PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 64#



Nadira berusaha fokus pada pekerjaannya. Suasana di sekitar terasa dingin dan gerah pada saat bersamaan. Cuaca panas, tapi serasa membeku oleh kesunyian.


Tak ada satupun temannya berani bersuara sejak kedatangannya. Mereka seolah ketangkap basah melakukan sebuah dosa. Dosa ghibah teman sendiri. Padahal, Nadira sengaja memasuki ruangan saat teman-temannya tak lagi membicarakan dirinya. Namun, tak urun membuat ke empat orang temannya itu diam seribu bahasa seolah tak enak hati. 


"Nadira, bisa ikut saya ke ruangan?" suara Elroy membuat Nadira terperangah. 


"Iya Pak," jawab Nadira cepat seraya menyusul Elroy ke ruangan pimpinan perusahaannya itu.  


"Silahkan duduk," ucap Elroy saat melihat perempuan yang dipanggilnya itu sudah berada dalam ruangannya. 


"Apa kamu tau untuk apa saya memanggil kamu kemari?" tanya Elroy berbasa-basi, saat Nadira sudah mendaratkan tubuhnya di kursi depan Elroy. 


"Tidak, Pak," jawab Nadira seraya menggelengkan kepala. 


Wajahnya menunduk sembari menahan gugup yang menyerta. Entah apalagi kini yang harus ia hadapi, pikir Nadira. Ia mulai merasa lelah dengan semua persoalan yang seakan tak ada habisnya. 


"Saya rasa kamu pasti sudah tau, kalau saat ini kamu sedang menjadi bahan perbincangan di kantor ini," ucap Elroy tiba-tiba. 


Spontan Nadira mengangkat kepala. Raut wajahnya seakan tak percaya mendengar apa yang baru saja di ucapkan oleh atasannya itu. 


Nadira tak habis pikir, bagaimana masalah pribadi bisa membuat seorang pimpinan perusahaan seperti Elroy turun tangan langsung. 


"Saya tidak mau masalah pribadi kamu sampai membuat gaduh di kantor saya. Sebaiknya kamu selesaikan masalah kamu di luar dan jangan bawa masalah kamu ke kantor ini," tutur Elroy tanpa basa-basi. 


"Maaf Pak, tapi saya tidak pernah merasa membawa masalah pribadi saya ke kantor ini. Jadi saya tidak tahu apa yang perlu saya selesaikan," ucap Nadira. 


"Pak Alex itu adalah client penting D' Advertising. Saya tidak mau skandal yang kalian buat mempengaruhi pekerjaan," ucap Elroy dengan tatapan menghujam. 


"Saya tidak sedang membuat skandal apapun, Pak," ucap Nadira membalas tatapan Elroy tak kalah garangnya. "Seharusnya, kalau Bapak merasa risih dengan gosip yang ada, Bapak tegur mereka yang bergosip di kantor ini. Apa yang mereka bicarakan itu tanpa dasar dan tidak ada bukti sama sekali. Seharusnya di sini saya yang tidak terima dengan apa yang terjadi," ucap Nadira berusaha menahan nada suranya tetap rendah, tapi penuh penekanan.


Tak salah perempuan dihadapannya ini naik pitam kalau dia hanyalah korban fitnahan untuk kesekian kalinya oleh Thalita. Namun, ia sendiri sudah dua kali ini tak sengaja mendengar para karyawannya membicarakan Nadira. 


"Saya tidak mungkin menegur banyak orang sekaligus. Karena itu saya memanggil kamu untuk mengklarifikasi," jawab Elroy berusaha santai menghadapi emosi Nadira.


"Mohon maaf sekali lagi, Pak. Tapi saya tidak merasa Bapak sedang mengklarifikasi. Saya merasa sedang dihakimi atas sesuatu yang tidak saya lakukan. Saya rasa akan jauh lebih baik Bapak menegur banyak orang yang salah ketimbang Bapak menegur satu orang yang tidak bersalah."


"Saya mohon maaf jika sudah menuduh kamu tanpa bukti. Tapi saya tidak tahu duduk persoalannya jika kamu tidak berbicara kebenarannya seperti apa."


"Saya rasa, saya punya hak untuk tidak membicarakan ranah pribadi saya di sini. Tapi bisa saya pastikan, saya bukan simpanan siapapun," tegas Nadira lagi. "Saya bersedia di berhentikan, kalau memang ketidaksediaan saya membicarakan urusan pribadi tidak bisa diterima oleh kantor ini," imbuh Nadira lagi. 


Elroy cukup kaget dengan ketegasan Nadira. Egonya seolah tersenggol dengan keberanian Nadira melawannya. Namun, di sisi lain ia tertarik dengan sikap yang Nadira perlihatkan. Ia sosok wanita tangguh yang tak mudah ditindas dan dilibas. ia begitu pongah mempertahankan harga diri, membuat Elroy semakin penasaran akan sosok Nadira. 


"Saya tidak mungkin memecat kamu tanpa alasan dan bukti yang jelas," ucap Elroy kemudian. "Tapi saya peringatkan kamu untuk berhati-hati dalam bersikap, sehingga tidak menimbulkan kegaduhan."


Nadira hanya terpaku memdemgar penuturan atasannya itu. Terkikis sudah harapan Nadira untuk bisa bekerja dengan tenang dan nyaman. 


"Baik, Pak," jawab Nadira dengan berat hati. 


Meski ia tak melakukan kealalahan sama sekali, tapi ia tetap harus bisa bersikap merendah. Bagaimanapun ia hanyalah seorang karyawan biasa. 


"Silahkan kembali ke tempat kamu," ucap Elroy kemudian. 


Nadira membawa tubuhnya menjauh dari ruangan atasannya itu dengan perasaan tak menentu. Ia bersyukur emosi sesaat yang membuatnya berani menantang Elroy tak menyulut kemarahan lelaki itu. Hingga ia masih tetap bisa bekerja di tempat ini. 


Nadira membayangkan, bagaimana jadinya jika ia benar-benar kehilangan pekerjaannya. Sementara ada satu hal yang harus perempuan itu persiapkan untuk membuat Ibunya terbebas dari jeratan Ayahnya untuk selama-lamanya. Namun, ia tak akan bisa berbuat apa-apa jika kembali menjadi pengangguran.