
"Anda baik-baik saja, Pak?" tanya Aldi memperhatikan tulang pipi Alex yang memerah.
Alex hanya mengangguk pelan seraya berlalu dari sana. Aldi hanya menghela nafas pasrah saat dua orang yang tadi berseteru sengit berlalu begitu saja.
"Bubar ... bubar ... kembali selesaikan pekerjaan kalian," ucap Aldi saat Alex sudah beranjak pergi.
Lelaki itu menarik nafas panjang. Bagaimanapun Elroy harus mengetahui kejadian ini. Proyek ini merupakan proyek terbesar yang pernah mereka tangani. Ia tidak akan membiarkan kerja keras timnya sia-sia belaka. Pun dengan perusahaan Alex yang merupakan clien potensial yang semestinya harus mereka jaga dengan baik.
"Kemal kenapa bisa berkelahi dengan bos besar seperti Pak Alex, ya?" gumam Aldi pada dirinya sendiri. "Apa Sherly yang dimaksud Elika adalah Nadira?" Aldi berdecak kesal memikirkan apa yang baru saja terjadi.
Ia lantas bergegas meninggalkan taman tempat perkelahian berlangsung. Saat tengah tergesa berjalan menuju parkiran, Aldi melihat Nadira baru saja meninggalkan mobil box berisi properti shooting yang tadi mereka gunakan.
"Nadira tunggu," teriak Aldi manggil perempuan yang berjalan penuh semangat.
Nadira yang melihat Aldi melambaikan tangan padanya, berjalan cepat menghampiri atasannya itu. "Ada apa, Di?" tanya Nadira lembut.
"Maaf sebelumnya kalau kamu tidak berkenan dengan pertanyaanku. Tapi ini bisa mempengaruhi proyek yang sedang kita tangani," ucap Aldi tanpa berbasa basi.
Nadira memgernyitkan dahi kendengar penuturan Alex yang membuatnya bingung. Namun, ia hanya diam saja menunggu pertanyaan seperti apa yang akan dilayangkan oleh lelaki yang nampak gusar di hadapannya itu.
"Ada hubungan apa kamu dengan Pak Alex?" Pertanyaan Aldi membuat wajah Nadira memucat.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Nadira balik bertanya dengan suara bergetar.
"Apa kamu tahu?! Kemal tadi adu jotos dengan Pak Alex."
"Apa?!" pekik Nadira kaget.
"Aku juga sempat mendengar Elika menyebutkan nama Sherly setelah pertengkaran mereka. Apa itu kamu yang dimaksud Elika?" tanya Aldi menghiraukan keterkejutan yang ditampakkan oleh Nadira.
"A-aku ... Aku tidak tahu sama sekali. Aku akan menanyakannya pada Kemal dan Elika." Nadira bersiap meninggalkan Aldi dengan wajah pias.
"Mereka sudah meninggalkan tempat ini," seru Aldi menghentikan Nadira. "Sebaiknya kamu ikut aku. Kita akan temui Pak Elroy dan menyelesaikan permasalahan ini sekarang juga, agar tak berimbas pada proyek yang sedang kita kerjakan," tegas Aldi semakin membuat Nadira bergetar.
Perempuan itu hanya bisa menuruti perintah Aldi tanpa punya keberanian membantah. Wajahnya tertunduk dalam saat mengekori Aldi menuju kendaraan yang dibawa lelaki itu. Lagi-lagi perasaannya dibuat tak karuan akan kehadiran Alex kembali dalam kebidupannya.
"Kenapa sesulit ini hanya untuk memulai kehidupan baru. Kenapa kamu harus muncul kembali disaat aku baru saja akan menata hidup ku lagi, Mas," desah Nadira dalam hati.
Ia hanya bisa menghela nafas pasrah akan jalan takdir berliku yang harus di laluinya. Perempuam itu mencoba menyiapkan diri dengan segala kemungkinan yang terjadi. Bahkan mungkin akan berimbas pada pekerjaan yang sudah ia dapatkan dengan susah payah. Hanya saja, satu hal yang membuat hatinya terus bertanya. Apakah mungkin dirinya lah yang menjadi penyebab perkelahian antara Kemal dan Alex? Tapi karena apa? pikiran nadira terus berkecamuk. Membuat detak jantung semakin bergemuruh dalam dada.