PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 40# Pembangkang



Nadira semakin memacu larinya saat dari kejauhan ia melihat siluet lelaki berperawakan seperti Genta berdiri di depan rumahnya bersama wanita yang kini paling dikasihinya.


Hati Nadira berdenyut di tempa kekahawatiran berlebih. Baru saja mereka akan merasakan kenikmatan merengkuh kehidupan baru yang jauh dari tekanan Genta juga Ayahnya.


Kini ia harus kembali dihadapkan pada dua lelali yang memberi andil besar bagi kekacauan hidupnya.


"Sebaiknya Mama ikut aku pulang sekarang," seru Genta seraya menarik lengan Ibunya.


"Mama mau tunggu adik kamu dulu. Mama tidak mau kalau sampai adik kamu pulang ke rumah dan tidak menemukan Mama di sini. Ia akan panik," desah Shinta berupaya menarik lengannya yang dicengkeram erat oleh putra sulungnya.


"Rumah? Mama bilang ini rumah? Ini bahkan lebih buruk dari kandang burung Papa. Bagaimana Mama sama Sherly bisa bertahan di tempat kumuh seperti ini?!"


"Ini tempat tinggal yang jauh lebih baik buat gue sama Mama, dari pada harus kembali ke istana yang menjadikan kami sebagai boneka tak berharga," sambar Nadira yang sudah berdiri tepat di belakang Genta.


Genta menghentakkan lengan Ibunya dan memutar tubuhnya menghadapa adik perempuannya. Dengan mata menyalang ia berupaya mengintimidasi perempuan yang tampak terlihat kuyu dari terakhir kali mereka bertemu.


"Mungkin lu benar, sangkar burung milik Papa jauh lebih baik dari pada rumah ini. Tapi seindah apapun, sangkar itu hanyalah sebuah belenggu menuju kebebasan," lanjut Nadira menunjukkan ketidaksuakaannya akan kehadiran Genta dengan segala sikap arogannya.


"Sudah berani ngelawan Lu sekarang? punya apa Lu sampai berani nentang gue sama Papa?" hardik Genta tampa tedeng aling.


"Gue punya cinta yang tulus dan begitu besar dari Mama. Itu sudah cukup buat gue mempertahankan kebahagian yang sudah kami raih selama keluar dari kehidupan kalian," seru Nadira melawan.


"Persetan sama Lu. Gue hanya mau bawa Mama pulang. Kalau Lu masih mau tinggal sama Mama, Lu ikut Gue. Kalau enggak ucapkan selamat tinggal untuk selamanya sama Mama." Genta kembali menghadap pada Shinta dan menarik lengan Ibunya ke dalam genggaman tangannya.


Setengah memaksa, Genta berupaya menyeret Ibunya pergi. Namun, Nadira dengan sekuat tenaga mencoba melepaskan tangan Genta dari Ibunya.


Hampir saja Nadira tersungkur ke jalanan kalau saja tak ada tubuh kekar yang menahan bobot tubuhnya yang terhuyung ke belakang. Beruntung Alex dengan sigap menghampiri Nadira saat ia melihat dari kejauhan kondisi yang dihadapai Nadira semakin tidak kondusif.


Sedari tadi lelaki itu hanya melihat dari kejauhan dan berusaha mencari informasi apa yang terjadi dengan mencuri dengar pertengkaran kakak beradik itu. Suara mereka yang menggelegar terdengar cukup jelas hingga menembus gendang telinga Alex yang berdiri beberapa rumah dari rumah Nadira.


lelaki itu juga sempat melongok sekitar. Ia melihat beberapa pasang mata mencoba mencuri pandang dari balik pintu rumah mereka masing-masing. Namun, tak satupun diantara mereka yang menghampiri dan mencoba membantu Nadira dan Ibunya. Bahkan ada diantara para penonton itu justru memperlihatkan raut wajah yang merasa terganggu dengan adegan yang dipertontonkan oleh Genta.


"Lepaskan Mama," seru Alex sembari masih memegang erat bahu Nadira dalam pelukannya.


"Mau apa Lu di sini?


"Gue mau jemput Mama dan Nadira pulang. Jadi Lu ga perlu bawa Mama pulang. Mama akan tinggal sama Gue dan Nadira," seru Alex tepat di telinga Nadira.


Nadira menatap wajah sang suami penuh tanya saat mendengar ucapan yang meluncur dari bibir Alex. Belum hilang rasa terkejutnya saat Alex tiba-tiba menangkap tubuhnya yang terhuyung. Sekarang ia semakin dikejutkan dengan pernyataan Alex yang terdengar tidak masuk akal.


"Ga usah Lu ikut campur masalah keluarga Gue. Lu hanya orang luar yang tidak punya hak apa-apa di sini. Jadi lebih baik Lu minggat dari sini sekarang juga."


"Apa Lu lupa, kalau Gue sudah menikah sah secara hukum sama adik Lu. Itu artinya Gue jauh lebih berhak atas Nadira daripada Elu. Dan sebagai menantunya Mama, itu menjadikan gue sebagai anaknya juga. Tidak akan ada yang berhak ngelarang Mama untuk ikut Gue dan Nadira tinggal bersama."


Genta mengetakan rahanya dengan keras saat melihat tekad kuat dari sorot mata pemuda di hadapannya itu. Lelaki itu sama sekali tak menyadari rencananya hari ini akan berantakan karena kehadiran Alex. Sosok yang sudah mengacaukan kehidupan keluarga Genta.


Ia masih ingat dengan jelas ketika Ferdi bercerita, bagaimana sikap Alex yang mengancam Ayahnya itu dengan segala usaha ilegal yang sudah dialihkan di bawah tanggung jawab Genta seutuhnya.


Kemarahan Ayahnya kala itu, memantik dendam yang semakin mendarah daging pada sosok Alex. Apalagi ia bisa membuat seorang Sherly Nandira Adijaya yang begitu penurut pada ia dan Ayahnya menjadi sosok pembangkang.