PERFECT IMPERFECTION

PERFECT IMPERFECTION
PI 5# Cinta Sejati



"Cinta seorang Ibu tidak pernah pamrih, Sayang. Selama kalian bahagia, itu udah cukup untuk Mama. Kehadiran kalian adalah anugrah terindah bagi Mama," ucap Shinta merujuk pada Nadira dan Genta, Kakak lelaki Nadira satu-satunya.


"Tapi Mama juga berhak untuk bahagia," isak Nadira.


Shinta lantas melepas rengkuhan pada putrinya seraya melemparkan senyum yang memancarkan kebahagiaan. Perasaan bahagia saat mendapat cinta dan perhatian dari sang putri yang telah lama didambakannya.


Ditatapnya penuh haru wajah yang masih basah oleh air mata. Dengan penuh kelembutan Shinta menangkup pipi Nadira.


"Berbahagialah, maka Mama juga akan bahagia. Bahagia mu adalah bahagia Mama, penderitaanmu adalah


penderitaan Mama. Jadi jika kamu ingin Mama bahagia, maka berjanjilah pada Mama untuk mengejar kebahagiaan mu sendiri." Shinta kembali menyunggingkan senyum tulus yang terpancar dari sorot matanya untuk sang buah hati.


Nadira menatap takjub Wanita yang begitu berarti dalam hidupnya. Wanita yang membuka matanya akan makna cinta sejati. Cinta yang tulus dari hati tanpa berharap balasan yang sama dikemudian hari. Hanya memberikan ketulusan segenap hati meski harus berkorban jiwa dan raga.


"Nadira janji, Ma. Nadira akan bahagia dan tidak akan pernah menyia-menyiakan pengorbanan Mama," Lirih Nadira dengan sorot mata penuh tekad yang kuat.


Gadis berhidung bangir itu meyakinkan diri akan membalas semua cinta yang sudah dicurahkan oleh sosok lembut dihadapannya. Kelembutan seorang Ibu yang baru disadari olehnya akhir-akhir ini.


"Kalau begitu tersenyumlah. Senyum akan mendatangkan bahagia yang tumbuh dari sini." Shinta menepuk pelan dada Nadira.


Gadis itu langsung mengikuti perminataan Sang Ibu. Mengayunkan bibir hingga tercipta seringai lebar yang menghangatkan keduanya.


********


Nadira baru saja mengganti pakaian rumahannya dengan sebuah jeans belel serta T-Shirt yang sudah sering dikenakannya. Ia tengah bersiap untuk pergi melihat-lihat pasar malam yang tadi sempat di katakan oleh Ibunya.


"Saatnya hunting baju baru." Nadira menyeringai seraya mematut dirinya di depan cermin yang digantung di dinding kamar.


Tentu saja jiwa perempuan gadis itu yang suka berbelanja tak serta merta hilang begitu saja, meski hidupnya kini merana. Sudah berabad-abad rasanya ia tak menyalurkan hobinya yang satu itu. Hanya kali ini, ada semangat yang berbeda. Jiwanya kian tertantang untuk bisa memanfaatkan apa yang ia punya untuk memenuhi apa yang ia butuhkan.


Bagi seorang Sherly Nandira, tak ada kata berburu diskon di kamusnya. Kapan saja dan berapa saja yang ia butuhkan untuk memenuhi jiwa sosialitanya, Ayahnya tak akan membatasi. Satu-satunya kebaikan yang dimiliki sang Ayah tercinta. Memberikan kartu kredit tanpa limit yang menjadi surga para wanita.


Namun, sebagai Nadira, ia tak lagi bisa berfoya-foya. Ia harus bisa memilih dan memilah. Mempertimbangkan apa yang ia perlu dan butuhkan dengan apa yang ia inginkan.


"Siapa yang dandan sih, Ma? Orang aku cuma pakai bedak sama lipstik doang. Masa begini dibilang dandan?" rutuk Nadira seraya memajukan bibirnya.


"Yaudah sana. Tar malah kemaleman ga bisa pilih-pilih lagi," tegur Shinta agar Nadira menyegerakan ritual berdandannya. "Oia, Nad, ga usah berhemat. Habisakan semua uang yang sudah Mama berikan tadi. Mama masih punya simpanan untuk kebutuhan kita sampai bulan depan. Jadi belilah semua yang kamu butuhkan. Ga usah terlalu banyak pertimbangan," desis Shinta mengingatkan anaknya.


Shinta sengaja menekankan pada Nadira agar bisa memanfaatkan beberapa lembar rupiah yang tadi diselipkan di tangan putri cantiknya. Hal itu tak lain karena kini putrinya punya satu kebiasaan baru. Gadis itu kini pandai berhemat.


Bahkan terkadang Shinta tak tega melihat sikap hemat gadis kecilnya yang sudah beranjak dewasa. Shinta sangat memahami bagaimana Nadira harus menekan keinginan juga kenyamanannya demi berhemat, agar mereka bisa bertahan di tengah himpitan hidup di kota besar yang terkadang tak berpihak pada rakyat jelata.


Menyadarkan kedua Ibu dan anak itu, bahwasanya diluaran sana begitu banyak orang tak dianugrahi keberuntungan seperti yang pernah mereka rasakan. Keberuntungan yang menaungi, dibalik segala kepahitan yang mendera.


"Titah Ratu akan hamba jalankan dengan segenap hati," ucap Nadira seraya menyilangkan tangan di depan dada.


"Mama itu serius. Mama itu tau banget, kalau kamu itu sekarang pelit sama diri kamu sendiri," omel Shinta seraya berdecak kesal.


"Iya Mama ku tersayang." ucap Nadira seraya mencubit gemas pipi sang Ibu yang mulai terlihat cerewet seperti Ibu-ibu pada umumnya.


Ibunya itu memang lebih cerwet dan bawel semenjak mereka hanya tinggal berdua dan saling memahami satu sama lain. Membuat hubungan keduanya justru menjadi semakin erat.


"Dah, Ma." Nadira mencium pipi Ibunya persis ditempat ia mencubitnya tadi.


Sang Ibu hanya semringah melihat kelakuan sang putri yang sudah melengos pergi.


"Yuk jalan," ajak Nadira pada pemuda bertubuh jangkung yang sedari tadi bersandar pada tembok depan rumah.


"Tante kita jalan dulu, ya," ucap pemuda itu seraya melambaikan tangan pada Shinta yang melihat keduanya dari dalam rumah.


"Hati-hati," ucap Shinta sebelum keduanya menghilang ditelan kegelapan malam.


Shinta sempat menangkap keduanya jalan beriringan, sebelum ia menutup pintu dan bersiap mengistirahatkan tubuh dan juga pikirannya.


Sementara, Nadira nampak berjalan riang disebelah pemuda yang mengenakan topi dan juga jaket denim. Keduanya asik bercengkrama sembari menyusuri gang sempit yang akan membawa mereka menuju pasar malam.