PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 25# Orang Gila



"Hei, sibuk banget kerjanya ... " sapa sebuah suara saat Nadira masih sibuk membereskan beberapa peralatan setelah selesai melakukan shooting.


"Eh, Elika?! Kapan dateng?" tanya Nadira sembari menuntaskan pekerjaannya.


"Baru aja. Nih aku bawain makanan buat kamu sama Bang Kemal. Makan bareng yuk," ajak Elika seraya mengangkat pepper bag di tangannya.


"Boleh ... Bentar yah, Gue simpen ini dulu," ucap Nadira sembari menunjukkan sebuah kotak di tangannya yang berisikan beberapa properti berukuran kecil yang sudah dirapihkannya.


Baru saja hendak berjalan menuju mobil box yang mengakut semua properti untuk di bawa kembali ke perusahaan, langkah Nadira terhenti. Thalita sudah berdiri seraya bersedekap di depannya dengan sorot mata penuh permusuhan.


Perempuan cantik yang selalu memberikan effort lebih untuk dandanannya itu, menyapukan tatapan pada Nadira dari ujung kaki hingga ujung rambut. Bibirnya tersenyum miring seolah mengejek Nadira.


"Pelet Lu kayanya tokcer juga yah. Penampilan Lu katro begini, tapi bisa membuat cowo-cowo ngelirik Elu."


"Maaf, Mba ... Saya ga ngerti maksud Mba apaan."


"Ga usah sok polos deh Lu. Gue itu tau banget modelan cewek kaya Elu."


"Heh, Tha. Udah deh, ga usah cari ribut. Ini tu tempat kerja," sambar Elika yang memang tak menyukai Thalita sejak awal.


Elika tahu betul perempuan seperti apa Thalita. Perempuan yang bersedia melakukan apa saja demi menjerat laki-laki berduit ke pangkuannya. Beberapa waktu lalu, Elika sempat mati-matian menghalangi perempuan itu untuk mendekati kakaknya. Sekarang entah apa lagi yang diinginkan oleh perempuan di hadapannya itu dengan mengintimidasi Nadira.


"Elika sayang ... Gue itu kesini, karena gue masih perduli sama elu. Gue mau kasih tau Elu supaya hati-hati sama ini cewek ganjen."


"Lu ga usah sama-samain deh, sikap orang lain kaya Lu. Ga semua orang punya kelakuan minus kaya Elu," tandas Elika membuat wajah Thalita merah padam.


"Heh ... Gue itu cuma mau ngingetin Elu. Bukannya terimakasih, malah belain cewek ga jelas kaya dia." Thalita meninggikan nada suaranya kesal sembari mengacungkan telunjuk tepat di depan wajah Nadira.


"Lu bakalan nyesel, nangis bombay, kalau ketahuan Kemal selingkuh sama ni cewek gaje. Lu ga tau kan, gimana mesranya mereka berdua kalau ga ada Elu?!" seru Thalita seraya mendelik tajam.


"Maksud Lu, gue mesra-mesraan kaya begini?" sambar Kemal yang langsung merangkul bahu Nadira.


Ketiga perempuan itu dibuat kaget dengan kedatangan Kemal yang tiba-tiba. Tanpa canggung Kemal membawa Nadira serta Elika ke dalam rangkulannya. Membuat Thalita menautkan kedua alis merasa heran dengan sikap Elika maupun Nadira yang terlihat biasa. Tak ada sedikitpun guratan marah tercetak di wajah Elika. Pun dengan Nadira seolah biasa mendapat perlakuan Kemal seperti itu di hadapan kekasihnya.


Sontak ketiganya terbahak-bahak mendapat reaksi Thalita yang keki.


"Ya iyalah ... Gue mesti gila, kalau ngadepin orang gila," ketus Kemal berharap perkataannya masih dapat ditangkap oleh telinga Thalita.


"Udah Bang ah, jangan usil," ujar sang kekasih seraya melepaskan rangkulan Kemal di bahunya.


Pun dengan Nadira yang juga sudah menghindar dari Kemal. Meski ia sadar bahwa Elika tak pernah memperlihatkan kecemburuan pada dirinya, tapi ia harus sadar diri untuk bisa bersikap pantas selayaknya seorang teman terhadap Kemal di hadapan Elika demi menjaga perasaan gadis itu.


"Kamu ngapain, Yang kesini?" tanya Kemal menatap lembut sang kekasih.


"Mau ngajak kalian makan bareng," jawab Elika seraya memperlihatkan pepper bag di tangannya pada Kemal.


"Kebetulan Aku laper. Sayangku ini emang perhatian banget deh. Makin cintaaaa Aku ... "


"Gombal ... " pungkas Elika cepat.


"Apa sih, orang serius malah di bilang gombal." Kemal menjawil hidung Elika.


"Udah, kalian mojok aja deh di sana. Polusi udara tau ga sih, liat kemesraan kalian," sindir Nadira seraya menunjukkan kursi di pojokan taman yang mereka jadikan sebagai lokaai shooting produk dari BeTrust.


"Jiah ... ada yang cemburu," ledek Kemal seraya terkekeh. "Makanya ga usah sok jual mahal, biar bisa mesra-mesraan juga kaya kita," tandas Kemal lagi seraya memainkan alisnya naik turun beberapa kali.


"Serah Elu deh. Otak gue ga mesum kaya Elu," sambar Nadira seraya ngeloyor pergi dari hadapan Elika dan Kemal.


"Loh ... Kita ga jadi makan bareng nih?" tanya Elika saat melihat kepergian Nadira.


"Duluan aja, tar gue nyusul," ucap Nadira dengan suara agak kerasa tanpa menoleh.


"Yaudah yuk, kita makan disana aja." Tunjuk Kemal pada bangku yang tadi disebutkan oleh Nadira. Keduanya kemudian beriringan menuju bangku taman.