PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 92#



Nadira menarik nafas panjang sebelum menaiki anak tangga. Saat berangkat ke kantor, ia tak pernah terpikirkan bagaimana reaksi teman-temannya setelah mengetahui hubungan dengan Alex. 


Namun, sikap Rani tadi membuat ia mau tak mau jadi memikirkan Aviva dan Ais. Ia tiba-tiba terbayang bagaimana canggungnya dua temannya itu saat turun dari mobil. Ia pikir itu hanya karena keberadaan Alex di sana. Tak terpikirkan sekali bahwa statusnya sebagai istri Alex bisa mempengaruhi mereka. 


"Pagi," sapa Nadira riang saat telah berhasil menyingkirkan segala kekhawatiran dan pikiran buruk dari kepala.


"Pagi," balas beberapa rekan kerjanya yang sudah duduk di meja kereka masing-masing. 


Akan tetapi, suara yang terdengar hanya suara dari para rekan kerjanya yang lelaki. Sementara Ais dan Aviva membungkam rapat mulutnya. 


Nadira melirik keduanya yang tertunduk sambil saling lirik. Ketegangan tak bisa ditutupi dari dua orang yang duduk tegak di kursinya masing-masing. 


"Ada apa sih? kok kayanya tegang banget?" bisik Nadira pada Aviva yang kursinya persis di sebelah perempuan dengan pipi tirusnya itu. 


"Eh?" Aviva mengangkat kepala gelagapan saat Nadira menegurnya. 


Ia tak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan Nadira. Tentu saja ketegangan itu dikarenakan kehadiran perempuan yang masih menatapnya penuh tanya. 


Melihat Aviva yang terbengong-bengong menatapnya membuat Nadira menyadari penyebab ketegangan dua temannya itu. Ia kembali menarik nafas panjang lantaran tak tahu harus seperti apa menanggapi sikap Ais dan Aviva.


Perempuan itu akhirnya memutuskan untuk menduduki kursinya sendiri dan mulai bekerja. Mengalihkan Kecanggungan dengan fokus menyelesaikan tugas-tugasnya yang menggunung.


"Nad, apa bisa kita bicara sebentar?" tanya Aviva beberapa saat kemudian. 


Nadira memperhatikan Aviva sudah berdiri di depan meja kerjanya bersama Ais di samping perempuan bertubuh mungil itu. Ia dapat menangkap kegugupan yang tak dapat keduanya tutupi dengan baik. Butir keringat sebesar biji jagung terlihat jelas di dahi Ais. Sementara tangan Aviva tampak memilin jari-jarinya demi mengusir gugup. 


"Tentu saja," jawab Nadira seraya menyunggingkan senyuman tulus di bibirnya. 


Ia berharap senyuman itu bisa sedikit mengurai ketegangan yang melingkupi Ais serta Aviva. 


"Kita mau minta maaf atas sikap kita selama ini," ujar Aviva cepat. 


"Saya juga mau minta maaf karena sudah menyebarkan rumor yang tidak baik tentang kamu," timpal Ais hampir menangis.


Ia berusaha terdengar santai di depan dua wanita yang di hadapannya itu. Berharap dengan begitu keduanya juga bisa berbicara dengan santai. 


"Maaf karena saya gak tau kalau kamu itu sebetulnya Ibu Sherly Adijaya, istrinya Pak Alex," lanjut Ais.


Nadira menghela nafas panjang mendengar ucapan Ais. Sepertinya Ia memang tak bisa menganggap santai ketakutan yang dirasakan oleh temannya itu. 


"Duduk dulu deh, baru kita ngomong lagi," ucap Nadira kemudian. 


Keduanya langsung menarik kursi dari meja kerja mereka masing-masing ke hadapan Nadira. Kemudian duduk di kursi itu seraya tertunduk malu. 


"Saya minta maaf sudah mengatakan hal-hal yang tidak baik tentang Bu Sherly," ucap Ais setelah terdiam cukup lama.


"Lu itu gak salah. Sherly memang wanita yang tidak layak untuk dipuji. Gue akui, dulu itu gue memang sombong, keras kepala, dan suka seenak sendiri. Tapi Sherly yang seperti itu udah gue kubur. Dihadapan kalian sekarang adalah Nadira yang cukup sadar diri dengan kesalahan-kesalahannya selama ini," jelas Nadira panjang lebar. 


Nadira menjeda bicaranya. Ia dapat menangkap keheranan dari dua orang di depannya. Keduanya terperangah mendengar penuturannya yang panjang lebar. 


"Jadi gue harap, kalian tetap melihat gue sebagai Nadira, bukan sebagai Sherly. Dan tetap bersikap seperti sebelum kalian tahu siapa gue sebetulnya. Gue mau kita tetap berteman seperti biasa," ujar Nadira menutup penjelasannya. 


"Jadi lu gak marah sama kita berdua?" sambar Aviva cepat yang dijawab oleh Nadira dengan gelengan kepala. 


"Kamu mau maafin kesalahan saya yang udah nyebarin rumor jelek tentang kamu?" ucap Ais seraya menarik tangan Nadira dan menggenggamnya dengan erat. 


Sorot mata Ais memancarkan pengharapan membuat Nadira tersenyum seraya mengangguk dan berkedip sebagai tanda mengiyakan pertanyaan Ais. 


"Tapi bisa gak ngomongnya biasa aja. Gak usah pakai kamu-kamuan segala. Rada risih dengernya. Udah kaya ngomong sama pacar aja sih," kelakar Nadira seraya tergelak. 


Ais mengangguk cepat seraya tersenyum. "Makasih banyak yah, Nad," ucap perempuan itu kemudian. 


"Gue kapok deh, ngegosipin orang yang gak dikenal. Secara apa yang gue omongin dulu sama apa yang gue saksiin itu beda banget. Makasih yah, Nad. Gue lega," tambah Ais lagi. 


Nadira hanya tergelak diikuti oleh Aviva yang ikut terbahak-bahak. Sontak para pria menoleh pada mereka bertiga dengan tampang heran.