PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 110#



Nadira duduk diam dalam mobil di samping Alex. Meskipun Alex menjemputnya dengan membawa mawar, hati Nadira tetap tak bisa tenang begitu saja. Ia bisa merasakan bahwa ada hal tak baik yang sedang terjadi. Namun, ia berusaha menenangkan hati yang terus bergejolak. 


"Hei, kamu kenapa diam saja dari tadi? Apa ada sesuatu yang membuat kamu tidak nyaman?" tanya Alex seraya melirik sekilas istrinya. 


Nadira tak tahu apakah sekarang adalah saat yang tepat untuk menanyakan  masalah di kantor Alex atau ia menunggu saja sampai pria itu yang akan menceritakannya sendiri. 


"Memangnya Mas Alex mau mengajak ku kemana?" tanya Nadira mengalihkan pikirannya dari hal-hal buruk.


Saat ini yang terbaik adalah menikmati kebersamaannya dengan Alex. Baru kali ini sang suami menjemputnya di kantor dengan sebuket mawar cantik yang tak pernah lepas dari genggamannya.


Nadira menghidu aroma Mawar merah yang merekah. Memberikan sensasi yang membuat hatinya seakan diliputi kebahagiaan. 


"Aku tidak ingin mengecewakan istriku yang sudah berdandan cantik hari ini. Tentu saja aku akan mengajak mu makan malam," ucap Alex seraya menyeringai.


Nadira balas menyeringai pada suaminya. Nadira sudah melupakan niatnya mengerjai sang suami hari ini karena pikirannya yang berkelana.


"Kamu mau makan apa?" tanya Alex kemudian.


"Memangnya Mas Alex kepengen makan apa?" tanya Nadira balik.


"Kamu," jawab Alex cepat. 


"Hmmm?" Nadira mengerutkan dahi. 


"Aku kepengennya makan kamu. Tapi karena aku belum makan dari siang, jadi sebaiknya kita makan dulu. Oke," ucap Alex santai tanpa menyadari bahwa perkataannya membuat wajah Nadira memerah. 


"Jadi kamu kepengen makan apa?" tanya Alex sekali lagi. 


Nadira berpikir sejenak. Jujur saja, sejak kedatangan Alex ke kantornya, Nadira dapat merasakan cacing-cacing di perutnya mulai berdemo anarkis di dalam sana. Ia tak dapat memikirkan satu restoran pun yang bisa memanjakan lidahnya secepat mungkin dan membungkam para cacing dalam perut agar berhenti berteriak meminta jatah.


"Bagaimana kalau hari ini kita makan pecel ayam?" tanya Nadira saat sebuah ide melintas begitu saja. 


Duduk manis, tak perlu jaga image dan makan dengan lahap. Nadira tersenyum lebar hanya dengan membayangkannya saja. Sudah lama juga ia tak menikmati makan di pinggir jalan seperti dulu. Membuat rasa rindu itu semakin menggebu. 


"Pecel Ayam? Makanan apa itu?" tanya Alek menautkan kedua alisnya. 


"Itu makanan terlezat untuk saat ini, Mas. Aku juga kelaparan. Aku bahkan belum makan dari tadi pagi. Pecel ayam dengan nasi uduk dan sambal menggugah seleraku saat ini."


"Kamu belum makan dari tadi pagi?" tanya Alex tak percaya. 


Nadira hanya menampilkan deretan gigi putihnya menjawab pertanyaan Alex. 


"Aku tidak suka kamu seperti ini. Apapun yang terjadi, sesibuk apapun kamu, makan adalah yang paling utama. Jangan sampai kamu sakit hanya karena kamu mengabaikan soal makan. Lain kali, aku tidak akan mengizinkan mu bekerja kalau kamu sampai mengabaikan kesehatan mu," omel Alex panjang lebar. 


Sementara wanita yang sedang di marahi itu tak merasa kesal dengan ocehan Alex tersebut. Nadira justru nampak senang dengan perhatian yang dicurahkan oleh pria yang sedang fokus menatap jalanan di hadapan mereka. 


Melihat sikap Alex tersebut membuat hati Nadira menghangat. Tak ada perubahan sedikitpun yang diperlihatkan oleh Alex. Membuat Nadira menyadari bahwa kegalauannya sejak siang tadi hanyalah hal yang sia-sia belaka. 


"Iya maaf, aku tidak akan mengulanginya," ucap Nadira menghentikan omelan Alex yang bersiap meluncur dari bibir pria itu.  


"Jadi Mas Alex mau gak makan pecel ayam?" tanya Nadira dengan nada manja.


"As you wish, My Dear," ucap Alex melunakkan suaranya.


Meski makanan yang tadi disebutkan oleh Nadira terdengar aneh ditelinga Alex, tapi kedatangannya ke kantor sang istri adalah untuk menyenangkan wanita itu. Tentu saja apapun keinginan Nadira akan menjadi titah yang tak akan dibantahnya.