aku tetap berterima kasih dengan semua yang sudah kamu lakukan tadi, terlepas dari tujuanmu melakukannya. Terimakasih sudah bersedia membantu kami," ucap Nadira tulus dari dasar hati.


Hanya keheningan yang menjawab ungkapan Nadira. Semakin lama kabut di sudut mata Nadira mulai menebal. Sesegera mungkin ia merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Selamat malam, Mas," ucap Nadira seraya menarik selimut dan meringkuk memeluk guling.


Nadira menyembunyikan wajahnya di balik bantal. Membiarkan air matanya luruh membasahi sarung bantal hingga ia benar-benar terlelap dengan rasa pedih yang tak terperi.


Sementara Alex melemparkan tatapannya kehamparan langit malam melalui dinding kaca di kamarnya. Matanya menerawang jauh menelaah setiap kata dari bibir Nadira yang terdengar sendu di telinganya.