
"Sayang, kamu tunggu di rumah aja yah," ucap Alex dengan raut wajah khawatir.
"Mas, aku mau ikut. Aku tidak mau sampai terjadi sesuatu sama Vanya," jawab Nadira keras kepala.
"Kamu tidak usah khawatir. Aku sudah meminta seseorang untuk mengawal Vanya. Jika terjadi sesuatu di rumah papa kamu, dia pasti akan menyelamatkan Vanya dengan taruhan nyawanya sendiri."
"Aku lebih tau seberapa kejam keluarga ku, Mas. Genta bukan orang yang mudah dikelabui. Aku sendiri yang harus menghadapi Genta jika Vanya tidak berhasil."
Alex nampak menarik nafas panjang akan keteguhan Nadira. Wanita lembut penuh perhatian di hadapannya ini bisa menjadi sosok yang sangat keras kepala. Alex sadar betul dengan sikap Nadira yang satu itu.
Meski kini istrinya sudah bertransformasi menjadi sosok wanita lemah lembut dan penurut, tapi sikap keras kepalanya tak serta merta hilang begitu saja. Jika ia sudah memutuskan sesuatu maka akan sulit merubah pendiriannya.
"Apa kamu tidak mempercayai bahwa aku tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada teman mu?" desah Alex pasrah.
"Aku justru sangat mempercayai kamu, Mas. Makanya aku akan ikut, karena aku tahu kamu pasti akan menjagaku dengan baik. Lagipula, aku memang harus bertemu dan berbicara dengan Genta," ucap Nadira dengan sorot mata penuh tekad.
"Baiklah, kalau begitu. Kita berangkat sekarang. Aku yakin Vanya serta Rico juga sudah dalam perjalanan. Tapi aku mau kamu berjanji untuk mengutamakan keselamatan kamu dan bayi kita di atas segalanya," ucap Alex mengultimatum.
Nadira mengangguk dengan cepat menyetujui apapun persyaratan dari suaminya. Setidaknya ia tak akan membiarkan orang lain dalam masalah hanya karena ingin membantunya.
Keduanya menarik nafas panjang sebelum akhirnya mereka keluar apartemen. Nadira sudah menyiapkan rencana yang matang untuk mengecoh Genta. Beruntung Alex mendapat info juka saat ini ayahnya sedang berada di luar negeri.
Ia sendiri tak yakin, bagaimana Genta sebenarnya. Apakah ia juga hanya korban kebengisan ayah mereka sama seperti dirinya? Tak adakah sedikit cinta Genta untuk ia dan ibunya? Ataukah itu hanyalah sebuah harapan semua yang terus di pupuk oleh ibunya. Nadira hanya punya satu kesempatan untuk membuktikannya.
"Jangan terlalu tegang. Aku tidak mau terjadi apa-apa sama kamu dan calon anak kita."
Lagi-lagi Alex mengingatkan Nadira. Lelaki itu meraih tangan Nadira dan menggenggam erat tangannya. Pikirannya terlalu sulit untuk ia kendalikan. Tentu saja mendatangi Genta di rumahnya sama saja menabuhkan genderang perang. Hanya saja, melihat tekad Nadira yang sekeras baja, membuat Alex harus mengalah.
"Aku mengerti, Mas. Jangan terlalu khawatir. Jujur saja aku tidak yakin Vanya akan berhasil dengan misinya. Karena itu kita perlu rencana cadangan. Satu-satunya rencana cadangan yang bisa mengelabui Genta adalah dengan kehadiran ku di sana. Setidaknya kita bisa membuat Genta tidak menyadari tujuan kita sebenarnya."
"Aku paham. Aku hanya meminta kamu untuk berhati-hati."
"Bagaimanapun Genta adalah Kakakku. Aku tidak yakin kalau dia bisa menjadi begitu kejam padaku. Tapi entahlah jika ada papa, Genta bisa menjadi orang yang sangat menakutkan," lirih Nadira dengan mata berkaca-kaca.
"Apa kamu pernah dengar, darah itu lebih kental dari pada air?" tanya Alex seraya menatap wajah Nadira.
Nadira hanya mengernyit mendengar penuturan suaminya.
"Aku mungkin tidak terlalu menganggap penting istilah itu. Tapi aku bisa merasakannya sendiri bahwa hal itu benar adanya. Kamu tahu kan bagaimana hubungan ku dengan Ravka yang tak pernah baik sejak kami remaja? Tapi lihat lah sekarang bagaimana kompaknya kami berdua. Karena kenyataannya kami saling terikat satu sama lain. Darah Dinata sama-sama mengalir di nadi kami."
Nadira mengerti apa yang ingin disampaikan oleh suaminya. Tentu saja hal itu membuat Nadira semakin yakin untuk melangkah.