PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 78#



"Santai aja, Bro. Enggak usah tegang-tegang amat," sambar Kemal saat melihat ketegangan di wajah Alex begitu melihatnya.


"Tuh tangan dipakein lem?" tanya Kemal seraya tergelak saat menunjuk genggaman tangan Alex dan Nadira. 


"Memang salah kalo pegang tangan istri sendiri?" balas Alex menantang membuat Kemal terbahak-bahak. 


"Wow … udah ada yang berani ngaku nih kayak nya," sindir Kemal dengan wajah tengilnya. 


Sementara Elroy mengerutkan dahi mendengar Alex dan Kemal saling sindir. Jantungnya seakan dialiri kejut listrik yang membuatnya shock. Ia kembali mereview semua tuduhan yang sempat  dilayangkannya pada Nadira. 


"Ish … kamu, Bang. Senengnya ngeledek orang mulu. Duduk dulu Nad. Capek kali berdiri," ucap Elika berusaha mencairkan suasana.


Sementara Nadira menarik tangannya dari genggaman tangan Alex dan membuat lelaki itu memberinya tatapan tidak suka.  


"Mas, kenalkan. Ini Om Firman, orang yang sudah sangat berjasa menolong aku serta mama saat memutuskan meninggalkan rumah papa. Ini anaknya, Kemal, yang sudah aku anggap seperti kakakku sendiri. Ini Elika tunangannya. Dan ini kamu sudah kenal sendiri. Pak Elroy ini adalah kakaknya Elika. Aku sengaja mengajak mereka makan di sini untuk membalas kebaikan mereka pada aku dan mama, sambil membahas resepsi pernikahan Kemal dan Elika bulan depan," ucap Nadira sembari menunggu seorang pelayan restoran menyiapkan tambahan kursi bagia ia dan Alex.


Alex sempat menautkan kedua alisnya mendengar ucapan Nadira. Namun, hal itu membuat wajah tegang Alex sedikit mengendor. Ia lantas menjabat tangan Om Firman kemudian beralih kepada yang lain. 


"Kamu dengar sendiri, aku ini sudah menjadi kakaknya Nadira. Jadi sebaiknya jaga sikapmu pada Nadira. Aku tidak akan tinggal diam, jika kamu berani menyia-nyiakan adikku," ucap Kemal tajam sembari mempererat genggaman tangannya.


Di sebelahnya, bola mata Nadira nampak berkaca-kaca mendengar ucapan Kemal. Rasa haru menyeruak dalam dada membuat hatinya menghangat. Sementara Alex hanya melayangkan tatapan datar lantaran masih belum bisa menentukan sikap. 


Ia akui, selama seminggu menghindari Nadira membuat rindu semakin menggebu. Ada rasa tak percaya berbalut kecewa. Namun, semakin menyadari rasa yang memenuhi rongga dada. Membuat Alex semakin gelisah. Ia akhirnya memilih untuk mengabaikan segala ucapan Kemal yang ditujukan padanya. 


"Ma, aku sebenarnya mau pamit. Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan dengan Mas Alex. Maaf tidak bisa menemani mama lebih lama," ucap Nadira mengalihkan perseteruan antara Kemal dan suaminya yang mulai terasa melalui tatapan mata mereka.


"Iya enggak apa-apa kok. Toh masih ada lain waktu untuk kita bersama lebih lama. Mama sudah cukup bahagia kamu tetap menyempatkan diri mengajak mama jalan-jalan," ucap wanita paruh baya itu bijaksana. 


"Beres," jawab Kemal santai. 


"Om, maaf aku harus pulang duluan," ucap Nadira tak enak hati. 


"Tidak apa-apa, Nad. Hati-hati yah," ucap Om Firman. 


"Aku duluan yah, El," ucap Nadira kemudian. "Permisi Pak, saya duluan." Nadira mengalihkan tatapannya pada atasan sekaligus pemilik perusahaan tempatnya bekerja. 


Lelaki itu hanya menganggukkan kepala dengan raut wajah yang sulit di baca. Akan tetapi, Nadira dapat melihat keterkejutan di sana, membuat Nadira menjadi canggung dan semakin tak enak hati pada Elroy. 


Namun, saat ini yang terpenting bagi Nadira adalah menyelesaikan masalah antara dia dengan Alex. Urusan dengan Elroy masih bisa menyusul. Lagipula tidak ada pelanggaran kontrak pekerjaan yang ia langgar dalam hal ini. 


"Saya permisi, maaf karena kami harus pulang lebih dulu," ucap Alex ditujukan kepada semua orang di sana.


Ia lantas berdiri dan kembali meraih tangan Nadira dan membawanya ke dalam genggaman tangannya. Meski, Kemal sudah memproklamirkan diri sebagai kakak Nadira, tapi Alex dapat melihat wajah Elroy yang seakan kecewa mendapati kenyataan tentang hubungannya dengan Nadira. Setidaknya ia harus menegaskan pada lelaki bahwa saat ini, tak ada peluang baginya mendekati Nadira. 


Alex dan Nadira lantas meninggalkan restoran setelah menemani Nadira membayarkan tagihan di kasir. Meski Alex sempat ingin membayarkan tagihan itu, tapi Nadira berkeras ingin membayarnya sendiri. 


"Kali ini aku akan membiarkan kamu menolak aku seperti sebelumnya, tapi tidak untuk lain kali," ucap Alex bernada misterius. 


*********************************************


maaf yah telat ada sedikit kendala pas mau kirim naskah.. tapi tetep aku kirim malem ini yang penting.. masih jam 23:10


doakan ide lancar dan mengalir biar besok pagi2 udah bisa kirim bab baru