PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 89#



"Is, lu yakin mau satu mobil sama Pak Alex?" Bisik Aviva seraya menyikut Ais. 


"Udah ikut aja. Gue penasaran sama mereka," jawab Ais turut berbisik.


"Lu gak pernah denger? Orang yang terlalu kepo itu bisa berakhir mengenaskan."


"Ga usah ngarang. Ayo buruan," ucap Ais seraya menyeret Aviva agar mempercepat langkahnya menyusul Nadira. 


"Nad, kita beneran gak apa-apa kalau ikut?" tanya Ais berbasa-basi. 


"Gak apa-apa kok. Kan bisa sekalian lewat pertigaan sana," ucap Nadira seraya tersenyum. 


Namun, senyum itu menghilang seketika saat matanya bersitatap dengan Alex. 


"Mana kunci mobilnya?" tanya Alex seraya menadahkan tangan. 


Nadira merogoh ke dalam tas nya dan meraih kunci mobil. Ia meletakkannya di tangan sang suami tanpa bicara sepatah kata. 


"Pak, tolong mobilnya langsung antar ke rumah saja," perintah Alex pada seorang pria yang setia berdiri di samping mobil Alex. "Mobilnya yang itu," tunjuk Alex pada mobil Nadira. 


"Baik, Pak. Saya langsung berangkat. Permisi Bu," ucap sang sopir seraya memberi hormat pada Alex dan Nadira dengan membungkukkan tubuh. 


Tanpa dikomando ke empat orang itu langsung memasuki mobil. Alex pun langsung melajukan mobil yang dikendarainya dengan Nadira duduk di kursi penumpang di sebelahnya. Sementara Ais dan Aviva duduk di kabin belakang. 


"Kamu masih marah?" tanya Alex sembari menatap lurus ke depan memperhatikan jalan yang cukup padat. 


"Kenapa aku harus marah?" ketus Nadira. 


"Kamu dari tadi hanya diam dan cemberut. Apa namanya kalau bukan marah?"


Alex menarik nafas panjang, saat ucapannya tak ditanggapi sama sekali oleh Nadira. 


"Aku tidak ada hubungan apapun sama Thalita. Dia hanya teman lama ku saat pertama kali aku pindah kesini dari Amerika. Aku tidak punya banyak teman waktu itu. Aku menghargainya karena itu. Tidak lebih."


"Itu menurut kamu, tapi tidak menurut Thalita. Dia terobsesi sama kamu, Mas? Kamu nyadar gak sih?"


"Terus kamu mau aku bagaimana? Apa perlu aku minta Elroy untuk memecat dia?" 


"Enggak begitu juga maksud aku. Aku hanya tidak mau kamu dekat-dekat sama dia, Mas. Dia merasa selama ini kamu memberikan kesempatan untuk dia mendekati kamu," ketus Nadira seraya menghela nafas kasar. 


"Aku akan temui dia besok dan minta supaya dia menjaga jarak dengan ku."


"Tidak perlu," sambar Nadira cepat. 


"Terus aku harus bagaimana?" tanya Apex pasrah. 


"Jangan pernah temui dia lagi." 


Baru kali ini Alex memanggilnya dengan sebutan honey. Membuat ia salah tingkah. Hatinya menghangat dan kemarahan memudar seketika. Nadira merasa sudah seperti perempuan tak berpendirian hanya dengan sedikit kata-kata manis sang suami. 


"Kau menggemaskan kalau sedang cemburu. Aku menyukainya," kekeh Alex di sampingnya. 


"Apa maksudmu bicara begitu, Mas?" ketus Nadira seraya memukul lengan Alex. 


Alex meraih jemari tangan Nadira. Membawa tangan itu menyentuh bibirnya dan mengecup jemari itu lembut. 


"Itu artinya kamu benar-benar mencintaiku," bisik Alex di sela ciumannya pada jemari Nadira. 


"Ehem ...." Aviva tiba-tiba menyela kedekatan Nadira dan Alex dengan memberi kode. 


Sudah cukup baginya menjadi penonton drama percintaan yang disajikan oleh Alex dan Nadira. Tingkah mereka seolah remaja kasmaran yang tak memperdulikan lingkungan sekitar termasuk keberadaannya dengan Ais di kursi belakang.


Sementara di depan, Nadira menarik tangan nya dari genggaman Alex. Ia merutuki kebodohannya yang hampir melupakan keberadaan kedua temannya. Nadira tak bisa berbohong kalau ia memang kerasa kesal dengan kelakuan Thalita hingga mengedepankan amarah dan melupakan teman-temannya. 


"Maaf, Nad. Tapi ... kita sudah melewati bengkel dekat pertigaan," ucap Aviva tak enak hati. 


Aviva sebetulnya sudah dari tadi ingin meminta Alex memberhentikan mobil. Namun, melihat perdebatan Nadira dan Alex, membuat Aviva bingung bagaimana cara menyela perdebatan mereka.


"Maaf yah Av. Gue lupa," ucap Nadira seraya menoleh pada kedua temannya. 


Wajah Nadira nampak merah padam menahan malu. Ia menyengir lebar dengan tak enak hati sembari melemparkan tatapan permohonan maaf. 


"Enggak apa-apa kok, kita turun disini saja."


"Saya akan putar balik di depan dan mengantar kalian ke tempat tujuan," sambar Alex dari depan. 


"Eh, tidak apa-apa, Pak. Kita turun di sini saja. Tidak perlu repot-repot," timpal Aviva. 


"Tidak repot kok. Saya yang harusnya minta maaf. Oh iya, tidak usah pakai pak. Panggil saja Alex."


"Kita mana berani seperti itu, Pak," sambar Ais.


"Tidak usah sungkan. Kalian teman istriku, berarti teman ku juga," ujar Alex santai. 


Sontak Aviva dan Ais saling menoleh dengan jantung berdetak cepat.


*********************************************


oh ya aku terima kritikan pedes loh yah.. kritikan soal isi novel bukan akunya yah.. hahahahahaaa


sorry hari ini agak kurang konsen.. mungkin feelnya ga dapet.. dan ga usah di tunggu yah.. hari ini kayaknya ga doble up dulu.. nyelesain satu bab ini aja ausahe poll