
Pagi ini mentari seolah enggan memandikan bumi dengan cahanya. Ia lebih memilih bersembunyi di balik awan, menghadirkan mendung yang membuat sebagian orang ikut bermalas-malasan memulai aktivitas mereka pagi ini.
Pun dengan Nadira yang nampak tak bersemangat. Tangannya sedikit bergetar saat membuka lemari di sudut kamar. Barang-barang miliknya ternyata masih tertata rapi di sana.
Nadira memilih sehelai baju untuk dia kenakan hari ini. Rasanya aneh setelah lama tak mengenakan pakaian lamanya yang bermerk. Ia kemudian mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi lalu membunuhi wajahnya dengan make up.
"Hari ini sebaiknya kamu tidak usah bekerja," ucap Alex saat melihat Nadira mematut dirinya di depan kaca.
"Tapi Mas, ada beberapa pekerjaan ku yang belum selesai. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku begitu saja," ucap Nadira beralasan.
Saat ini hanya kantorlah tempatnya menenangkan diri. Setidak ia bisa melupakan sejenak masalahnya dengan sang suami jika menyibukkan diri dengan pekerjaan.
"Bagaiamana dengan pipi mu? apa masih sakit?" tanya Alex yang sudah berdiri persis di belakang Nadira.
"Sudah enggak apa-apa kok, Mas," jawab Nadira dengan suara bergetar.
"Apa betul sudah enggak apa-apa?" tanya Alex seraya meraup wajah Nadira ke dalam rengkuhan tangannya.
Lelaki itu lantas mendekatkan wajahnya, agar bisa memperhatikan pipi Nadira lebih lekat. Bilak balik, Alex memperhatikan antara pipi kiri dan kanannya.
Sontak saja Nadira menahan nafasnya mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya.
"Aku beneran sudah tidak apa-apa kok, Mas," ucap Nadira semakin gugup.
Alex seolah tak menggubris ucapan Nadira. Lelaki itu terus saja mencari jejak memar yang tertinggal. Ia lantas mengusapkan ibu jarinya pada sudut bibir Nadira. Memastikan bahwa tak ada lagi luka yang menyakiti perempuan.
"Yah kurasa, kamu sudah tidak apa-apa," ucap Alex santai tanpa menyadari dampak yang ia buat pada Nadira.
Nadira memejamkan matanya sejenak, bersyukur bisa melewati ujian berat berdekatan dengan lelaki itu. Ujung-ujung jemarinya seolah habis tersengat listrik. Terasa kebas dan kaku.
"Kalau begitu cepatlah bersiap-siap. Aku akan mengantarmu ke kantor," ucap Alex seraya mengenakan jas.
"Tidak usah, Mas. Aku bisa berangkat sendiri kok. Kantor ku dengan kantor Mas Alex kan tidak satu arah," tolak Nadira halus.
"Pak Dito tidak mungkin lagi mengantarmu kemana-mana. Dia sekarang lebih sering mengantar Alea. Nanti aku akan minta Erwin untuk mencarikan mobil beserta supir untuk mu," ucap Alex santai.
"Tidak usah, Mas. Aku sudah biasa pakai kendaraan umum."
"Kamu pikir kendaraan umum melewati komplek perumahan sini?" ucap Alex tajam. "Lagipula rumah dengan kantormu cukup jauh. Akan repot menaiki kendaraan umum kalau sudah malam."
"Untuk sementara, aku bisa naik ojek, Mas. Sampai aku bisa menemukan kendaraan yang paling nyaman untuk pulang pergi dari sini ke kantor," sanggah Nadira.
"Apapun alasan kita bersama sekarang, kamu tetap menjadi tanggung jawabku. Jadi jangan buat aku seperti suami yang tidak bertanggung jawab dengan tidak memperdulikan mu," ucap Alex tak mau dibantah.
Nadira hanya melengkungkan tipis bibirnya tanpa menjawab sepatah kata. Meski sebetulnya Nadira masih enggan menerima tawaran suaminya itu.
"Kalau sudah siap, ayo kita berangkat sekarang," ajak Alex seraya beranjak ke luar kamar.
Nadira hanya mengangguk pasrah dan mengekori sang suami. Babak baru dalam kehidupan Nadira akan kembali di mulai. Entah apa yang akan menatinya di depan sana, Nadira tak bisa menebak. Ia juga tak bisa merencanakan apapun saat ini. Setidaknya ia akan menajalani segala sesuatunya semampu yang ia bisa.