
"Kamu jadi bertemu Vanya di kantor ku siang ini?" tanya Alex santai sembari mengancingkan lengan kemejanya.
Alex baru saja keluar dari walk in closet dalam kamar. Ia masih tak memperhatikan sang istri yang masih asik merias wajahnya.
"Jadi kok, Mas. Nanti jam makan siang aku ke kantor kamu. Kemaren aku udah izin untuk keluar kantor siang ini dan balik telat," jawab Nadira setelah memulas lipstik di bibir.
Nadira tersenyum puas memperhatikan pantulan wajahnya di cermin. Wajahnya nampak lebih cerah. Sudah lama ia tak memulas wajahnya dengan make up lengkap, terutama bibirnya yang diberi warna pink cerah. Ia tampil sangat berbeda dari hari biasanya yang lebih sederhana dengan make up seadanya serta warna nude untuk bibirnya. Tentu saja hal itu meningkatkan kadar kecantikannya menjadi berkali lipat.
"Sempurna," ucap Nadira masih dengan senyum puas menggelayut di wajah.
"Apanya?" tanya Alex saat mendengar ucapan Nadira.
Tak ada sahutan dari istrinya itu hingga membuat Alex mengangkat kepala menatap Nadira penuh tanya. Matanya membulat sempurna melihat penampilan Nadira.
Wanita itu mengenakan blouse tanpa lengan dengan model V-neck berpotongan rendah hingga menyembulkan belahan dada Nadira yang menggoda. Alex menurunkan tatapan matanya pada rok span yang dikenakan istrinya itu.
Rok span selutut membungkus tubuh wanita cantik itu dengan ketat, hingga memperlihatkan bentuk tubuhnya yang sexy. Parahnya lagi, rok span itu memiliki belahan hingga ke pahanya. Membuat Alex semakin meradang.
"Kamu mau berangkat kerja pakai itu?" tanya Alex terperangah.
"Iya lah, Mas," ucap Nadira santai berusaha menutupi senyum kemenangan melihat reaksi Alex.
"Kamu mau berangka kerja atau mau ke pesta?" tanya Alex berang saat menatap wajah cantik Nadira yang sudah dipoles sempurna.
"Ganti ...." perintah Alex dengan nada meninggi. "Itu juga, apaan dandan seperti itu? Hapus make up nya."
"Aku udah telat, Mas. Gak sempet ganti. Lagipula gak ada yang salah dengan penampilan ku. Ini masih wajar kok. Kamu nya aja yang gak ngerti fashion wanita," ucap Nadira seraya mengenakan heels bewarna senada dengan rok yang dikenakannya.
Nadira langsung menyambar tas yang sudah ia siapkan di atas meja riasnya. Ia lantas mengambil blazer yang tersampir di sofa dalam kamarnya.
Wanita itu sibuk mondar-mandir, tanpa memperdulikan Alex yang sedang menahan emosinya. Ia menyampirkan blazernya di tangan kiri kemudian meraih tas dengan tangan kanannya.
"Aku berangkat dulu yah, Mas. Ada meeting pagi ini soalnya. Jadi aku buru-buru. Maaf yah, aku gak bisa temenin kamu sarapan pagi ini," ucap Nadira seraya mendaratkan kecupan di pipi Alex meninggalkan lipstik yang menempel di sana.
Bergegas wanita itu melangkah keluar kamar dan meninggalkan Alex yang terbengong di tempatnya.
"Siyal," umpat Alex kesal seraya mengelap bekas lipstik di pipinya yang terpantul di cermin.
Alex betul-betul kaget dengan penampilan Nadira yang membuatnya shock tanpa bisa berbuat apa-apa. Ia memang sudah terbiasa melihat para sekretaris di kantornya atau rekan bisnis berpenampilan seperti Nadira tadi, sehingga tak mempunya celah untuk membantah.
Hanya saja, rasa tak rela tiba-tiba menyeruak dalam dada jika Nadira lah yang mengenakannya. Tentu saja ia tak rela penampilan cantik istrinya itu menjadi santapan para pria di luar sana. Padahal selama ini, istrinya itu selalu berpenampilan tertutup dengan celana panjang serta blouse atau kemeja yang tidak terbuka seperti tadi.
"Argh ...." jerit Alex frustasi. "Aku benar-benar menyesal telah mengerjainya tadi malam," gumam Alex seraya menarik rambutnya kesal.